
Setelah setidaknya dua minggu berlalu semenjak Jasmine berbicara dengan Marshel mengenai rencana wanita tersebut ke depannya, ini ialah kali pertama bagi sang nona muda bertemu dengan Xavier yang baru saja kembali dari Inggris Raya. "Ah ...." Jasmine menyesap tehnya sendiri seraya menghela napas panjang, mencium aroma teh kelas atas yang sudah dibelikan Xavier sebagai oleh-oleh untuk dirinya itu. "Yah, bisa dikatakan begitu, percakapan yang berlangsung di antara kami berdua pun terasa sangat-sangat canggung dan kaku," ujar Jasmine seraya meletakkan kembali gelas teh tersebut ke atas meja, menatap ke arah Xavier yang sedang mengambil sebuah roti, lantas memotongnya kecil kemudian memakannya sedikit demi sedikit setelah dioles dengan mentega asin.
"Ah ... apa kamu juga sudah membicarakan tentang rencana pernikahan kita kepada Marshel? Lantas respon macam apa yang diperlihatkan oleh Marshel pada saat itu?" Xavier bertanya setelah menelan roti di mulutnya, menatap lawan bicaranya sendiri dengan tatapan lembut. "Soal itu, aku minta maaf, Jasmine, aku tidak menyangka bahwa akan ada sedikit masalah di dunia bisnisku yang membuatku secara mau tidak mau meninggalkanmu lantas pergi ke Inggris Raya untuk mengurus hal tersebut secepat yang aku bisa."
Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis, lantas menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Ooh- tidak, tidak, kurasa itu benar-benar bukan masalah besar, Xavier, mengingat selama kamu pergi ke Inggris, setidaknya aku akhirnya bisa berbincang-bincang kecil dengan Marshel, setelah sekian lama kami berdua tidak berbicara dengan akrab satu sama lainnya." Jasmine terkekeh kecil, seolah-olah sedang menertawakan kekonyolan dirinya sendiri itu. "Yaah, jadi kurasa itu bukan masalah besar."
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis kemudian mengangguk seadanya, setuju begitu saja dengan ucapan yang agak konyol yang telah diberikan oleh lawan bicaranya itu. "Lalu bagaimana dengan rencanamu ke depannya? Maksudku, apa yang akan kamu lakukan untuk itu?" Xavier bertanya kembali seraya menyesap tehnya sendiri.
__ADS_1
"Mhm ... kurasa seperti apa yang pernah kukatakan sebelumnya, kita berdua akan memberitahu Marshel secara bersama-sama kalau kita berdua akan segera menikah, dan setelah itu aku akan terus mengawasi dan mulai menekan lelaki itu. Aku tahu mungkin pada skenario terburuknya, Marshel tidak akan berkata apa-apa sama sekali, tetapi di saat yang sama bukankah Marshel bisa saja menunjukkan emosi yang sedikit berbeda?" Jasmine menghela napas panjang. "Konyol sekali aku ini. Apa yang sedang aku pikirkan, sih?"
Alih-alih turut menertawakan kekonyolan yang ada di pikiran Jasmine, Xavier malah memasang senyum tipis lantas mengusap lembut kepala wanita yang berada di sisinya itu, seolah-olah sedang menenangkan hati Jasmine agar tidak terlalu kacau. "Yah ... kamu tahu, kali ini apa yang kamu katakan itu terdengar seperti ide yang bagus. Maksudku, apapun itu, rasanya idemu kali ini terdengar cukup masuk akal. Yah, aku hanya perlu membantumu sampai ke tahap di mana kita memberitahukan rencana pernikahan kita pada Marshel, dan setelahnya itu ada di tanganmu. Ide bagus, ayo lakukan itu!"
Mendengar ajakan yang telah dikeluarkan oleh Xavier kepada dirinya itu, sebuah senyum tipis secara tiba-tiba saja muncul di wajah Jasmine, seolah merasa senang karena idenya kali ini bukan merupakan ide buruk untuk dilakukan. "Baiklah, kalau begitu mungkin kita bisa ... entahlah, lupakan saja, aku lupa apa yang mau aku katakan tadi." Jasmine mengalihkan pandang ke arah lain, seolah merasa malu untuk menatap Xavier yang kini sedang memperhatikan wanita itu secara konstan dan terus menerus.
Alih-alih menjawab pertanyaan dan godaan yang diberikan oleh Xavier secara langsung, wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut malah mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencegah dirinya untuk sekadar bertatapan balik dengan Xavier yang sedang memasang senyum menggoda di wajah tampannya itu. Menyebalkan sekali, memang. "Te-tentu saja tidak, untuk apa pula aku merasa malu ketika harus mengatakan sesuatu padamu? Kamu ini sedang ingin bercanda denganku, ya?" sahut Jasmine dengan nada yang sedikit meninggi, seolah merasa benar-benar kesal dengan ucapan Xavier padanya itu.
__ADS_1
Sang Chief Executive Officer tersebut malah memasang senyum kecil. "Lantas mengapa kamu tidak jadi mengatakannya? Pun lagi kamu malah memilih untuk tidak menatapku sama sekali. Lantas jika karena bukan merasa malu ketika akan mengatakan hal tersebut, mengapa kamu sampai melakukannya?" Xavier bertanya seraya menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan seolah-olah sedang menggoda lawan bicaranya yang menurut Xavier terlihat benar-benar menggemaskan itu.
"T-tidak, siapa bilang aku merasa malu?" Jasmine menutup mulutnya sendiri, menatap ke arah vas bunga yang entah mengapa terlihat sangat-sangat menarik secara tiba-tiba saja. "Untuk apa pula aku merasa malu hanya untuk meminta sesuatu darimu?" Jasmine bertanya balik seraya menolehkan kepalanya, menatap lurus ke arah Xavier dengan mata biru miliknya yang berkilat dengan demikian indah dan terangnya itu
"Oh? Sungguh?" Xavier langsung menarik dagu Jasmine, membuat wanita yang satu itu menatapnya balik, lantas memasang senyum miring seolah-olah sedang mengunci pandang wanita yang berada di hadapannya itu. "Entah mengapa aku melihat pipimu memerah pekat, seperti tomat yang siap dipanen saja. Mengapa bisa begitu?" Xavier bertanya seraya memasang serigai menggoda, menatap lurus wajah manis nan menggemaskan milik Jasmine seolah-olah wanita di hadapannya ini ialah mangsanya sendiri.
"Menggemaskan sekali, seperti remaja yang baru pertama kali mencicipi rasanya jatuh cinta saja," goda Xavier lagi, seraya terkekeh kecil menatap Jasmine.
__ADS_1
Alih-alih melawan dengan cepat, Jasmine malah memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasa enggan untuk tetap menatap ke arah Xavier yang secara konstan dan terus menerus menatapnya balik dengan tatapan yang terlihat benar-benar intens setengah mati. "Apa-apaan kamu ini? Lepaskan aku!" Jasmine menepis keras tangan Xavier, lantas menghela napas panjang. "Kalau mau dikatakan bahwa aku ini sedang merasa malu, mungkin saja, tetapi tetap saja! Berhentilah menggodaku dengan cara konyol seperti itu!"