
Perkataan yang telah dikeluarkan oleh Xavier itu terang saja membuat Jasmine langsung memanyunkan bibirnya sendiri, yang benar saja! Bagaimana bisa lelaki macam Xavier menjadikan wajah panik milik Jasmine sebagai salah satu media hiburannya? Xavier itu, psikopat, ya? Bisa-bisanya bersikap sekejam itu pada Jasmine.
"Eugh ... yang benar saja Xavier, aku sudah terlebih dahulu merasa panik karenamu, tahu! Aku sampai mengira kalau ... kalau aku ini saking lemah dan tidak bergunanya ... sampai diabaikan dan diacuhkan oleh Marshel, tahu!!" kesal sang nona muda seraya menatap tajam lawan bicaranya yang berada tepat di hadapannya itu seolah-olah Xavier adalah penyebab segalanya.
"Tidak kok, siapa bilang kamu ini hanya wanita lemah menye-menye yang tampaknya selalu memerlukan perlindungan dari pihak lain? Malah menurutku kamu ini merupakan wanita yang kuat." Xavier mengalihkan pandang ke arah lain, lebih tepatnya ke arah pelayan restoran yang sedang mengantarkan mereka berdua makanan penutup alias dessert berupa cremme brulle dan beberapa kue kecil nan mahal lainnya, lantas menggumamkan kata terima kasih, kemudian menyelipkan beberapa ribu dolar Amerika di bawah nampan sang pelayan.
"Omong-omong makanan penutupnya sudah datang, kamu tidak mau memakannya terlebih dahulu atau bagaimana?" Sang Chief Executive Officer tersebut bertanya seraya menyodorkan sepiring cremme brulle yang terlihat benar-benar lezat dan tentu saja, menggugah selera makan bagi siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
Jasmine yang melihat makanan penutup macam itu hanya bisa menghela napas panjang, dietnya tampaknya hanya akan semakin kacau saja seiring waktu wanita tersebut menjalin hubungan dengan Xavier. "Yang benar saja, Xavier, kamu tahu aku saat ini sedang diet, kan? Lantas mengapa kamu masih memberikanku makanan penutup dengan kalori super tinggi seperti ini?" Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum sinis seraya menatap mata Xavier, mencari tahu apa maksud sesungguhnya di balik perbuatan Xavier kali ini kepada sang nona muda yang sedang diet ketat.
"Hm? Jadi kamu tidak mau? Ya sudah aku saja yang habiskan." Dengan santainya, seolah-olah tidak merasa bersalah sama sekali, lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis kemudian menganggukkan kepalanya, meraih kembali piring berisi kue cremme brulle tersebut lalu mulai memotongnya sedikit. "Cremme brulle di sini itu enak sekali, tahu, mengapa kamu tidak mau memakannya? Karena dietmu itu? Halah, diet masih bisa dilakukan besok, makan enak? Harus hari ini, Jasmine! Kita hanya hidup satu kali! Lakukan apapun yang kamu mau sebelum menemui ajalmu!"
"Justru karena kita hanya hidup sekali itu lah kenapa kita harus menjaga kesehatan, Xavier! Yang benar saja, astaga!" Jasmine menggerutu seraya meminum segelas air putih yang memang juga dipesan oleh sang nona muda sebagai pembersih mulut dari berbagai sisa makanan yang tersisa di dalam mulutnya berikut berbagai macam rasa makanan yang masih tersisa di dalam saja juga.
"Memang aku tahu cremme brulle itu enak sekali, dengan perpaduan manis dan gurih yang lumayan khas tetapi kamu harus tahu betapa tingginya kalori dari cremme brulle tersebut! Bobot badanku bisa saja naik beberapa kilogram lagi karena makan terlalu banyak, asal kamu tahu saja!"
__ADS_1
"Soal rencanamu mengenai kemungkinan kita akan menikah ... bagaimana kamu akan mengatakannya pada Marshel? Maksudku cara apa yang akan kamu ambil tentang yang satu itu? Tidak mungkin, kan, kamu secara blak-blakan sekali berkata pada Marshel bahwa kita berdua akan menikah sebentar lagi?" tanya Xavier seraya lagi, menyesap anggur merah yang berada di gelas lelaki tersebut, dengan santai sekali seolah memang hidup hanya akan berlangsung satu kali saja.
Jasmine lantas mengambil sepiring caesar salad yang juga memang sengaja dipesankan Xavier sebelumnya agar Jasmine tidak terlalu jengkel atau kesal terhadap lelaki tersebut, lantas mulai menusuk sayuran yang ada di piring tersebut dengan garpu, memakannya secara anggun dan elegan setengah mati. "Mhm ... kalau soal itu jujur saja aku belum terlalu memikirkannya, Xavier, maksudku, memangnya kita harus memikirkan cara memberitahu lelaki itu? Alih-alih langsung saja tanpa tedeng aling-aling sama sekali berkata bahwa kita berdua akan menikah?" Sang nona muda bertanya seraya menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, seolah-olah sedang berpikir bahwa apa yang menjadi idenya itu merupakan ide yang benar-benar bagus sekali.
"Itu ... agaknya bukan ide yang bagus untuk secara blak-blakan sekali berkata pada Marshel bahwa kita berdua akan menikah sebentar lagi ... maksudku bisa saja Marshel mengira bahwa kita berdua ini hanya sedang bercanda, dan tentu saja aku merasa sedikit khawatir apabila lelaki itu sepertinya akan tahu bahwa ini semua hanya rencana konyol yang kita berdua buat. Dan memikirkan tentang beberapa variabel masa depan yang mungkin saja akan terjadi, rasanya apa yang aku katakan itu mungkin saja terjadi," jelas Xavier panjang lebar, seraya menggaruk pipinya sendiri menggunakan satu jari, entah mengapa pula Xavier berpikir demikian.
"Mhm ... kurasa kali ini apa yang kamu katakan itu bisa saja terjadi, tetapi rasanya mustahil saja kita malah sama sekali tidak memberitahu Marshel mengenai rencana pernikahan kita, pun lagi bukankah itu rencana awalnya? Membuat Marshel merasa cemburu setengah mati hingga akhirnya lelaki yang satu itu mengakui perasaan yang disimpannya untukku itu?" Jasmine bertanya balik seraya menyandarkan punggung sempitnya di sandaran kursi tersebut.
__ADS_1
"Jika apa yang aku katakan tadi malah tidak terjadi sama sekali, entah mengapa itu artinya sia-sia saja kita menyusun semua rencana ini, Xavier." Jasmine menghela napas panjang, seolah merasa frustrasi atas apa yang tengah terjadi saat itu, dan mungkin saja ke depannya.
Melihat rasa frutrasi yang ditunjukkan oleh Jasmine, Xavier memutuskan untuk menghela napas panjang, tampaknya sang Chief Executive Officer tersebut harus lebih berhati-hati lagi dalam memilih kata yang terang saja ke depannya secara mau tidak mau harus diutarakan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut. "Hei, hei, tidak usah bersikap panik seperti itu. Lagipula ini masih merupakan kemungkinan, bukan? Tetapi mengingat perubahan yang sudah Marshel tampakkan padamu ... memang ini bisa saja terjadi. Sudahlah, Jasmine, kamu tidak perlu memusingkan ini."