
"Jadi ... bagaimana dengan Marshel?" Xavier bertanya seraya memotong daging stiknya yang terasa demikian empuk dan juicy tersebut. "Apa ada perkembangan yang ... cukup berarti dari lelaki yang satu itu?"
Yang ditanya hanya mampu menghela napas panjang. Boro-boro perkembangan ke arah yang lebih baik, apa yang terjadi adalah sebaliknya, di mana Jasmine merasa bahwa Marshel secara perlahan-lahan mulai menjaga jarak dari wanita yang satu itu. "Yah ... kalau kamu bertanya begitu, kurasa jawabanku adalah memang ada, tetapi bergerak ke arah yang tidak aku harapkan sama sekali, Xavier. Entah mengapa setelah Simon menghilang dan seluruh keburukan Raphael terbongkar, aku merasa bahwa Marshel mulai sedikit menjaga jarak dariku. Entah mengapa."
Xavier yang mendengarkan itu hanya bisa menghela napas panjang, rasa-rasanya, lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut dapat langsung mengerti apa yang sekiranya menjadi penyebab di balik Marshel yang secara perlahan-lahan mulai menjaga jarak dari Jasmine, dan tampaknya salah satu alasan sesungguhnya ialah Marshel adalah dalang sesungguhnya di balik hancurnya Raphael dan hilangnya Simon.
Namun tentu saja Xavier tidak bisa serta merta memberi tahu Jasmine apa yang sebenarnya terjadi, mengingat bisa saja wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri tidak percaya atas omongan Xavier alih-alih mengira bahwa sang Chief Executive Officer tersebut tengah berbohong keoada dirinya, dan selain itu janji sesama lelaki yang dipegang ketat oleh Xavier pun seolah-olah turut menjadi faktor mengapa Xavier merasa enggan untuk buka mulut mengenai hal tersebut.
__ADS_1
"Mhm ... kalau begitu apa rencanamu ke depannya? Maksudku ... setidaknya skandal yang sedang terjadi padamu yang melibatkan Amon itu kan sudah selesai, dan saat ini pun sepertinya Amon batal bercerai dengan Jessica, yang entah secara langsung atau tidak langsung juga menyelamatkan harga diri serta namamu, bukan begitu? Selain itu, kalau aku tidak salah ingat juga, kamu sempat berencana untuk melanjutkan hubungan kontrak kita hingga menjelang jenjang pernikahan. Itu juga bagaimana? Apa kamu ada rencana tentang yang satu itu?" Xavier bertanya sembari menyesap anggur merah yang ia pesan di restoran super mahal itu, menatap lurus ke arah Jasmine dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun itu.
Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis, lantas berdeham pelan, seolah-olah sebenarnya Jasmine tidak memiliki rencana sama sekali mengenai hal yang satu itu. "Sebenarnya jika kamu bertanya padaku secara tiba-tiba seperti itu, kurasa aku tidak akan bisa memberikanmu jawaban yang tepat, Xavier, mengingat aku sendiri masih menyusun rencana yang satu itu. Tetapi ..."
"Tetapi?" Xavier menaikkan sebelah alisnya, lantas menuangkan sebotol anggur merah kelas atas ke dalam gelas anggur milik Jasmine.
"Kurasa soal pernikahan akan aku beritahukan kepada Marshel, mengingat dirinya lah yang sebenarnya aku nantikan responnya. Kamu tahu sendiri, aku memang jatuh cinta padanya hanya saja jika hanya aku yang berjuang di sini ...." Jasmine mengelap bibirnya sendiri menggunakan sebuah serbet yang sudah disediakan oleh pihak restoran tempat kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut makan malam bersama. "Bukankah itu hanya akan menjadi hubungan cinta sebelah tangan? Karena itu aku berhenti, alih-alih memaksakan perasaanku terhadap Marshel, bukankah lebih baik membuat Marshel berpikir ulang untuk melepaskan aku begitu saja?"
__ADS_1
Mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Xavier kepada dirinya, Jasmine terdiam lagi, apa yang telah dikatakan oleh Xavier itu memang ada benarnya, bagaimana jika setelah Jasmine memberitahukan rencana pernikahannya dengan Xavier kepada Marshel, alih-alih bersikap cemburu atau kesal, lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut malah hanya akan semakin menjaga jarak dari Jasmine karena seperti apa yang telah dikatakan oleh Xavier, di mana Marshel memutuskan untuk menjaga jarak karena sadar bahwa lelaki tersebut sudah tidak memiliki kesempatan lagi?
"Eugh ... soal itu sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya, Xavier ... dia begini saja sebenarnya sudah membuatku merasa ragu setengah mati, apakah aku harus terus melanjutkan rencana ini atau tidak, tetapi jika tidak, sampai akhir pun aku tidak akan tahu apakah Marshel itu benar-benar mencintaiku atau tidak ...." Jasmine terlihat sangat-sangat galau saat ini, bahkan wanita itu sampai menundukkan kepalanya, memperlihatkan aura suram yang demikian kentara setengah mati, membuat Xavier menghela napas panjang. Yang benar saja.
"Jasmine, hei, tidak usah terlalu berprasangka buruk begitu. Lagipula apa yang aku katakan tadi kan hanya satu dari sekian banyak variabel masa depan. Anggap saja kamu sedang bermain game otome, memangnya kamu tahu apa yang akan terjadi berdasarkan jawabanmu saat ini? Tidak, kan? Anggap saja kita sedang bermain game, dan apa yang aku katakan tadi itu tidak pernah terjadi." Xavier terkekeh pelan, seraya mengelus lembut kepala Jasmine untuk menenangkan hati Jasmine yang sudah terlanjur galau dan kacau tersebut.
Jasmine menggembungkan pipinya sendiri, yang benar saja! Sudahlah Xavier yang membuatnya terlebih dahulu merasa panik dan tidak nyaman seperti ini, sekarang malah lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut malah berkata bahwa apa yang telah dikatakannya itu hanya merupakan satu dari sekian banyak variabel masa depan! Xavier memang menyebalkan! Setengah mati menyebalkannya, malah!
__ADS_1
"Kamu ini apa-apaan sih?! Kan kamu sendiri yang sebelumnya berkata padaku bahwa ideku ini bukan merupakan ide yang bagus lalu mengutarakan tebakanmu atas apa yang mungkin saja terjadi! Lantas mengapa sekarang kamu berkata bahwa itu hanya merupakan satu dari sekian banyak variabel masa depan yang mungkin saja akan terjadi? Pikiranku sudah terlebih dahulu memburuk, tahu!" Jasmine menggerutu seraya memukul-mukul pelan meja yang berada di hadapan sang nona muda tersebut dengan penuh rasa jengkel. "Aku sudah panik duluan, tahu!"
"Maaf, maaf, lagi pula melihatmu terlihat panik seperti itu entah mengapa menjadi hobi baruku."