
Sementara itu, Jasmine yang terlihat sedang berbincang-bincang kecil dengan sahabatnya, memasang sebuah senyum bahagia. "Kamu tahu, Raphael? Saat aku tidak bisa menghubungimu sama sekali, aku merasa khawatir, tahu!"
Yang diajak bicara hanya diam, menatap Jasmine dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali, seraya sesekali mengguncangkan cairan merah gelap yang berada di dalam gelasnya sendiri. Mata cokelat milik Raphael seolah tidak berhenti mengamati lawan bicaranya sendiri, tetapi dirinya bahkan tidak mengeluarkan satu patah kata pun.
Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita yang memiliki wajah oriental dengan rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat sangat-sangat indah tersebut, tetapi apa pun itu, tampaknya Raphael memang sedang merencanakan sesuatu yang benar-benar buruk pada sahabatnya sendiri.
Bagi Raphael, balas dendam paling manis serta pengkhianatan paling epik yang dirinya pernah buat ialah ketika dirinya membuat Jasmine benar-benar terlihat seperti pelaku sesungguhnya di balik kehancuran hubungan antara Amon dengan istrinya itu.
Ya, benar sekali, orang yang ada di balik skandal ini memang orang yang sudah terlebih dahulu diprediksi oleh sang bodyguard, alias Raphael. Mengapa wanita itu tega mengkhianati sahabatnya sendiri? Entahlah, mungkin Raphael hanya bosan.
"Begitukah? Aku benar-benar minta maaf, Jasmine, hanya saja akhir-akhir ini aku cukup sibuk membintangi beberapa film kecil dan melakukan penyuntingan untuk beberapa iklan, jadi …." Raphael menggedikkan bahunya acuh tak acuh, tidak terlalu peduli akan Jasmine yang terlihat benar-benar tertarik untuk bertemu dengannya itu. "... begitulah."
__ADS_1
Tanpa ada keraguan sama sekali di hati wanita yang memiliki wajah kaukasia itu, Jasmine benar-benar dengan seenak hatinya saja merangkul bahu Raphael, tertawa kecil bersama sahabatnya itu. "Kamu tahu, aku merasa sangat frustrasi, tahu, karena skandal yang sedang terjadi ini! Mereka, para pers itu, menuduhku melakukannya padahal aku bahkan tidak berada di dekat Amon sama sekali!"
"Begitukah? Para pers itu memang benar-benar jahat, ya? Aku tidak habis pikir mengapa mereka bisa melakukan hal seburuk itu padamu." Raphael memasang senyum tipis, seraya balik menepuk-nepuk lembut pundak musuhnya itu, benar-benar tampil seperti si muka dua yang demikian sempurna. "Padahal kamu ini wanita yang baik, tetapi mengapa pula mereka malah melemparkan kesalahan itu kepadamu?"
"Itu dia!" rengek Jasmine seraya mulai menyandarkan kepala di leher Raphael, menandakan bahwa dirinya sudah mulai terkena efek dari alkohol yang dikonsumsinya pada malam itu, membuat Raphael tersenyum kecil, menyadari akan ada sesuatu yang seru yang akan segera terjadi. "Aku benar-benar kesal, Raphael!"
"Begitukah? Ayo, ceritakan lebih banyak padaku, karena pun sudah lama sekali kita tidak bertemu, Jasmine!" Raphael menyemangati, seraya kembali meminta seorang pelayan yang sedang berkeliaran di sekitar kedua wanita tersebut untuk menuangkan lebih banyak alkohol ke dalam gelas minuman Jasmine yang memang hanya tersisa sedikit lagi.
"Ungh …." Jasmine menggeliat, mencari posisi nyaman untuk bersandar pada pundak Raphael yang memang sering ia gunakan untuk bersandar ketika wanita yang malang itu sedang ada masalah. "Bahkan acara jumpa penggemar yang biasa aku lakukan pun mulai diganggu oleh para haters yang menurutku kurang kerjaan itu, kamu tahu?"
"Oh benarkah?" Raphael memasang ekspresi tidak percaya di wajahnya sendiri untuk semakin mengelabui Jasmine yang sudah mulai mabuk itu. "Jahat sekali mereka, sampai menyakiti sahabatku yang baik ini! Memangnya apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Raphael lagi, benar-benar memasang ekspresi bodoh seolah-olah dirinya benar-benar tidak tahu apa-apa sama sekali.
__ADS_1
Wajah Jasmine yang sudah mulai memerah, ditambah lagi dengan ekspresinya yang cukup mendukung, serta gerakan wanita tersebut yang semakin tidak terkontrol, seolah-olah menjadi sesuatu yang demikian bagusnya untuk menjadi video aib yang jika disebarkan, berpotensi sangat bagus sekali untuk merusak reputasi wanita yang malang tersebut hanya dalam satu klik saja.
"Uh … mereka memberikan aku kue cokelat dengan cairan spe_rma sebagai krim, mengirimi aku berbagai pesan berbau kalimat kasar dan teror, dan seolah tidak cukup hanya sampai di sana saja, tidak jarang ada seorang asing yang berusaha menyirami aku dengan air kotor, bahkan ada juga yang mulai mengintip kehidupan pribadiku dengan cara mengirimiku boneka yang sudah terlebih dahulu disisipi kamera perekam, kamu tahu?" jelas Jasmine panjang lebar, dengan nada bicara yang dapat dikatakan tidak menentu naik dan turunnya, membuat Raphael diam-diam tertawa di dalam hati ketika melihat kejadian seperti ini.
Ya, tentu saja wanita yang memiliki wajah oriental dengan rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna cokelat tua tersebut tahu tentang semua hal yang dikatakan oleh Jasmine kepada dirinya. Bagaimana tidak? Semua itu ialah satu dari sekian banyak rencana jahat yang dimiliki oleh Raphael hanya untuk membuat sahabatnya sendiri merasa depresi, dengan karir yang hancur bersama dengan reputasinya, dan jika boleh berakhir sesuai apa yang Raphael mau, Jasmine mati akibat depresinya sendiri, yang artinya posisi Jasmine kelak akan digantikan oleh dirinya.
Jahat? Ya, Raphael memang jahat. Sangat-sangat jahat, malah, sebenarnya. Tetapi bukankah ini semua salah Jasmine? Yang sudah merebut semua mimpi wanita tersebut dengan sebuah senyum di wajahnya yang memang cantik itu? Si_al, kini Raphael semakin membenci Jasmine saja setelah wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri merebut keinginan dan mimpinya menjadi tokoh utama wanita di dalam film yang akan dibintangi oleh dirinya, Jasmine dan tentu saja, Amon.
Bagi Raphael yang sudah merasa muak untuk sekadar mengalah, jika dirinya tidak bisa mencapai mimpinya sendiri, maka tidak ada orang yang boleh sampai ke titik itu. Tidak peduli mau itu sahabatnya alias Jasmine atau bahkan kembarannya sendiri, Roelle, Raphael tidak akan mau mengalah lagi, dan karena itu lah dirinya memutuskan untuk menyusun semua hal ini.
"Astaga- itu menjijikkan sekali, Jasmine! Bagaimana bisa mereka bersikap sejahat itu kepada kamu yang selalu bersikap baik, entah di balik layar atau di depan layar!" Raphael berpura-pura merasa terkejut sekaligus tidak percaya, walau tentu saja, di dalam hatinya sedang tertawa kencang karena dirinya bisa sekali mengajak para haters Jasmine secara diam-diam untuk mulai merundung dan menyakiti wanita itu.
__ADS_1