I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 32


__ADS_3

Jasmkne lantas membuka map hitam yang melapisi sekaligus menyimpan kertas dari kontrak tersebut. "Wah, bahkan kontrak kecil sekalipun kamu tetap menyiapkan dengan sangat-sangat apik, ya? Aku terkesan."


"Aku ambil itu sebagai sebuah pujian, Jasmine, bacalah isi kontrak tersebut dengan baik sebelum menanda tangani kontrak itu." Xavier terkekeh kecil, seraya membiarkan Jasmine membaca isi kontrak yang telah ditulis oleh Hera untuk kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut. 


Jasmine lantas mengambil kertas tebal bertekstur khas tersebut seraya memasang senyum kecil, mulai membaca isi kontrak yang telah diciptakan Hera untuk mereka berdua. "Wah, bagus, kertasnya juga bisa membuatku merasa terkesan … baiklah, untuk poin pertama … tunggu, tidak usah dibaca secara teliti." Wanita tersebut langsung membaca seluruh isi kontrak tersebut dengan sangat cepat, menggunakan keahliannya dalam hal membaca cepat.


"Baiklah, aku tanda tangani." Jasmine berkata seraya menanda tangani kontrak itu, kemudian menyerahkan kertas tebal nan kasar tersebut kembali ke tangan Xavier. "Kamu juga tanda tanganilah ini."


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar juga rambut yang memiliki warna cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis. "Seperti biasanya, selalu saja membaca kontrak dengan sangat cepat, seolah tidak khawatir atas apa pun."


"Ha-ha-ha, aku anggap itu sebagai pujian, Xavier." Jasmine memasang senyum tipis, sebelum kemudian menghela napas panjang. "Berarti pembicaraan kita hari ini sudah berakhir, bukan? Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu."


Xavier langsung menarik lembut tangan Jasmine, kemudian mengecup pipi putih wanita tersebut. "Biar aku antar, kekasihku," goda pemuda tersebut seraya terkekeh kecil, membuat pipi Jasmine berubah menjadi sedikit memerah malu, membuat Xavier merasa semakin gemas. "Ayo."

__ADS_1


"Baiklah," sahut Jasmine seraya menggamit tangan besar milik Xavier, yang entah mengapa terasa sama hangatnya dengan tangan Marshel. "Ayo pulang, kekasihku," balas wanita tersebut seraya terkekeh pelan.


Xavier memasang senyum, kemudian pergi mengantarkan wanitanya itu untuk pulang ke apartemennya sendiri.


Ketika kedua insan berlainan jenis kelamin tersebut berada di mobil yang sama, Xavier memasang senyum tipis. "Tidak biasanya kamu memilih jalan senekad dan sekonyol ini hanya untuk sesuatu hal yang sebenarnya tidak terlalu besar."


Jasmine mengeluarkan tawa yang sangat menggemaskan, lantas menepuk pelan tangan besar milik Xavier yang sedang memegang kemudi mobil. "Yah, seperti kamu tidak pernah melakukan hal semacam ini saja. Lagipula kamu kan juga pernah secara diam-diam meminta seorang lain untuk mengintaiku hanya karena beberapa hal, dan juga secara diam-diam mengoleksi fotoku. Dasar, orang aneh."


Lelaki yang memiliki wajah kaukasia yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis. "Yah, itu sebenarnya juga- ah, terserahlah, aku sendiri juga malas memikirkannya. Aku melakukan itu karena aku hanya sedang kurang kerjaan saja." Xavier terkekeh pelan, menertawakan kebodohannya sendiri yang konyol itu.


"Sungguh? Termasuk … entahlah, berhubungan? Tidak, tidak, aku hanya bercanda, jangan dianggap serius, okay?" Tangan besar Xavier lantas bergerak perlahan, naik dan mengusap lembut kepala Jasmine yang sedang bersandar manja pada dirinya itu. "Kamu ini cantik sekali, aku sampai tidak habis pikir mengapa kamu masih tetap sendirian hingga hari ini tanpa pernah memiliki pasangan sama sekali."


Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki wajah yang cukup menggemaskan itu lantas menghela napas panjang. "Entahlah, sebenarnya aku sendiri sedikit malas untuk memiliki atau menjalani hubungan dengan seseorang. Apalagi kamu tahu betul bahwa aku merupakan seorang publik figur, bukan?"

__ADS_1


"Ah … maksudmu kamu khawatir mereka itu akan memanfaatkan popularitasmu, bukan? Baiklah, aku mengerti. Tetapi mengapa kamu memilihku di antara ratusan, atau mungkin ribuan penggemarmu itu? Aneh sekali." Xavier menatap ke arah jalanan yang entah mengapa terasa tidak seramai biasanya, apa lagi di tengah Florida yang biasanya sangat sibuk.


Jasmine mengeluarkan sebuah dengkusan pelan, tipis sekali hingga mungkin saja Xavier tidak mendengarnya sama sekali. "Entahlah, Xavier, mungkin saja karena kamu adalah penggemarku yang tidak menginginkan aku? Maksudku, kamu mengertilah, tidak jarang penggemarku menginginkan aku sebagai alat untuk membantu mereka menaikkan pamor mereka, kamu mengerti? Itulah yang membuatku merasa sedikit enggan untuk memilih orang lain selain kamu."


"Yah, walau aku mengagumimu, aku sendiri tidak pernah berpikir untuk menggunakanmu sebagai alat untuk menaikkan popularitasku sendiri, karena yah kupikir untuk apa juga? Aku tidak perlu popularitasmu untuk menaikkan milikku. Lagipula kita berdua menjalani kontrak ini atas dasar kerja sama, bukan?" Lelaki tersebut menghela napas. "Kurasa jadi publik figur itu tidak semenyenangkan yang selama ini aku kira."


Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung terkekeh pelan. "Memang, bahkan bisa dikatakan jauh lebih menyulitkan daripada yang sering dikira. Bahkan sebenarnya apa yang kamu lihat di layar kaca tersebut tidak semuanya benar-benar terjadi di kehidupan nyata para publik figur itu." 


"Begitukah? Pasti berat sekali hidup menjadi seorang tokoh publik figur. Semangat, Jasmine, aku akan memberimu semangat dari jauh seperti ini." Xavier membiarkan Jasmine secara perlahan-lahan tertidur di pundak lebarnya sendiri.


Setelah sedikitnya dua jam berkeliling kota, Xavier lantas memutuskan untuk mengantar Jasmine yang masih tertidur dengan nyamannya di pundak lelaki tersebut. Yah, di umurnya yang masih berada di angka pertengahan dua puluh, entah mengapa ada setitik rasa kasihan pada Jasmine yang sudah terkena skandal yang sangat tidak bagus dan berkaitan dengan hubungan suami istri orang lain.


"Hei, hei, Jasmine, kita sudah sampai di apartemenmu, ayo bangun." Lelaki yang memiliki rambut cokelat kemerahan dan mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung menepuk-nepuk lembut pipi putih milik Jasmine, membangunkan sang nona muda yang masih tertidur dengan demikian nyenyak dan nyamannya di pundak sang Chief Executive Officer tersebut. "Jasmine, hei, ayo bangun dulu. Atau aku harus menciummu dulu agar kamu mau terbangun?"

__ADS_1


Wanita yang memiliki wajah kaukasia itu lantas bergerak, menggeliat pelan seolah-olah merasa sedikit tidak nyaman atas apa yang telah dilakukan oleh Xavier kepada dirinya itu. "Kita sudah sampai di apartemenku, ya? Maaf, aku tertidur lagi, kemarin aku habis menghadiri acara ulang tahun Reolle dan sepertinya aku minum terlalu banyak."


__ADS_2