
"Jika kamu sakit, maka otomatis tidak ada yang akan menjagaku, dan jika tidak ada yang menjagaku itu artinya keamananku terancam, selain itu, di antara kamu, Simon dan Anna, kamu adalah yang paling bisa aku andalkan karena kamu lah yang selalu tahu bahwa ketika aku sudah terlalu lama menggunakan sepatu berhak tinggi, maka kakiku akan terasa nyeri ….." Jasmine menghela napas panjang. "... dan kamu tahu bahwa itu artinya kakiku harus dikompres kompresan air hangat, begitulah, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit hanya karena menjaga keamananku."
Mendengar ungkapan hati Jasmine yang dapat dikatakan demikian panjang dan lebar, Marshel menanggapi hal tersebut dengan senyum tipis. Ingin hati mengusap lembut kepala Jasmine, hanya saja rasanya tidak mungkin seorang bodyguard seperti dirinya dengan sangat tidak tahu diri sekali mengusap kepala sang nona muda yang jelas-jelas strata sosialnya jauh di atas dirinya itu.
"Baiklah, baiklah, kalau begitu saya memilih untuk tidur di mobil saja." Marshel tertawa pelan seraya menyandarkan punggung lebarnya di sandaran mobil tersebut, lalu memejamkan matanya sejenak. Ya, jika lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut bisa berkata jujur, sebenarnya Marshel merasa lelah akibat masalah yang melibatkan sang nona muda, pun dengan berbagai gangguan lainnya, seolah turut menyumbang penyebab dari insomnia yang dialami oleh lelaki tersebut.
"Mhm … aku boleh bertanya sesuatu, Marshel?" Jasmine bertanya seraya memainkan jarinya sendiri, seolah-olah sedang nerasa sedikit tidak enak hati untuk menanyakan hal tersebut kepada sang bodyguard.
Marshel menaikkan sebelah alisnya setinggi mungkin, merasa sedikit tidak biasa ketika Jasmine harus meminta ijin terlebih dahulu untuk sekadar bertanya dengan lelaki yang satu itu. "Tentu saja, maksud saya, kenapa tidak? Toh anda ialah atasan saya, rasanya wajar saja jika anda langsung bertanya pada saya."
Jasmine tersenyum, sopan santun yang dimiliki oleh pria yang berada tepat di sisinya itu telah membuat sang nona muda merasa kagum, tidak biasanya ada seorang yang bersikap demikian sopan dan santun kepada dirinya tanpa dimintai sama sekali. "Baiklah jika demikian katamu. Pertanyaanku ini sebenarnya terlampau sederhana, kok, aku hanya penasaran mengapa kamu merubah panggilan kita dari aku-anda atau aku-kamu menjadi saya-anda, itu saja."
__ADS_1
Marshel menggaruk kepalanya yang tidak trasa terlalu gatal, entahlah, entah dari mana pula idenya untuk mengubah panggilan yang biasa ia gunakan kepada sang nona muda. "Entahlah, entah mengapa menurut saya rasanya tidak pantas saja jika saya memanggil diri saya sebagai aku, karena itu lah saya memutuskan untuk memanggil diri sendiri sebagai saya alih-alih sebagai aku, begitulah."
"Padahal kamu tidak usah repot-repot seperti itu, toh menurutku sama saja kok jika kamu memanggilku sebagai kamu alih-alih anda." Jasmine terkekeh kecil, merasa sangat puas atas alasan sederhana yang diberikan oleh Marshel kepada dirinya pada saat itu. "Tetapi jika kamu sudah memilih untuk memanggil dirimu sendiri dengan kata saya, itu sudah jadi pilihanmu."
Ketika kedua insan berlainan jenis kelamin tersebut sampai di tempat acara, Marshel dengan sangat-sangat sigap seperti biasa langsung turun, lalu membukakan pintu untuk Jasmine dan tentu saja membantu wanita tersebut untuk turun dari mobil itu. "Anda terlihat cantik sekali malam ini," puji Marshel seraya menggenggam erat tangan Jasmine yang berbalutkan sarung tangan putih panjang kala itu. "Tidak heran semua orang bisa menyukai anda."
"Tidak usah memujiku seperti itu, Marshel, itu hanya akan membuatku merasa malu luar biasa saja." Jasmine membalas seraya menggenggam erat tangan besar nan hangat milik sang bodyguard yang sedang membantunya untuk turun dengan cara yang demikian elegan. "Tetapi terima kasih atas pujianmu, Marshel, aku menyukainya."
"Mhm … kamu benar, Marshel. Aku sedang berpikir, bahwa jika suatu saat nanti aku akan menikah, aku rasa aku akan memilih tempat ini sebagai tempat resepsiku kelak." Jasmine terkekeh kecil seraya membayangkan bagaimana jika hal tersebut benar-benar akan terjadi pada dirinya, dan tentu saja calon suaminya, entah siapa pun itu kelak. "Tetapi sayang sekali aku belum memiliki calon suami, pun belum terlalu berencana untuk mencarinya."
Sang bodyguard yang mendengar semua perkataan sang nona muda lantas hanya terdiam lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, tidak mau berkata banyak, sekaligus merasa sedikit sedih ketika menyadari bahwa nona mudanya belum memiliki pikiran untuk mencari calon suami, yang tentu saja memiliki arti yang kurang lebih sama seperti kesempatan untuk Marshel mendekati sang nona muda hampir tidak ada sama sekali.
__ADS_1
"Baiklah, sampai di sini saja, Marshel, aku bisa mengurus sisanya, kok." Jasmine kemudian melepas tangan sang bodyguard dengan lembut, membuat Marshel memasang senyum tipis tanpa arti.
"Hati-hati di dalam sana, nona muda …." Marshel mengusap lembut tangannya sendiri. "Jika anda merasakan adanya bahaya, atau anda merasa tidak nyaman, jangan terlalu sungkan untuk langsung menelepon saya." Lelaki tersebut lantas memberi gestur telepon kepada Jasmine, sebelum meninggalkan sang artis muda untuk menikmati pestanya dengan para sahabat wanita tersebut.
Alih-alih langsung beristirahat, hal pertama yang dilakukan oleh Marshel ketika sampai di mobil ialah menghela napas berat, yang terang saja mengundang rasa penasaran di hati Simon yang sedari tadi hanya diam dan mengamati.
"Kamu kenapa lagi? Ditolak nona muda Jasmine?" Simon bertanya seraya melirik Marshel yang terlihat sedang duduk di kursi belakang, seolah seseorang yang benar-benar kehabisan seluruh tenaganya. "Kasihan …."
Marshel langsung memejamkan mata hijaunya yang indah itu setelah mendengar pertanyaan konyol yang diajukan oleh Simon. "Dibandingkan ditolak, saat ini aku jauh lebih ke arah merasa khawatir atas keamanan nona muda Jasmine, itu saja."
"Karena dia menolakmu untuk ikut ke dalam acara pesta? Yang benar saja, aku rasa nona muda bisa menjaga dirinya dengan baik." Simon terkekeh pelan seraya menurunkan dan merendahkan sandaran kursinya sendiri. "Yahh, apapun itu, sesekali kamu harus membiarkan nona muda bergaul dengan orang lain tanpa pengawasanmu, Marshel."
__ADS_1
"Kalau hanya itu saja, sebenarnya aku tidak terlalu ambil pusing, Simon, hanya saja seseoramg yang aku curigai sebagai seorang dalang utama di balik skandal ini turut berada di dalam pesta itu. Kamu mengerti apa yang aku maksudkan, bukan?" Marshel bertanya seraya menolehkan kepalanya, menatap Simon melalui kaca spion yang berada di tengah mereka.