
Tidak perlu memakan waktu yang demikian laa dan panjang hingga kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut sampai di restoran hotpot kesukaan Jasmine, yang memna tentu saja diketahui Xavier melalui hobi lamanya, yakni menguntit seluruh kegiatan Jasmine, yang tentu saja sudah tidak ia lakukan lagi sekarang, mengingat betapa menyedihkannya dan menyusahkannya lelaki tersebut di mata Jasmine pada saat itu.
"Kita sudah sampai," kata Xavier sembari turun dari mobil lantas membukakan Jasmine pintu untuk keluar dari mobil super mewah yang memang digunakan oleh lelaki yang satu itu, secara spsial digunakan hanya untuk menjemput Jasmine dari apartemen besar di tengah kota Florida yang memang dimiliki oleh sang selebritis muda. Xavier tersenyum seraya menggamit lembut tangan mungil nan ringkih milik Jasmine, membawa wanita yang demikian cantik itu ke dalam restoran kesukaannya, tentu saja tanpa lupa sama sekali untuk mengunci mobilnya sendiri, dan tentu saja mnenyerahkan kunci mobil super mewah tersebut ke tangan petugas valet parkir yang memang selalu tersedia di sana.
"Tidak heran kamu membawaku ke sini, Xavier, mengingat kamu adalah kolega lamaku sekaligus seseorang yang pernah menguntitku ketika sedang merasa bosan setengah mati, ini terasa masuk akal untuk ukuran orang sepertimu. Omong-omong kamu masih menyimpan salah satu hobimu, yakni menguntit seseorang, tidak? Aku merasa sedikit penasaran," goda wanita yang memiliki tatapan mata yang selalu terlihat lembut di matanya yang memiliki warna biru laut yang selalu erlihat berpendar dengan demikian indah tersebut.
Xavier menanggapi lelucon yang dilemparkan oleh Jasmine kala itu hanya dengan sebuah tawa kecil, sama sekali tidak berniat untuk memasukkan godaan ringan tersebut ke dalam hatinya, semenjak Jasmine memang sering menggoda lelaki yang masih berumur dua puluh tiga tahun tersebut dengan membawa apa yang pernah terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut. Yah, bagi Xavier, ini ialah salah satu dari sekian banyaknya hal lain yang membuat lelaki yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri merasa semakin kagum dan jatuh ke dalam pesona yang memang Jasmine miliki tersebut.
__ADS_1
"Yah, anggap saja begitu." Xavier menyahuti godaan terebut seraya menggamit tangan ungil milik sangg nona muda yang sering sekali bertingkah dengan demikian menggemaskannya itu ke dalam ruangan VVIP yang memang sudah terlebih dahulu dipesan oleh sang chief executive officer yang masih terlihat sangat-sangat muda tersebut spesial untuk membawa sang aktris muda yang ia puja dan kagumi untuk makan malam bersama.
"Ah, ya, aku juga sudah memesankan seluruh ruangan VVIP ini khusus untukmu mengingat kamu tidak pernah menyukai gangguan yang tidak jarang terjadi entah dari siapa ketika kamu sedang makan di tempat ini," lanjut lelaki yang satu itu seraya membiarkan Jasmine duduk di kursi yang juga sudah ia pesankan b eberapa saat sebelumnya itu.
"Kamu ini benar-benar mengerti aku, ya, Xavier? Walau kita berdua tahu bahwa ini hanya merupakan sandiwara kecil yang memang sengaja aku ciptakan, aku cukup terkesan ketika kamu sampai memperhatikan seluruh detailnya hingga nyaris tidak memiliki cela sama sekali," puji wanita yang memiliki tubuh yang tinggi dan ramping serta rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut, lagi-lagi tanpa Jasmine sadari telah membuat ribuan kupu-kupu kecil serasa beterbangan di dalam perut Xavier hanya karena menerima pujian kecil dari sang aktris kesukaan.
Xavier hanya bisa mengeluarkan kekehan pelan seraya menggaruk pipi lelaki tersebut hanya dengan jari telunjuknya saja, tanpa bisa atau pun mampu menahan pipinya yang mulai memerah penuh rasa malu tersebut. "Pujianmu kali ini benar-benar mengenaiku, kamu tahu, Jasmine? Pujianmu kali ini benar-benar menancap jauh di hati emasku ini, Jasmine, astaga," goda lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut yang kemudian langsung memasang senyum tulus di wajah tampannya itu. "Terima kasih."
__ADS_1
Kini giliran Jasmine yang tertegun sejenak, di mana tampaknya wanita yang masih berumur dua puluh dua tersebut tidak menyangka sama sekali bahwa pujiannya itu secara telak mengenai dan menamnncap di hati Xavier yang menurut pandangan sang aktris muda itu merupakan seorang lelaki play-boy yang suka sekali bergonta-ganti pasangan ketika sudah merasa bosan setengah mati dengan pasangan lamanya itu. Yang benar saja, jika sudah begini, bagaimana bisa Jasmine tidak merasa semakin terkesan?
"Mhm, aku kira aku melihat seorang lelaki play-boy di sini, ternyata lelaki yang aku kencani ini tidak kebih polos daripada Marshel yang ekspresi wajahnya akan berubah ketika aku menyanjung dan memuji hasil kerja kerasnya walau hanya sedikit," goda Jasmine lagi seraya seperti biasa, memesan beberapa set hotpot yang memang selalu ia padukan dengan seteko besar ice lemon tea yang akan selalu ia pesan pada pelayan di sana.
Lagi-lagi Xavier terkekeh kecil penuh rasa malu, seolah-olah lelaki tersebut merasa bahwa godaan Jasmine kali ini terdengar jauh lebih mirip dengan sebuah pujian alih-alih godaan biasa yang terdengar demikian menyedihkan dan menyebalkannya itu. Entahlah, walau bagi Xavier ini ukan kali pertamanya menerima pujian dan godaan yang diberikan dan diperlihatkan oleh berbagai macam wanita kepada lelaki tersebut, godaan dan pujian yang diberikan oleh sang nona muda entah mengapa terasa menghantam lelaki tersebut dengan cara yang cukup bebeda demikian jauhnya itu.
"Sudahlah, aku merasa bahwa lebih baik jika kita mulai memakan sesuatu alih-alih kamu yang secara konstan dan terus menerus menggodaku dengan cara yang demikian menyebalkan sekaligus memalukan itu," sahut Xavier seraya mengalihkan pandangan lelaki tersebut ke arah lain agar tidak perlu secara langsung menatap ke arah Jasmine yang terlihat sedang menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan seolah-olah sedang meledek lawan bicara yang berada di hadapan sang nona muda kala itu.
__ADS_1
"Oooh- yang benar? Masa Xavier yang terkenal play-boy, atau lebih tepatnya terbiasa dengan berbagai macam wanita, termasuk berbagai godaan dan pujian yang biasa mereka berikan ini bisa merasa malu hingga pipinya memerah pekat hanya karena godaan dan pujian kecil yang aku berikan? Kamu ini menarik sekali, Xavier, hingga rasanya aku ingin mencubit pipimu dengan keras saking gemasnya aku padamu! Sini, cepat berikan aku pipimu yang memerah itu untuk kucubit!"