
Setelah memutuskan untuk menenangkan hati dan pikiran yang sudah sempat terlebih dahulu kacau akibat apa yang sedang terjadi, Marshel lantas memutuskan untuk mencuci mukanya, tidak ada gunanya bagi lelaki tersebut terlalu memikirkan masa depan yang dapat dikatakan tidak terlalu pasti itu. Yah, mau bagaimana pun, jika pada akhirnya Jasmine benar-benar menikah dengan Xavier, memangnya apa lagi yang bisa Marshel lakukan selain pasrah? Tidak ada, bukan?
Dengan langkah super gontai, seolah-olah lelaki tersebut sedang tidak terlalu berminat untuk melakukan apa-apa sama sekali, Marshel lantas melangkahkan kakinya sendiri menuju kamar mandi yang berada di dekat kamar Jasmine, tentu saja tanpa lupa membersihkan sisa-sisa dari kegiatan merokoknya sebelumnya. Dalam diam, Marshel hanya memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh sang nona muda bersama sang tuan muda dari kejauhan, enggan juga menghampiri keduanya untuk menanyakan sesuatu yang sekiranya dapat menyakiti hati Marshel ke depannya.
Marshel kemudian memutuskan untuk mencuci mukanya sendiri, dan mungkin menenangkan pikirannya yang masih saja sedikit kacau di kamar mandi, toh pun Jasmine sepertinya tidak akan menggunakan kamar mandi untuk sementara waktu, sehingga tampaknya hal tersebut memberi ruang dan waktu bagi sang bodyguard untuk menenangkan pikirannya sendiri.
Lelaki yang satu itu memutuskan untuk mendinginkan kepalanya sendiri dengan cara membasahi rambutnya, cara yang sebenarnya dapat dikatakan konyol dan lucu setengah mati, tetapi tidak jarang cukup berguna bagi lelaki tersebut untuk mendinginkan kepalanya sendiri. Dalam diam, Marshel mulai membasahi rambutnya sendiri menggunakan air keran, lelaki yang satu itu menghela napas panjang, dinginnya air keran seolah mampu mendinginkan kepalanya yang sempat memanas dengan sedikit tidak terkendali itu.
Entahlah, Marshel seolah merasa sangat benci dengan Xavier saat ini, seolah-olah merasa bahwa sang Chief Executive Officer tersebut telah berubah menjadi saingan terkuat milik sang bodyguard pada saat itu. Tangan Marshel kemudian mulai mengepal, dengan sangat-sangat erat seolah-olah sedang menahan kemarahannya sendiri, dan tanpa bisa ditahan sama sekali oleh siapa pun itu, Marshel akhirnya memukul tembok kamar mandi dengan sangat-sangat keras, hingga terlihat retakan kecil muncul di tembok tersebut.
__ADS_1
Untung saja tampaknya tidak ada yang mendengar suara pukulan yang mungkin saja Marshel hasilkan, karena jika Jasmine mendengarkan suara tersebut, dapat Marshel tebak dengan sangat-sangat baik sekali bahwa wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri akan merasa khawair setengah mati akan Marshel, setidaknya kali ini.
Setelah selesai memukul tembok kamar mandi tersebut, Marshel pun akhirnya terduduk di atas kloset, tanpa daya sama sekali seraya mengeluarkan ponselnya sendiri, lagi-lagi terdiam seraya menatap lurus ke arah wallpaper yang terpampang jelas di ponselnya sendiri itu. Bagi Marshel, tampaknya setelah semua ini, wajah manis dan menggemaskan milik wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki wajah yang cukup menggemaskan tersebut kelak tidak akan menjadi miliknya lagi, yang secara halus memiliki arti yang kurang lebih sama seperti Marshel harus pergi dan tidak boleh kembali lagi.
Yah, setelah pernikahan Jasmine, entah kapan hal tersebut akan dilangsungkan tetapi tetap saja, bagi Marshel itu sama saja dengan lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut memiliki dua efek yang berbeda, setidaknya pada Marshel, di mana di satu sisi lelaki yang satu itu merasa senang karena Jasmime akhirnya mendapatkan lelaki yang tepat untuk diri wanita yang satu itu sendiri, tetapi di sisi lain itu juga berarti Marshel harus mulai bersiap-siap untuk kelak angkat kaki sepenuhnya dari hidup Jasmine.
Kekesalan di hati Marshel seolah semakin memuncak saja hingga akhirnya lelaki tersebut memutuskan untuk menghela napas panjang, lagipula marah-marah seperti itu tidak akan menyelesaikan apa-apa barang sedikit saja, membuat Marshel hanya bisa menghela napas panjang, pasrah karena sadar tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali.
Setelah entah berapa lama terdiam seperti itu di kamar mandi apartemen, Marshel yang sudah mulai merasa sedikit lebih baik memutuskan untuk mencuci tangannya sendiri yang masih sedikit berdarah, lantas membersihkan sedikit ceceran darah di lantai kamar mandi sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, masih dengan menggenggam erat ponsel milik lelaki yang satu itu seolah-olah merasa enggan setengah mati untuk melepasnya begitu saja.
__ADS_1
Sayang sekali, tampaknya lelaki yang satu itu terlalu termakan dengan emosi dan segala pemikiran negatifnya sendiri hingga tidak menyadari keberadaan sang nona muda yang sedang berdiri tepat di hadapan lelaki tersebut, sehingga tanpa bisa Marshel hindari sama sekali, kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut saling bertabrakan satu sama lainnya sehingga menyebabkan Jasmine sedikit terdorong dan ponsel milik lelaki yang satu itu jatuh begitu saja ke lantai apartemen, masih dalam keadaan menyala memperlihatkan wallpaper yang dipakai oleh Marshel pada saat itu.
Sesuai apa yang pernah dikatakan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut mengenai wallpaper di ponsel milik lelaki yang satu itu, Jasmine benar-benar melihat fotonya sendiri yang dijadikan oleh Marshel sebagai wallpaper, di mana wanita yang satu itu terlihat sedang bersandar nyaman di pundak lebar milik sang bodyguard, tertidur dengan demikian damainya seolah tidak ada masalah apapun di dunia entertainment yang demikian kejamnya itu.
Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung terdiam seribu bahasa ketika melihat wallpaper ponsel milik Marshel, lantas dengan cepat pula Jasmine langsung menyambar dan mengambil ponsel milik lelaki yang satu itu, menatap ke arah ponsel milik sang bodyguard seolah sang nona muda merasa terkejut setengah mati atas apa yang sedang dilihatnya itu.
Entahlah, walau Xavier sudah pernah memberitahukan hal tersebut kepada sang nona muda, tetap saja ada rasa terkejut setengah mati yang dirasakan oleh Jasmine ketika melihat hal tersebut, belum lagi sifat Marshel yang dapat dikatakan sangat-sangat sulit ditebak tersebut, seolah-olah juga menambah rasa terkejut di hati Jasmine ketika melihat kenyataan di depan matanya sendiri itu.
"Marshel ... yang benar saja, aku tidak mengira bahwa kamu terobsesi padaku hingga sejauh ini tetapi ... yang benar saja!"
__ADS_1