I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 24


__ADS_3

Jasmine tahu, sangat-sangat tahu bahwa Marshel juga menyukainya balik. Berbagai hal telah tanpa sadar dibuktikan oleh lelaki itu mengenai ketertarikannya terhadap Jasmine, salah satunya dengan cara memperlihatkan perhatian yang sebenarnya sangat-sangat amat tidak biasa ditujukan oleh seorang bodyguard kepada atasannya.


Namun mengapa? Mengapa lelaki tersebut lebih memilih menyerah atas perasaannya sendiri alih-alih memperjuangkan cintanya terhadap Jasmine? Apa karena Marshel hanya merupakan seorang bodyguard? Entah mengapa rasanya sangat-sangat tidak masuk akal sekali di pikiran Jasmine jika memang itu alasannya.


Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut juga tentu saja menyimpan ketertarikan yang sama atas keberadaan Marshel dan segala perhatian yang telah ditampakkan juga diberikan oleh pemuda tersebut.


Karena Jasmine tahu bahwa Marshel tidak akan pernah mau mengakui perasaannya sendiri, maka satu-satunya jalan yang Jasmine ambil adalah dirinya lah yang terlebih dahulu menggoda dan mungkin menyatakan perasaannya akan Marshel.


Ya, ciuman pada malam sebelumnya juga salah satu dari sebagian rencana yang dimiliki oleh wanita tersebut untuk menggoda Marshel, ingin tahu apakah laki-laki tersebut akan menolak atau menerima ciumam yang diberikan oleh Jasmine. Pada kenyataannya, Marshel menerima ciuman tersebut, di mana bahkan lelaki itu sampai membalas ciuman lembut yang Jasmine berikan dengan cara turut melilitkan lidahnya dengan sangat-sangat lembut dan hati-hati.


Memang, Jasmine pernah mendengar atau membaca dari salah satu komik, di mana kisah komik tersebut hampir mirip dengan kisahnya dengan Marshel, hingga sang tokoh utama lelaki berkata pada wanitanya, 'langit akan selamanya menjadi langit, mana boleh saya memeluk langit.' Tetapi bagaimana jika sang langit di kisah tersebut juga mencintai penjaganya? Haruskah mereka berdua menyerah begitu saja? Menurut Jasmine tidak.

__ADS_1


Karena itu juga lah, wanita tersebut memilih untuk tetap melakukan berbagai cara untuk meluluhkan hati Marshel, di mana salah satu cara gila yang mungkin saja akan  diambil oleh Jasmine ialah dengan menyewa seorang lelaki lain, yang akan digunakan oleh wanita tersebut sebagai kekasihnya yang baru, setidaknya hingga suatu saat nanti Jasmine berharap bahwa kecemburuan Marshel akan terkuak dan pada akhirnya lelaki tersebut mau mengakui perasaannya sendiri.


Konyol? Bodoh? Nekad? Memang, tetapi Jasmine tidak mau terlalu ambil pusing mengingat memang tidak banyak cara lain yang dapat diambil oleh wanita yang memiliki wajah kaukasia itu untuk sekadar membuktikan pemikiran miliknya sendiri itu.


Jasmine kemudian menyeka air matanya sendiri, membersihkan wajahnya yang sedikit berantakan menggunakan selembar tisu, sebelum mulai menyusun rencana liciknya sendiri. Jika Jasmine tidak salah ingat, kira-kira di antara para penggemarnya itu, ada seorang lelaki yang cukup tampan, juga cukup kaya untuk sekadar membeli merchandise acak yang bahkan nyaris tidak ada nilainya, di mana penggemar yang sama juga sering mengirimi Jasmine berbagai hadiah, mulai dari boneka kecil hingga tas bernilai cukup mahal.


Memang Jasmine akan terdengar seperti wanita penggila uang, tetapi jika misalnya Jasmine memilih penggemarnya secara acak, maka tidak akan menutup kemungkinan bahwa Marshel bisa tahu bahwa ini ialah rencana wanita tersebut, pun bisa juga sentimen publik berkata bahwa Jasmine sengaja memilih salah satu dari penggemarnya untuk sekadar berpura-pura menjadi kekasihnya agar memulihkan nama Jasmine sendiri dari skandal yang tengah terjadi.


Wanita cantik yang memiliki tubuh yang tinggi dan ramping itu lantas mengambil ponselnya sendiri, memeriksa tumpukan pesan yang dibiarkan Jasmine tidak dibalas dari kemarin malam, lebih tepatnya dari mulai dirinya menghadiri acara ulang tahun Reolle diadakan di salah satu tempat berbentuk taman, yang sebenarnya merupakan sebuah bar dengan konsep outdoor yang lumayan ciamik.


Dengan sebuah senyum yang sebenarnya benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali, Jasmine langsung membalas pesan tersebut dengan beberapa kalimat pembuka, dan tentu saja wanita tersebut juga tidak lupa untuk meminta maaf karena tidak bisa membalas pesan Xavier dengan lebih cepat.

__ADS_1


Sesuai dengan apa yang diharapkan Jasmine, lelaki yang menjadi cadangannya tersebut langsung membalas pesan yang dikirimkan oleh Jasmine, hingga pada akhirnya wanita yang memiliki wajah kaukasia itu meminta untuk bertemu dengan Xavier dengan alasan ada yang perlu dibicarakan di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut.


Terang saja Xavier langsung menyetujui apa yang dimaui oleh Jasmine, lagi pula siapa pula yang mau menolak untuk bertemu dengan idolanya sendiri sekaligus rekanan bisnis yang dapat dikatakan mendatangkan uang yang jumlahnya tidak sedikit?


"Bagus," gumam Jasmine seraya meletakkan kembali ponselnya di atas meja yang berada di dekat wanita tersebut. Satu dari rencananya sudah mulai berjalan, di mana itu artinya bagi Jasmine, rencana berikutnya tidak akan terlalu sulit untuk dijalani oleh wanita tersebut. "Aku tidak menyangka akan semudah ini untuk bertemu dengan dia. Dasar, lelaki bodoh."


Jasmine lantas berdiri, merapikan kemeja putih kebesaran yang ia gunakan sebelum kembali masuk ke kamar untuk mengganti pakaian. Saat ini juga Jasmine akan pergi untuk bertemu dengan Xavier, di mana wanita yang satu itu akan membicarakan rencananya dengan sang kolega.


Ya, kali ini Jasmine akan pergi tanpa Marshel, di mana pertemuan kali ini Marshel tidak boleh ikut dan duduk di sisi wanita tersebut, melainkan hanya boleh berdiam diri di dalam mobil, memgingat bisa saja Marshel tahu maksud di balik apa yang akan dilakukan oleh Jasmine pada saat itu, mengingat bahwa bisa dikatakan bahwa otak Marshel itu tergolong sangat pintar untuk kalangan para bodyguard.


Jika Marshel tidak mau mengakui perasaan yang dimiliki oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut akan Jasmine, maka Jasmine lah yang akan secara sukarela melakukan apa saja agar Marshel mau mengakui perasaan lelaki tersebut yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Jika Marshel tidak mau, maka aku yang akan membuatnya buka mulut dengan berbagai cara." Jasmine berkata dengan penuh percaya diri di hadapan cermin seraya mengusapkan sebuah pewarna bibir yang terlihat apik di bibir mungil milik sang nona muda.


"Marshel, lihat saja, sampai akhir pun aku akan mendapatkanmu. Pikirmu aku akan menyerah begitu saja saat kamu berkata bahwa aku harus menyerah atas perasaanku padamu hanya karena kamu bodyguardku? Hmph-" Jasmine langsung memasang senyum sinis. "Dalam mimpi, Marshel, dalam mimpi."


__ADS_2