
Pada pagi berikutnya, Jasmine terlihat masih tergeletak tidur di kamarnya sendiri, dengan tubuh yang digulung dengan selimut yang cukup tebal dan kondisi kamar yang gelap gulita. Ya, pada malam sebelumnya, kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut baru sampai di apartemen milik Jasmine kira-kira pada jam tiga subuh, di mana Marshel langsung saja membawa Jasmine ke kamarnya sendiri lalu membiarkan wanita tersebut tidur di sana tanpa mengganti pakaiannya sama sekali.
"Ugh … kepalaku pusing," gumam Jasmine seraya menggeliat penuh rasa tidak nyaman, berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada malam sebelumnya. "Sial_an, apa yang terjadi kemarin?" Wanita yang satu itu terlihat berusaha untuk duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidurnya sendiri, kemudian meminum air putih yang memang selalu disediakan oleh Marshel di atas nakas.
Setelah meminum beberapa teguk air, Jasmine yang terlalu malas untuk sekadar bergerak beberapa meter itu langsung saja berteriak, memanggil Marshel yang tampaknya masih tertidur di sofa ruang tengah. "MARSHEL!!!"
Terang saja lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut langsung terbangun begitu mendengar teriakan dengan lengkingan yang demikian tinggi itu, membuat lelaki yang malang itu langsung tersadar begitu saja. "Ukh … ada apa, nona muda?" tanya Marshel seraya membuka perlahan pintu kamar sang nona muda yang memiliki sifat sedikit manja tersebut.
Betapa terkejutnya Marshel ketika lelaki tersebut membuka pintu, di mana dirinya bisa melihat dengan sangat-sangat jelas sekali tubuh mungil milik Jasmine yang hanya dibalut oleh kemeja putih yang ukurannya tiga sampai lima kali lipat dari ukuran tubuh Jasmine, tanpa ada bawahan apapun yang menutupi paha mulus wanita tersebut.
Tentu saja pipi Marshel langsung memerah sempurna ketika melihat pemandangan itu, membuat lelaki tersebut secara reflek menutup kembali pintu itu seraya berseru, "saya tidak melihat apa-apa, nona muda!"
__ADS_1
Jasmine yang sedari tadi diam dan mengamati gelagat alias kelakuan Marshel sedari lelaki tersebut membuka pintu, lantas mengeluarkan tawa yang sangat kencang, merasa bahwa respon yang diberikan oleh sang bodyguard milik wnaita tersebut terasa demikian lucu.
"Yang benar saja, Marshel! Ini bukan kali pertama untukmu melihatku nyaris telanjang bulat, tetapi memang responmu yang seperti itu terlihat benar-benar lucu!" Jasmine masih tertawa seraya memukul-mukul pelan tembok kamarnya sendiri, membuat dirinya terlihat seperti anak-anak yang sesungguhnya.
Marshel yang berada di luar pintu hanya bisa menghela napas panjang, yang benar saja! Nona mudanya itu memang terkadang hobi memancing sesuatu dari lelaki tersebut. "Sial … wanita itu …," geram sang bodyguard perlahan, seraya kembali mendengkus pelan, berusaha mengusir pikiran kotor yang mulai bersarang di pikiran lelaki yang satu itu.
Setelah beberapa saat berlalu, Marshel yang sudah terlebih dahulu menenangkan diri, memutuskan untuk mengetuk ulang pintu kamar tersebut. "Nona muda, ada apa? Mengapa anda berteriak seperti itu?" Lelaki berparas tampan itu bertanya dengan sangat berhati-hati, memastikan bahwa sudah tidak ada hal seperti tadi di kamar Jasmine.
Marshel hanya bisa memasang wajah datar, ada juga sedikit rasa sebal di hati sang bodyguard ketika menyadari tujuan utama dari keisengan yang diciptakan oleh Jasmine beberapa saat sebelumnya itu. "Yah, bisa dikatakan bahwa saya merasa bahwa istirahat saya ini sudah cukup, mengingat bahwa sebelumnya saya sempat tertidur di mobil saat menunggu anda selesai berpesta tadi malam."
Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki wajah mungil tersebut lantas mengangguk-anggukkan kepalanya seraya memasang senyum tipis di wajahnya itu. "Baiklah, omong-omong, apa saja terjadi pada malam sebelumnya? Aku … merasa sedikit penasaran."
__ADS_1
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh wanita yang memiliki wajah kaukasia itu, Marshel terdiam sejenak, merasa ragu untuk sekadar menjawab pertanyaan tersebut. "Aah- mm … bisa dikatakan bahwa anda terlalu mabuk, hingga pada saat saya menjemput anda ke dalam acara, saya melihat anda sudah tergeletak tidur di sofa, di mana saya langsung menggendong anda seperti pengantin pria terhadap istrinya, lalu membawa anda keluar."
Ya, sang bodyguard memutuskan untuk menyembunyikan kenyataan bahwa sang wanita pemilik netra yang demikian indah tersebut menciumnya dengan demikian lembut tetapi penuh nafsu. "Kamu yakin hanya itu saja?" Jasmine memiringkan kepalanya sendiri seraya menatap ke arah Marshel dengan tatapan menyelidik, seolah curiga bahwa lelaki tersebut memiliki hal lain yang disembunyikannya. "Karena aku ingat bahwa aku ada mencium bibir seseorang ketika aku sudah mabuk total."
Kini giliran Marshel yang benar-benar terdiam seribu bahasa, benar-benar tidak menyangka bahwa sang nona muda mengingat apa yang telah terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut. Jika sudah begini, rasanya benar-benar mustahil bagi Marshel untuk tetap menyembunyikan kenyataan yang telah terjadi, di mana pada akhirnya lelaki tersebut hanya bisa menghela napas panjang, berusaha menetralkan pikirannya sendiri.
"Yah … memang tidak hanya itu, sebenarnya, di mana pada kenyataannya saat saya menggendong anda kemarin, anda menarik tengkuk saya dengan demikian kerasnya hingga kita berdua tanpa disengaja sama sekali berciuman satu sama lainnya … begitulah," jelas Marshel panjang lebar seraya memasang wajah datar, menghindari memasang ekspresi yang tidak seharusnya. "Tetapi setelah itu anda benar-benar jatuh tertidur, bahkan hingga sampai ke apartemen ini pun anda masih tidur. Jadi yah … saya terpaksa menggendong anda dan meletakkan anda di kasur masih dengan gaun yang kemarin anda kenakan."
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Marshel, lelaki tersebut berharap bahwa setidaknya ada sedikit rasa malu yang tumbuh di pikiran Jasmine, yang membuat pipi wanita yang memiliki wajah kaukasia itu memerah dengan sedikit menggemaskan, membuat ada rasa gemas tersendiri di hati pemuda tersebut.
"Ooh … begitu ternyata. Tidak kukira kalau aku minum terlalu banyak, padahal rencana awalku aku hanya ingin berbincang-bincang kecil dengan Raphael dan Reolle, karena kami bertiga sudah lama sekali tidak bertemu, tetapi ternyata apa yang terjadi jauh di luar rencanaku. Ya sudahlah," sahut Jasmine, kelewat santai, seolah wanita tersebut tidak terlalu ambil pusing atas apa yang terjadi dengan dirinya dan Marshel. "Yah, soal ciuman itu … anggap saja hadiah."
__ADS_1