
Jasmine menghela napas panjang, seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Xavier, tentu saja tanpa lupa menyandarkan kepalanya di pundak lelaki tersebut. Rasanya nyaman, sekaligus hangat dan damai ketika melakukan hal tersebut, di mana Jasmine pada akhirnya merasa bahwa ada orang lain yang melindunginya selain Marshel yang selalu bersikap kaku setengah mati itu.
"Bagaimana perasaanmu?" Xavier bertanya seraya mengusap lembut rambut Jasmine yang diikat menjadi messy-bun kala itu, merasakan betapa lembut dan halusnya rambut Jasmine, seolah-olah itu merupakan permen kapas yang demikian lucu dan tentu saja menggemaskan. "Apa ... sudah lebih baik?"
Yang ditanya hanya menjawab dengan dehaman singkat, seadanya sekali hingga Xavier kala itu tidak bisa merasa yakin bahwa suasana hati Jasmine sudah benar-benar membaik atau tidak, membuat lelaki yang satu itu memasang senyum tipis, tampaknya suasana hati Jasmine kala itu masih sedikit kacau. "Kamu mau begini semalaman? Tidak apa sih, toh aku sudah membawa selimut kalau-kalau kamu mau bersandar di pundakku sepanjang malam, melamun melihat lautan yang indah ini."
Lagi-lagi Jasmine hanya terdiam seribu bahasa, seolah wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri merasa enggan untuk berbicara walau hanya satu patah kata pun. Tanpa sadar membuat Xavier yang merupakan tipikal orang yang mengutamakan komunikasi merasa sedikit frustrasi dan stress akibat Jasmine yang hanya terdiam seperti patung batu, atau boneka, atau apalah.
__ADS_1
"Jasmine, setidaknya tolong katakan sesuatu agar aku bisa memahamimu dengan baik, aku tidak akan bisa memahami bagaimana perasaanmu kali ini jika kamu hanya terdiam seperti boneka begitu," pinta Xavier dengan nada penuh lemah lembut, seraya secara konstan dan terus menerus mengusap lembut kepala Jasmine, yang pada akhirnya membuat wanita itu merasa nyaman atas apa yang telah dilakukan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut kepada dirinya itu.
"Xavier, entah mengapa aku mulai merasa demikian nyaman denganmu," mulai Jasmine seraya melirik lawan bicaranya yang sedang mengusap kepala sang nona muda kala itu, menatap Xavier yang juga sedang menatap ke arah lautan lepas dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun itu. "Seolah ada sesuatu yang Marshel tidak miliki di dalam dirinya, tetapi ada di dalam dirimu, dan jujur saja, itu mulai membuatku merasa bingung dan bimbang setengah mati."
Kini giliran sang Chief Executive Officer tersebut yang terdiam, seolah-olah membatu dan berubah menjadi patung, dalam diam menatap lautan yang gelap tersebut. Terang saja hal tersebut membuat Jasmine menghela napas panjang, dirinya pun tidak bisa marah jika Xavier balik mengabaikannya seperti itu. "Aku menginginkan perhatian dalam bentuk kata-kata yang kamu berikan, pun aku juga menginginkan perhatian dalam bentuk perbuatan seperti apa yang biasa dilakukan oleh Marshel padaku. Aku ini ... memang wanita yang tamak dan konyol, ya?"
"Jasmine ...." Xavier akhirnya menjawab, seraya menatap ke arah wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut. "Aku tidak terlalu ambil pusing jika kamu berkata seperti itu, kamu tahu? Mengapa? Karena aku tidak peduli tentang siapa yang sudah memenangkan hatimu sedari awal. Apa yang aku pedulikan adalah apa yang harus aku lakukan jika aku merupakan pasanganmu, dan itu lah yang selama ini aku lakukan padamu, Jasmine. Lagipula ..." Lelaki yang malang itu menghela napas panjang. "Sedari awal aku sudah tahu bahwa apa yang kamu lakukan selama ini ialah membayangkan bahwa aku ialah Marshel, dan itu tidak masalah, benar-benar tidak apa-apa. Aku mau melakukan semua hal gila ini karena aku menyayangimu, tidak lebih dan tidak kurang, juga tidak peduli siapa sebenarnya yang jauh lebih kamu sayangi."
__ADS_1
Mendengar kalimat panjang lebar yang telah dikatakan oleh lawan bicaranya itu terhadap dirinya, Jasmine terdiam, setitik perasaan bersalah yang tidak biasa entah mengapa muncul dan menyeruak begitu saja di hati sang aktris muda begitu mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh lawan bicara sekaligus pasangannya itu. "Huft ... setelah aku pikir-pikir dengan baik, Xavier, entahlah ... aku sendiri masih merasa bimbang setengah mati, kamu tahu? Aku tahu kamu demikian sayangnya padaku, tetapi hatiku ini jauh lebih memilih Marshel alih-alih kamu. Aku- aku ...." Entah mengapa mata wanita tersebut mulai terasa memanas, seolah-olah sebentar lagi akan mengeluarkan air matanya akibat pikirannya yang sedang demikian kacau kala itu.
Benar saja, sesuai dugaan, kurang dari lima menit kemudian, air mata sudah terlihat menggelinang di pelupuk mata Jasmine, yang kemudian secara perlahan-lahan turun dan membasahi pipi putih milik wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri, juga membasahi pundak Xavier yang menjadi tempatnya bersandar kala itu. Entahlah, Jasmine sendiri tidak terlalu mengerti mengapa dirinya bisa berubah seemosional ini hanya karena hal kecil yang sepantasnya tidak usah dipikirkan, dan sebenarnya sudah diketahui apa jawaban pastinya kala itu. Terang saja Xavier dapat langsung menyadari bahwa sang nona muda tengah menangis, bahunya secara mendadak terasa basah akibat air mata Jasmine kala itu.
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung menolehkan kepalanya, menatap ke arah Jasmine yang terlihat sedang berusaha menahan isak tangisnya sendiri, seolah-olah merasa sangat-sangat bersalah atas apa yang telah terjadi. Xavier menghela napas panjang, yang benar saja, bagaimana bisa Jasmine menangis hanya karena ucapan sederhana yang sebenarnya ialah merupakan kebenaran yang baru saja dikatakan oleh sang Chief Executive Officer tersebut?
"Ya ampun ... Jasmine, tidak perlu menangis seperti itu. Apa yang aku katakan memang benar, lagi aku sendiri sudah tidak terlalu peduli apa kamu masih memikirkan tentang Marshel atau tidak, karena satu-satunya hal yang aku pedulikan ialah kamu menjadi pasanganku, setidaknya saat ini, Jasmine." Xavier berkata lagi, berusaha menenangkan hati wanita itu, yang sedang kacau balau akibat sesuatu hal.
__ADS_1