
Mendengar permintaan yang telah diajukan oleh lawan bicaranya itu, Marshel hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, seolah-olah sudah mengerti atas apa yang telah dikatakan oleh wanita yang berada di hadapannya itu. "Baik, nona muda ... saya mengerti, maaf karena saya sudah bertindak secara gegabah dan mungkin saja di mata anda terkesan kekanak-kanakan." Marshel memasang senyum tipis, lantas berjalan ke arah ruang tamu yang sudah kosong, tanpa ada kehadiran Xavier sama sekali di tempat itu. "Jadi menurut anda apa yang seharusnya kita berdua lakukan saat ini? Atau mungkin anda ingin saya melakukan sesuatu? Mengingat kita sudah tidak memiliki hubungan antara nona muda dan bawahannya."
Wanita cantik yang memiliki wajah kaukasia yang terlihat benar-benar menggemaskan dengan rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih dan mata yang memiliki warna biru laut tersebut lantas turut berjalan mengikuti Marshel, kemudian duduk di sebelah laki-laki yang satu itu seraya memasang senyum yang terlihat benar-benar manis dan menggemaskan di wajahnya itu. "Permintaan, ya? Benar juga, setelah aku pikir-pikir, kita berdua memang sudah tidak memiliki hubungan sama sekali satu sama lainnya semenjak aku sudah merobek kertas surat kontrak kerja sama yang sudah kita tanda tangani satu sama lainnya itu. Aku belum memikirkannya, tetapi bisa dikatakan bahwa ada sesuatu yang sudah cukup mengganggu pikiranku sendiri."
__ADS_1
Laki-laki yang terlihat kekar dengan rambut yang memiliki warna cokelat dan mata yang memiliki warna hijau tersebut menatap wanita yang berada di hadapannya itu dengan tatapan bingung sekaligus penasaran, menunggu apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Jasmine kepada dirinya itu. "Mhm ... memangnya apa yang sekiranya masih menganggu alam pikiran anda, nona muda Jasmine? Maksud saya, jika memang anda sudah tidak terlalu memikirkan tentang hubungan yang terjadi di antara anda dan tuan muda Xavier dan kenyataan bahwa kita berdua memang sudah tidak memiliki hubungan sama sekali satu sama lainnya, lantas apa yang sekiranya masih anda pikirkan?"
Jasmine tertawa kecil, lantas mengelus lembut kepala Marshel yang sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita yang satu itu. "Yah, soal apa yang aku pikirkan itu lebih jauh ke arah panggilan yang sudah kamu berikan padaku, Marshel. Maksudku, mengapa pula kamu masih saja memanggilku dengan panggilan nona muda? Seperti yang kamu katakan, kita berdua kan sudah tidak memiliki hubungan antara tuan dan bawahan lagi, lantas mengapa pula kamu masih saja memanggilku dengan panggilan nona muda? Konyol sekali," keluh sang nona muda panjang lebar, seraya terus menatap lelaki yang berada di hadapannya itu dengan tatapan sebal yang terang saja terlihat menggemaskan di mata Marshel.
__ADS_1
"Hum ... memangnya anda mau dipanggil seperti apa?" Marshel bertanya dengan nada bicara yang demikian halus dan lembut, serta menghanyutkan hati seraya mencoba merangkul erat Jasmine, yang tentu saja dibiarkan oleh wanita yang satu itu, mengingat mau bagaimana pun juga memang pelukan Marshel itu terasa nyaman bagi Jasmine yang memang juga sangat-sangat mencintai lelaki bertubuh tinggi dan besar yang berada di sisinya itu.
"Panggil saja aku sayang!"
__ADS_1