I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 39


__ADS_3

Pada akhirnya, lelaki tersebut duduk tepat di sebelah Jasmine yang kedua kakinya sudah menyentuh air laut yang terasa demikian dingin, tetapi juga menenangkan hati tersebut. Xavier tahu, satu-satunya cara untuk menenangkan hati Jasmine pada situasi seperti ini ialah bertindak sebagaimana Marshel akan bertindak untuk sang nona muda.


Namun sayang sekali Xavier tahu betul, dirinya bukanlah Marshel, bukan lelaki yang berada di hati Jasmine, dan terang saja bukan obat bagi wanita tersebut. "Hei, Jasmine, apa ... kamu ingin aku panggilkan Marshel untukmu? Aku yakin lelaki itu akan jauh lebih tahu apa yang harus ia lakukan alih-alih aku." Xavier bertanya seraya mengeluarkan ponselnya sendiri, benar-benar bersiap-siap untuk melakukan panggilan telepon dengan Marshel yang tentu saja dapat datang kapan dan di mana saja hanya demi sang nona muda.


Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung menolehkan kepalanya, menatap Xavier sekilas sebelum akhirnya menggeleng pelan, memberi tanda bahwa Jasmine tidak ingin Marshel datang ke sini hanya untuk menenangkan hatinya dengan cara yang demikian konyol dan bodoh tersebut. "Kurasa tidak usah, lagipula bagaimana bisa sepasang kekasih tidak bisa atau mampu menenangkan pasangannya sendiri yang ssdang bersedih?"


Xavier tertegun sejenak ketika mendengar kalimat yang sudah dikeluarkan oleh Jasmine pada saat itu, terdengar masuk akal, tetapi nyaris di saat yang sama terdengar cukup menyedihkan di telinga lelaki tersebut. "... benar juga, mengapa aku tidak terpikir seperti itu sedari awal?" Xavier mencoba memancing Jasmine dengan memperlihatkan betapa bodohnya lelaki tersebut.


Yah, cara yang biasa cukup ampuh untuk memancing Jasmine yang dapat dikatakan nyaris perfeksionis tersebut untuk berkomentar betapa bodohnya Xavier kala itu, atau setidaknya mungkin mendengkus kecil, atau setidaknya memperlihatkan sesuatu yang sekiranya dapat membuat Xavier melanjutkan trik yang akan ia pakai untuk menenangkan sekaligus mengubah suasana hati Jasmine dengan cara yang dapat dikatakan konyol setengah mati.


"Hmph ...." Jasmine mendengkus, seolah-olah sedang mengatakan betapa bodohnya Xavier kala itu, sehingga tidak dapat menyadari bahwa ada kemungkinan di mana Marshel akan merasa curiga atas rencana mereka berdua jika misalnya Xavier benar-benar memanggil lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut. "Aku heran, apa benar kamu ini lulusan universitas Hardvard. Bodohnya tidak ditakar, tidak seperti kebanyakan lulusan sana yang aku kenal."

__ADS_1


Checkmate!


Tidak, tidak untuk Xavier yang kepintarannya dipertanyakan oleh Jasmine, tetapi lebih ke arah Jasmine yang sudah menemukan bagaimana caranya yang sekiranya dapat membuat wanita yang berada di sisinya itu tertawa atau setidaknya memasang sebuah senyuman. "Benarkah? Apa aku sebodoh itu? Mengapa aku tidak pernah menyadarinya sama sekali, ya?" Xavier menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, mencoba membuat Jasmine jatuh ke dalam godaan konyol buatan lelaki itu.


Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang wajah yang semakin datar, seolah-olah sedang bersiap-siap untuk melemparkan perkataannya yang lebih menyakitkan itu. "Yah, mana ada orang bodoh yang menyadari dirinya ialah seorang yang bodoh, karena jika mereka sadar itu artinya mereka itu pintar, itu saja."


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis, cocoklogi yang telah diberikan oleh Jasmine pada malam itu terdengar masuk akal, dan entah mengapa Xavier menjadi semakin terkesan dan kagum atas berbagai sifat unik yang dimiliki oleh sang idola pujaan hati, yang kini menjadi kekasih di atas kertasnya tersebut.


Jasmine terdiam sejenak, memikirkan tentang jawaban macam apa yang akan ia berikan kepada sang lawan bicara yang masih berada di sisinya tersebut. "Kurasa lebih ke arah yang kedua, seorang yang bodoh tetapi sadar kalau dirinya itu bodoh, kamu tepat sekali jika dalam menggambarkan hal tersebut, mengingat aku belum melihat tindakan yang setidaknya akan kamu ambil untuk memulihkan kebodohanmu- atau setidaknya memperbaiki kebodohanmu hingga itu berubah menjadi sebuah kepintaran."


Kali ini sang Chief Executive Officer tersebut langsung tertawa pelan, yah, memang bisa dikatakan bahwa mulut dari sang aktris yang masih terlampau belia tersebut memang sangat-sangat tajam dan kejam sekali, tetapi mengingat kebanyakan omongannya yang seperti ini memang benar, ada setitik kekaguman yang lagi-lagi tumbuh secara perlahan-lahan di hati lelaki yang memiliki perusahaan yang demikian besar dengan profit nyaris di berbagai situasi dan kondisi tersebut.

__ADS_1


"Begitukah?" Xavier bertanya lagi, seraya menatap lembut ke arah Jasmine yang masih terlihat melamun menatap ke arah lautan luas, di mana cakrawala terbentang di sana nyaris tanpa batas tersebut. "Berarti aku masih seorang yang bodoh tetapi sadar kalau dirinya itu bodoh hingga aku melakukan sesuatu untuk memperbaikinya, begitu?"


Wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, seolah-olah merasa setuju atas perkataan yang telah dikeluarkan oleh sang Chief Executive Officer tersebut kepada dirinya. Entah mengapa, Xavier yang berpura-pura bodoh terlihat jauh lebih lucu dan menggemaskan dibanding lelaki tersebut yang biasanya.


"Ya ... begitu."


Lelaki yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung tersenyum kecil, menatap Jasmine dengan tatapan lembut, yang kentara sekali memperlihatkan betapa tulusnya lelaki tersebut atas Jasmine, walau Xavier sendiri tentu saja sadar bahwa hubungan mereka tidak lebih merupakan hubungan kontrak. "Kalau begitu mulai sekarang kamu boleh memanggilku sebagai seorang yang bodoh tetapi sadar kalau dirinya itu bodoh alih-alih Xavier."


Menyadari betapa kerasnya usaha Xavier kala itu hanya untuk membuat suasana hati Jasmine membaik, membuat Jasmine pada akhirnya merasa sedikit tersentuh, hingga akhirnya sang nona muda itu mengeluarkan sebuah tawa kecil, memperdengarkan betapa lucunya lelucon sederhana yang dibuat oleh Xavier dengan mengorbankan harga diri lelaki tersebut yang terang saja Jasmine ketahui betapa tingginya harga diri tersebut hanya untuk dirinya tertawa. "Tapi itu terlalu panjang, aku akan tetap memanggilmu Xavier saja kalau begitu."


Melihat tawa tersebut, Xavier menghela napas lega, usahanya kali ini berhasil, sehingga sebagai imbalan, lelaki tersebut membiarkan pundak lebarnya digunakan oleh Jasmine sebagai tempat sandaran.

__ADS_1


__ADS_2