I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 25


__ADS_3

Sementara itu, Marshel yang baru saj diusir dengan sedemikian kasarnya oleh Jasmine, terlihat melangkahkan kakinya menuju kafe terdekat setelah pemuda yang malang tersebut pergi meninggalkan gedung apartemen tempat tinggal Jasmine. Entahlah, pada situasi semacam ini, rasanya Marshel ingin sekali bersantai di suatu tempat tanpa mau memikirkan banyak hal.


Percakapan yang tadi ia lakukan dengan Jasmine tadi juga entah mengapa mengundang rasa bersalah yang berbeda yang secara tiba-tiba saja muncul di hati pemuda tersebut. Bohong jika Marshel katakan bawa dirinya tidak menyimpan perasaan yang berbeda akan Jasmine.


Pada kenyataannya, lelaki yang satu itu bahkan merasa bahwa dirinya sudah jatuh dengan sangat-sangat dalam dan jauh ke dalam kubangan aneh tetapi menyeangkan yang bernama cinta. Entah apa yang sebenarnya membuat Marshel measa jatuh cinta dengan Jasmine, tetapi rasa cintanya itu entah mengapa terasa demikian tabu dan tidak pantas, membuat Marrshel merasa sadar diri atas posisinya itu.


Mau bagaimana pun, dirinya hanya merupakan seorng bodyguard, yang terang saja tidak boleh merasa jatuh cinta kepda atasan yang menyewanya, apalagi atasan yang seperti Jasmine.


Di mata Marshel, Jamine memang terlihat demikian cantik, dengan rambut panjang yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat demikian apik jatuh di bau ringkih nan sempit milik wanita tersebut. Selain itu, bagi Marshel, senyuman yang dimiliki oleh Jamine juga terlihat sangat manis dan menggemaskan.


Ingin rasa di hati Marshel meminang dan menjadikan sang nona muda sebagai miliknya, tetapi tidak bisa. Strata sosial milik kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut terasa demikian jauh sekali.


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut lantas memutuskan untuk masuk ke dalam kafe kecil  yang berada tepat di sebelah gedung apartemen itu, kafe mungil yang juga sering digunakan oleh Jasmine ketika wanita itu merasa bosan akan suasana apartemen yang tidak jarang tterasa demikian membosankan.


Lagi-lagi Marshel menghela napas panjang seraya berdiri di depan kounter yang memang digunakan sebagai meja penerimaan pesanan, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, membut Marshel menciptakan kesan misterus yang tidak biasa.

__ADS_1


"Anda datang lagi, Marshel, sudah satu minggu semenjak terakhir kali kamu datang ke sini," sapa ang pemilik kafe mungil dengan demikian ramahnya, ialah Jacob, satu dari sekian banyak dari para penggemar yang dimiliki oleh Jasmine. "TIdak biasanya kamu hanya sendirian ke sini, mana Jasmine?" Jacob lagi-lagi  bertanya dengan nada ramahnnya yang demkian khas itu.


Alih-alih menjawab pertanyaan Jacob begitu saja, Marshel yang suasana hatinya sendiri tidak begitu baik pun hanya berdeham dengan sangat-sangat seadanya sekali, seolah antara niat dan tidak niat menjawab pertanyaan tersebut.


"Kalian  berdua sedang berkelahi, ya? Apa ini karena skandal yang sedang dialami oleh Jasmine, ya? Jahat sekali mereka itu." Jacob mencoba menjawab pertanyaannya sendiri, sekaligus berusaha berbincang-bincang kecil dengan Marshel yang terlihat sedang berada di dalam suasana hati yang tidak terlalu baik. "Baiklah, omong-omong hari ini kamu ingin pesan apa? Menu yang bau atau kopi hitam pahit super pekat seperti biasanya?"


Lagi-lagi Marshel menjawab hanya dengan dehaan yang benar-benar seadanya sekali, seolah pemuda tersebut sedang berpikir atas menu macam apa yang ingin ia dapatkan pada hari yang menurutnya kelabu ini.


"Kurasa spesial hari ini, aku ingin ambil menu baru, aku ingat itu sangat-sangat manis, tidak biasanya tetapi tidak apa-apa, toh suasana hatiku juga sedang tidak terlalu bagus saat ini," jawab Marshel panjang lebar, setelah hanya menjawab pertanyaan Jacob dengan dehaman biasa yang sebenarnya terkesan sangat-sangat menyebalkan itu.


"Tidak usah terlalu dibahas, Jacob, aku sedang tidak terlalu berminat untuk membahasnya." Marshel menyahut seraya mengeluarkan selembar uang dengan nilai seratus dollar yang langsung ditolak oleh sang lawan bicara.


"Minuman kali ini aku yang traktir, Marshel, kamu tenang saja, toh ini masih merupakan minuman uji coba." Jacob memasang senyum tipis, yang malah dibalas oleh Marshel dengan cara menaikkan sebelah alisnya setinggi mungkin.


"Terserah."

__ADS_1


"Dingin sekali, aku jadi takut," goda Jacob lagi seraya menatap punggung Marshel yang memilih untuk duduk di kursi pojokan kafe mungil tersebut.


Sementara itu, saat ini sang bodyguard yang tengah duduk sendirian di kursi kafe mungil tersebut terlihat sedang terpekur seolah-olah tengah memikirkan sesutu. Entah apa itu, teapi pastinya tidak akan terlalu jauh dari pemikiran Marshel mengenai wanita yang menjadi pujaan hatinya itu.


Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati sang pemuda, ada terbersit perasaan  berrsalah yang  tidak biasa di hatinya itu, di mana entah mengapa Marshel merasa sedikit bersalah karena sudah meminta sang nona muda untuk menyerah atas perasaannya sendiri. yang benar saja, memangnya sebenarnya apa pula hak Marshel dalam hal tersebut?


Namun Marshel tetap memilih jalur yang terjal serta tajam dan nyaris tidak ada akhhihrnya itu h anya demi mencapai sat hal, yakni Jasmine yang menyerah atas perasaan yang disimpan wanita tersebut akan dirinya.


Marshel lantas mengeluarkan ponselnya sendiri, menatap ke arah wallapaper ponsel yang memperlihatkan foto Jasmine yang tengah tertidur lelap seraya  bersandar pada pundak lebarnya, terlihat polos tetapi juga menggemaskan setengah mati, membuat Marshel tidak jarang merasa gemas sendiri ketika melihat foto tersebut hingga lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut memutuskan untuk menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper ponselnya sendiri.


Jasmine yang polos, Jasmine  yang cantik, Jasmine yang terlihat mengantuk, Jasmine yang terlihat kelelahan, dewasa, kekanakan, menggemaskan, dan tentu saja terlihat manis itu seolah-olah selalu berhasil meluluhkan dan menggoda hati Marshel, tetapi pada saat yang nyaris berrsamaan membuat Marshel merasa tidak pantas untuk jatuh hati dengan anita tersebut.


Untuk  yang kesekian kalinya, Marshel menghela napas panjang, berat sekali rasanya bagi pemuda tersebut untuk memiliki perasaan ini, tetapi apa mau dikata? Marshel sudah  terlanjur menyimpan perasaan tersebut, dan tanpa disadari oleh kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut , rasa suka dan cinta yang berada di hati Marshel bertumbuh semakin kuat dan tinggi dari hari ke hari.


Bagi Marshel, tidak peduli apakah Jasmine membalas perasaannya atau tidak, tetpi  tetap saja bagi Marshel rasanya sangat-sangat tidak profesional jika dirinya sampai jatuh hati dengan sang nona muda alias Jasmine, yang merupakan atasannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2