I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 11


__ADS_3

Ucapan Jasmine yang satu itu langsung membuat Marshel memasang senyum tipis, bagaimana bisa Jasmine langsung menyadari bahwa kali ini Marshel memesan sesuatu yang berbeda ketika mereka berdua sedang memakan hotpot di restoran kesukaan Jasmine.


"Yah, saat ini aku hanya ingin makan sayur saja, nona muda." Marshel menganggukkan kepalanya tipis. "Aku malah tidak menyangka sama sekali bahwa anda akan memesan tiga set sekaligus. Daging, ayam dan sayur." Lelaki tersebut mencoba mencairkan suasana, sekaligus mungkin saja jika beruntung dapat membuat Jasmine tersenyum kala itu.


Sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Marshel kala itu, tawa pelan lepas begitu saja dari mulut mungil Jasmine, menyertai sebuah pukulan pelan di pundak lelaki tersebut. "Kamu ini ada-ada saja, sesekali aku juga ingin makan sebanyak mungkin seperti tidak ada hari besok, kamu tahu?"


"Tetapi nanti diet anda akan berantakan, nona muda?" Marshel merasa sedikit bingung, tampaknya ia kurang mengerti akan konsep libur sehari yang biasanya diterapkan di beberapa jenis diet. 


"Kalau hanya satu hari, aku rasa tidak apa-apa, Marshel."


"Baiklah."


Pesanan mereka pun datang, di mana Jasmine langsung saja memakan sebagian besar pesanannya sembari sesekali mengobrol tentang beberapa hal kecil dengan lawan bicaranya itu. "Marshel, kamu tahu? Sebenarnya aku masih merasa penasaran atas siapa orang yang menjadi dalang di balik skandal ini."


Marshel yang sedang menelan kuah pedas lantas mengusap bersih mulutnya terlebih dahulu. "Ya, sebenarnya aku juga merasa sedikit penasaran, mengapa bisa skandal seperti ini terjadi, apalagi tepat setelah anda dipilih menjadi tokoh utama wanita alih-alih Raphael, sahabat anda." 

__ADS_1


Lelaki itu menghela napas panjang, sebelum kemhali melanjutkan,"di sini jujur saja saya merasa sedikit penasaran, apa benar Raphael lah yang menjadi dalang utama di balik skandal ini, selain beberapa selebritis lain yang juga tidak menyukai anda."


Perkataan yang dikeluarkan oleh Marshel langsung membuat Jasmine terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan beberapa kemungkinan yang ada atas apa yang dikatakan oleh Marshel. Memang benar adanya, di mana skandal tersebut benar-benar terjadi pada Jasmine bertepatan setelah pengumuman di mana Jasmine ditetapkan sebagai tokoh utama wanita pada film kolosal, mengalahkan Raphael sahabatnya dan beberapa artis lainnya. 


Selain itu, sebenarnya saat Jasmine turut hadir merayakan ulang tahun Melody, Raphael yang biasanya ikut bersama wanita yang memiliki wajah kaukasia itu kali ini seolah merasa enggan pergi dengan Jasmine, alih-alih, Raphael malah pergi seorang diri, dan Jasmine bahkan tidak menemukannya di meja yang sama dengan Melody.


Namun, tentu saja Jasmine menolak untuk mempercayai di mana kemungkinan dalang dari skandal yang tengah terjadi ini ialah Raphael, sahabatnya sendiri, karena rasanya tidak mungkin saja Raphael menusuknya dari belakang dengan cara yang benar-benar menyakitkan seperti itu.


"Ha-ha-ha, tidak mungkin, Marshel, tidak mungkin Raphael berkhianat seperti itu pada diriku, karena kami bersahabat karib sejak aku mulai menapaki dunia entertainment yang demikian kejam ini bersamanya!" tolak Jasmine dengan nada yang cukup tegas, membuat Marshel menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin.


"Tetapi … jika seandainya benar, mengapa Raphael mau mengkhianati aku dan menusukku dari belakang seperti ini?" tanya Jasmine dengan nada yang semakin melirih di bagian akhir, merasa benar-benar tidak bisa mempercayai kemungkinan bahwa bisa saja justru Raphael lah yang benar-benar mengkhianati dan menusuknya dari belakang dengan cara menjadi dalang utama di balik skandal yang sedang terjadi pada Jasmine dan Amon kala itu.


Marshel hanya bisa menggedikkan bahunya untuk menjawab pertanyaan yang satu itu. "Entahlah, jika anda menanyakan pendapat pribadiku, mungkin saja jawabanku ialah karena perasaan iri? Atau mungkin saja Raphael tidak suka dan enggan menerima kenyataan bahwa alih-alih dirinya yang terpilih, justru anda lah yang terpilih menjadi tokoh utama wanita."


Jasmine kembali terdiam, entah mengapa selera makannya yang sebelumnya sudah meledak-ledak seolah lenyap dan raib begitu saja seperti ditelan bumi, di mana Jasmine secara mendadak merasa sudah tidak nafsu lagi untuk memakan hotpot kesukaannya itu. "Jika iri, mengapa tidak dia katakan saja secara langsung? Aku mau kok langsung mundur dan menolak tawaran itu jika memang Raphael benar-benar menginginkan posisi sebagai tokoh utama wanita."

__ADS_1


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut menghela napas panjang, menyadari bahwa ucapannya barusan telah merusak suasana hati Jasmine dengan cara terbaik sekaligus terburuk yang pernah ada. "Maaf, nona muda, lupakan saja ucapanku tadi."


"Tidak, tidak apa-apa, Marshel, aku tahu kamu mengatakan hal seperti itu agar aku dapat memikirkan beberapa orang yang mungkin saja menjadi penyebab semua masalah ini." Jasmine meletakkan sumpitnya di atas meja. "Aku tidak nafsu makan lagi, kamu saja yang habiskan semua ini."


"Nona … aku benar-benar minta maaf." Marshel menepuk-nepuk pundak Jasmine dengan lembut. "Ayo makan hotpotnya, nanti dagingnya menangis lho kalau tidak anda makan."


Ya, ingatkan Marshel bahwa itu ialah ide buruk untuk mencoba menghibur Jasmine dengan cara seperti itu, karena Jasmine langsung memberi sang bodyguard tatapan yang aneh.


"Kamu bisa berkata seperti itu?" Jasmine menatap Marshel, memberi lelaki tersebut sebuah tatapan aneh sekaligus tidak percaya. "Aku tidak percaya kamu mengatakan kalimat seperti ini."


"Eh?" Marshel memiringkan kepalanya sedikit, merasa benar-benar bingung atas ucapan Jasmine beberapa detik yang lalu. Apa yang aneh dari ucapan Marshel tadi? Rasanya itu normal-normal saja, setidaknya menurut Marshel yang dibesarkan oleh orang tuanya dengan cara semacam itu. "Apa yang … aneh dari ucapanku tadi?"


Jasmine terkekeh pelan, merasa sedikit terhibur dengan kalimat yang diucapkan Marshel tadi. "Sebenarnya tidak ada yang lucu dari ucapanmu tadi, hanya saja itu terdengar berbeda ketika kamu yang mengatakannya, itu saja, tidak lebih dan tidak kurang," jelas Jasmine seraya mengambil kembali sumpitnya. "Tapi tidak apa, terima kasih, nafsu makanku jadi kembali meningkat setelah mendengar kalimatmu tadi." 


Setelah melanjutkan kalimatnya, tanpa menunggu waktu sama sekali, Jasmine langsung menyuap sesuap besar campuran daging, ayam dan sayur yang didapatkannya dengan sekali jepitan saja, memasukkan semua makanan itu ke dalam mulutnya hingga pipi Jasmine mengembang.

__ADS_1


Meninggalkan Marshel yang menatap sang nona muda dengan tatapan tidak percaya bahwa Jasmine melakukan hal tersebut.


__ADS_2