
Ya, benar sekali, Raphael memang dengan sangat-sangat sengaja sekali membayar banyak orang hanya untuk membantu wanita tersebut untuk semakin menjatuhkan harga diri dan reputasi Jasmine, membuat wanita itu semakin terpuruk saja seiring waktu berjalan.
Lagi, ini semua hanya karena Jasmine telah mengambil mimpi terbesar Raphael tanpa sadar, yakni menjadi tokoh utama wanita di dalam film yang akan dibintangi oleh dirinya dan tentu saja Amon. Pun selain itu, Amon yang secara diam-diam juga menaruh perasaan pada Jasmine juga turut ambil andil di dalam alasan utama Raphael melakukan semua ini.
Walau memang benar Amon sudah menikah dan tentu saja sudah memiliki anak, lelaki itu tampaknya meletakkan perasaan yang berbeda pada Jasmine, yang terang saja membuat Raphael semakin iri karena dirinya lah yang pertama kali jatuh hati pada Amon. Yah, tentu saja itu terasa benar-benar seperti pengkhianatan paling sakit bagi Raphael, apalagi Jasmine melakukannya seraya tersenyum, tetapi di sisi lain itu juga merupakan keuntungan yang sangat besar bagi Raphael yang memang ingin membalas dendam.
Benar, apa yang telah diduga oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut alias Marshel memang sebuah kebenaran sejati.
Tepat satu minggu setelah pengumuman di mana Jasmine ditetapkan sebagai tokoh utama wanita di dalam film, ketika ulang tahun Melody yang merupakan sahabat Jessica diadakan, yang tentu saja itu artinya Amon akan datang ke acara tersebut, Raphael memutuskan untuk menyamar menjadi Jasmine dengan mengubah penampilannya secara keseluruhan, mulai dari gaya dan warna rambut, hingga gaun dan parfum. Untunglah Raphael sempat mencari tahu dan mendapat info dari seseorang, pakaian macam apa yang akan dikenakan wanita itu, sehingga Raphael bisa meniru dengan sempurna.
Rencana Raphael kala itu berlangsung dengan sangat-sangat sempurna, bahkan nyaris terlalu sempurna untuk membuat Raphael menangis akibat betapa sempurnanya rencana tersebut berjalan. Ya, Amon yang sudah terlebih dahulu setengah mabuk dan jatuh hati pada Jasmine dapat dikelabui dengan mudah bagi Raphael yang menyamar.
Dengan lembut dan perlahan-lahan, Raphael mendekati Amon, berbincang-bincang kecil dengan lelaki tersebut, lalu mulai menggoda Amon seiring waktu berlalu, hingga pada akhirnya kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut berciuman dengan panasnya di acara tersebut, dan semua itu diakhiri dengan Raphael yang mundur perlahan dengan cara yang rapi, berkata bahwa Marshel telah menunggunya untuk pulang di sisi lain club.
__ADS_1
Tentu saja semua itu direkam oleh seseorang yang bekerja untuk Jasmine, yang bahkan juga merupakan orang yang dipercaya oleh wanita yang malang itu, tanpa menyadari bahwa orang tersebut merupakan orang yang juga dibayar oleh Raphael untuk memata-matai serta merekam semua kegiatan Jasmine di rumahnya sendiri, juga merekam apa yang dilakukan oleh wanita yang memiliki wajah oriental dengan rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih tersebut kepada Amon ketika sedang bersama tersebut.
Sayang sekali, hidup Jasmine yang indah itu secara perlahan dihancurkan oleh sahabat kesayangannya sendiri, dan bahkan orang kepercayaan wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri turut ambil andil yang tidak kecil di dalam kegiatan tersebut.
Dan, semua ini hanya karena Raphael gagal mendapatkan peran sebagai tokoh utama wanita di dalam film yang akan mereka perani tersebut.
"Raphaeel-!" rengek Jasmine seraya mulai memberontak tidak menentu, membuat Raphael diam-diam tersenyum, lantas secara perlahan-lahan melepas tubuh Jasmine yang sudah mulai terlihat terkulai lemas di atas sofa berbentuk huruf L tersebut, yang kemudian meninggalkan Jasmine begitu saja di sana.
"Tentu saja, nona muda Raphael, saya sudah merekam semuanya." Lelaki itu menjawab, seraya menekan tombol berhenti di ponselnya dan menyerahkan ponsel tersebut kembali ke tangan Raphael, tanpa ada rasa bersalah sama sekali, walau itu hanya setitik saja.
"Bagus, apakah dia curiga?" Raphael bertanya lagi seraya menyimpan ponsel itu ke dalam tas kecil yang sedari tadi ia pegang di tangan kirinya itu. "Aku tidak mau repot, kamu tentu tahu itu, bukan?"
Lelaki itu kembali mengangguk, memasang senyum tipis yang entah mengapa malah terlihat seperti senyuman seorang psikopat gila. "Tentu saja, nona muda, dia bahkan tidak curiga pada dirinya sendiri yang semakin mengantuk ketika saya meninggalkan mobil."
__ADS_1
Raphael hanya berdeham, acuh tidak acuh menanggapi kata-kata yang dikeluarkan oleh lelaki yang terlihat sudah cukup berumur tersebut. "Yah, apapun itu, terserahlah, aku tidak peduli. Asal kamu merekamnya dengan bagus dan tidak menciptakan kecurigaan sama sekali saja itu sudah sangat bagus, pak tua, tetapi aku mau bertanya, satu hal saja."
"Langsung saja, nona muda Raphael, tidak usah menunggu respon saya." Pak tua itu menjawab seraya tersenyum kecil.
"Mengapa anda mau melakukan ini? Bukankah Jasmine juga mempercayai anda?" Raphael bertanya lagi seraya menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin, menatap lawan bicaranya dengan tatapan serius, memastikan alasan macam apa yang akan digunakan oleh lawan bicaranya itu ketika mendapatkan pertanyaan tidak terduga seperti ini.
Yang ditanya langsung menaikkan sebelah alisnya penuh rasa tidak percaya. Pertanyaan macam apa itu? Si pak tua terdiam sejenak, memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan sangat-sangat baik hingga dirinya sedang tidak salah dengar.
Tiba-tiba saja pak tua itu tertawa, keras sekali hingga menarik atensi dari beberapa orang yang berada di sekitar mereka pada saat itu. "Pertanyaan anda ini lucu sekali, nona muda Raphael. Apa itu kepercayaan seseorang? Saya tidak terlalu peduli, atau kasarnya saya tidak ambil pusing. Toh bayaran saya hanya untuk melakukan hal sesederhana ini jauh lebih besar daripada gaji saya sebulan, tentu saja saya akan lebih memilih ini!"
Oh. Tentu saja. Mengapa Raphael tidak menebak sedari awal? Wanita berpikiran super licik dan mulus itu memasang senyum tipis, merasa senang atas alasan yang diberikan oleh lelaki yang berada di sisinya itu. Memang benar ternyata, uang bisa mengubah seseorang, pun bisa mengendalikan orang tersebut dengan sangat-sangat baik, hingga membuat orang itu mau mengkhianati orang yang sudah mempercayai mereka sepenuh hati.
"Alasan yang bagus, pak tua, tetapi kamu juga jangan pernah lupa untuk tetap tutup mulut dan bersikap baik di hadapan Jasmine, aku tidak mau apa yang ada di antara kita berdua ini ketahuan oleh wanita breng_sek itu, dan sekarang panggil Marshel untuk menjemput Jasmine dan membawanya pergi dari sini, pak tua!" perintah Raphael lagi seraya memasang senyum sinis, merasa puas.
__ADS_1