
"Tetapi bagaimana jika aku menolak untuk menyerah akan perasaanku sendiri? Apa yang akan kamu lakukan jika aku menolak untuk menyerah atas perasaanku sendiri?" Ya, Jasmine akan terus menekan, sekeras dan sebisa mungkin, hanya demi Marshel yang benar-benar mau mengakui perasaan milik lelaki tersebut. "Kamu tahu aku ini bukan tipe yang mudah menyerah akan sesuatu, bukan?"
Bagi Jasmine, Marshel ialah satu-satunya alasan dari mengapa Jasmine masih bertahan di dunia entertainment yang demikian kejamnya itu, masih mau melakukan kegiatannya seperti biasa walau badai konflik tengah menyerang wanita tersebut, juga masih mau setidaknya bersosialisasi dengan orang lain.
Secara kasar, menurut Jasmine, Marshel ialah dunianya, cahaya yang membuatnya tetap bertahan di dunia entertainment yang demikian kejamnya itu, sekaligus bayangan Jasmine agar wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri bisa tetap bersinar di tengah lumpur konflik yang demikian menjijikkan sekaligus menggelikan itu.
"Maka saya akan benar-benar memohon pada anda," jawab Marshel seraya bersujud, benar-benar bersujud di bawah kaki Jasmine, begitu saja tanpa benar-benar memikirkan mengenai harga diri lelaki yang satu itu. "Nona muda Jasmine, saya mohon pada anda, tolong lupakan saja perasaan yang anda simpan terhadap saya, karena saya ini tidak pantas. Masih banyak lelaki lain di luar sana yang sebenarnya sangat-sangat pantas untuk mendapatkan hati anda."
Kali ini justru wanita yang memiliki tubuh yang tinggi dan ramping itu yang benar-benar terdiam seribu bahasa, tidak menyangka bahwa Marshel akan benar-benar melakukan hal tersebut kepada dirinya itu. Yang benar saja, Marshel benar-benar bersujud di hadapannya dan memohon kepada Jasmine untuk menyerah? Marshel pasti sudah kehilangan akal sehatnya sendiri.
"Marshel … kenapa? Kenapa kamu sampai seperti ini hanya karena aku menyimpan perasaan terhadapmu?" Jasmine bertanya seraya menatap sang lawan bicara dengan tatapan tidak percaya, merasa bahwa Marshel telah menyakitinya dengan cara yang paling ekstrim. Sakit, tetapi entah mengapa di sisi lain terasa menyenangkan. "Aku … maksudku kamu ini bahkan bukan seorang budak, lantas mengapa aku tidak boleh menyimpan perasaan padamu?"
__ADS_1
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut tertegun sejenak ketika mendengar pertanyaan tersebut, merasa ragu untuk memberi jawaban yang tepat. "Karena saya merasa bahwa saya ini sangat-sangat tidak layak untuk menerima perasaan cinta, atau suka yang anda simpan terhadap saya. Saya ini merupakan seorang bodyguard, di mana tugas saya hanya menjaga dan memastikan keamanan anda dua puluh empat jam per tujuh hari, itu saja, tidak lebih dan tidak kurang."
"Tapi … rasanya tidak adil, Marshel, mengapa aku tidak boleh menyukaimu hanya karena perbedaan strata sosial yang menyebalkan setengah mati ini?" Wanita yang memiliki wajah kaukasia itu menatap Marshel dengan mata yang berkaca-kaca seperti hendak menangis.
"Lantas jika pada akhirnya aku tidak boleh jatuh cinta padamu, sama sekali tidak boleh seperti apa yang telah kamu katakan padaku, mengapa kamu secara konstan dan terus menerus memberikan aku perhatian yang memang sangat-sangat aku butuhkan?!" jerit Jasmine penuh rasa tidak percaya juga rasa kesal, seolah-olah Marshel benar-benar sudah menyakitinya dengan teramat.
Lelaki yang ditanyai hanya bisa terdiam seribu bahasa, di mana Marshel sendiri sadar bahwa nada suara sang nona muda benar-benar berubah jika dibandingkan dengan sebelumnya. Ya, Marshel sadar betul bahwa hati sang wanita pujaan hati telah terluka dan hancur sedemikian dalamnya karena apa yang telah dikatakan oleh sang bodyguard beberapa saat yang lalu, tetapi bagi Marshel, penting rasanya untuk menyadarkan Jasmine sebelum semuanya terlambat.
Kali ini Jasmine benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, sedikit pun tidak bisa. Mulur wanita yang memiliki wajah kaukasia itu benar-benar terkunci setelah mendengar jawaban yang demikian dingin dan menyakitkan dari mulut Marshel. Yah, memang apa yang dikatakan oleh Marshel tadi itu memang merupakan sebuah fakta, tetapi entah mengapa pula fakta tersebut terdengar benar-benar menyakitkan.
"Kalau begitu, berikan saja aku perhatian yang seadanya! Tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku seperti itu! Tidak usah membuatku merasa harus berharap bahwa kamu juga menyukaiku seperti itu, Marshel sial_an!!" Jasmine kembali menjerit, kali ini jeritan wanita tersebut terdengar benar-benar menyiratkan keputus-asaan yang sesungguhnya, membuat Marshel merasa bersalah karena telah menjawan seperti itu.
__ADS_1
Kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut kini benar-benar terdiam, suasana yang canggung berubah menjadi suasana yang menyedihkan karena Jasmine mulai menangis, merasa patah hati karena perasaannya ditolak dengan demikian tegasnya oleh sang bodyguard, seperti Marshel benar-benar tidak memiliki hati maupun perasaan terhadap dirinya itu.
Marshel yang masih saja berada di dalam posisi bersujud pun kini mengubah posisinya menjadi duduk bersimpuh, menatap ke arah Jasmine dengan tatapan datar nan dingin. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Marshel, lelaki yang satu itu ingin sekali melakukan sesuatu untuk menenangkan sekaligus mengubah suasana hati Jasmine yang sudah terlanjur memburuk itu, tetapi apa mau dikata? Dirinya lah penyebab memburuknya suasana hati sang nona muda.
"Nona muda- maaf atas-"
Sebelum lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut bisa menyelesaikan kalimatnya sendiri, Jasmine langsung memotong dengan nada yang benar-benar meninggi, membuktikan betapa marah dan putus asanya wanita tersebut akan Marshel yang sudah menolaknya dengan demikian kejamnya itu.
"KELUAR!! KELUAR KAU MARSHEL!! JANGAN PERNAH KAU KEMBALI HINGGA AKU YANG MEMINTAMU UNTUK KEMBALI!!" jerit Jasmine penuh rasa marah, dengan air mata yang secara konstan dan terus menerus mengalir, membasahi kedua pipi pitihnya hingga menciptakan dua aliran sungai kecil di wajahnya itu.
Terang saja Marshel merasa terkejut karena sudah diteriaki seperti itu, tetapi apa boleh buat? Apapun perkataan Jasmine yang kurang lebih seperti itu ialah bentuk perintah, di mana tentu saja Marshel harus melakukannya. Mau tidak mau, sang bodyguard hanya bisa menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dan berdiri, kemudian berbalik dan keluar dari kamar apartemen tersebut tanpa sedikit pun berbalik atau sekadar menoleh untuk melihat Jasmine.
__ADS_1
Meninggalkan Jasmine yang sedang menangis karena benar-benar terpuruk dan patah hati sendirian di kamar apartemen yang demikian luas dan besar tetapi mencekam itu.