
Setelah acara jumpa penggemar yang berlangsung nyaris setengah hari itu selesai, Jasmine langsung dibawa ke dalam mobil oleh Marshel, bersama seluruh hadiah dan surat yang berasal dari fans, yang tentu saja sudah terlebih dahulu disaring dan dipastikan keamanannya oleh sang bodyguard yang masih cukup muda itu.
"Senangnya aku, Marshel, masih ada yang mau mendukungku seperti ini." Jasmine berkata seraya melepas sepatu hak tinggi yang biasa membalut kaki jenjangnya itu. "Walau tadi ada beberapa hal yang kurasa kurang menyenangkan terjadi, tetapi selebihnya membuatku merasa senang kok."
Marshel yang sudah siap dengan kompres hangat dan beberapa botol salep anti radang memasang senyum tipis. "Saya senang jika anda turut merasa senang, nona muda." Lelaki tersebut lantas berjongkok di hadapan Jasmine, lalu mulai mengusap dan mengelap lembut kaki Jasmine yang terlihat memerah dan sedikit bengkak itu sepenuh hati.
"Tapi aku masih penasaran …." Jasmine menjepit dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. "Mengapa kamu membuang kue cokelat tersebut? Lagipula rasanya kan sayang sekali jika aku tidak bisa mencicipi kue cokelat tersebut." Wanita tersebut langsung memanyunkan bibirnya, menatap ke arah Marshel dengan tatapan yang tidak dapat diartikan oleh lelaki yang satu itu.
Marshel hanya bisa menghela napas panjang seraya mendongakkan kepalanya, memasang senyum ke arah Jasmine lalu kembali mengusap kaki jenjang wanita tersebut. "Hei, kue tersebut sudah terkontaminasi cairan yang tidak seharusnya berada di sana, karena itu lah aku memilih untuk membuang kue tersebut, begitulah."
Jasmine menghela napas panjang seraya memanyunkan bibirnya, menatap sebal ke arah Marshel tanpa banyak berkata. "Baiklah, baiklah, jika demikian katamu, aku tidak bisa banyak bicara." Wanita yang satu itu kemudian memasang senyum hangat. "Kakiku sudah terasa lebih baik, terima kasih, Marshel."
"Ah, ya, gaun anda juga sudah diambil Simon, dan sekarang berada di kursi belakang." Marshel melirik ke arah gaun yang berada di kursi belakang mobil mewah mereka. "Itu dia, gaun berwarna gelap sebagai pencegahan jika saja anda tiba-tiba muntah ketika sudah terlalu mabuk."
Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis, merasa senang karena Marshel sudah menyediakan apa yang sudah seharusnya disiapkan oleh lelaki yang satu itu. "Baguslah, terima kasih, Marshel, tidak heran aku selalu bisa mengandalkan kamu nyaris di berbagai situasi dan kondisi."
__ADS_1
Lagi-lagi Marshel merasakan pipinya mulai memanas, merasa malu karena menerima pujian yang diberikan oleh Jasmine kala itu. Entahlah, Marshel hanya merasa sedikit, atau jauh lebih senang ketika dirinya menerima pujian hangat yang dapat dikatakan cukup jarang diberikan oleh Jasmine, entah kepada Anna maupun Simon.
"Ya, kaki anda juga sudah bersih dan terlihat jauh lebih baik dibandingkan yang tadi." Marshel mengelap kering kaki mungil Jasmine dengan sangat berhati-hati. "Apa anda mau menganti pakaian anda terlebih dahulu?"
Yang ditanyai menganggukkan kepalanya, membuat Marshel mengangguk paham lalu menutup pintu mobil, membiarkan Jasmine mengganti pakaiannya di dalam sana.
Sementara menunggu Jasmine selesai mengganti pakaiannya, Marshel memutuskan untuk bergabung dengan Simon yang terlihat sedang bersantai di dekat pos petugas keamanan seraya merokok dan tentu saja, minum kopi. "Hei, pak tua, tidak biasanya aku melihatmu di sini," sapa Marshel seraya melambaikan tangannya seadanya.
"Ya, ya, tugasku kan hanya mengantar nona muda dan tidak menjaganya, tidak seperti kamu." Simon memasang senyum tipis seraya melemparkan sekotak rokok yang masih belum dibuka ke arah Marshel, yang langsung menerimanya dengan sepenuh hati. "Beda dengan kamu yang selalu berada di sisi wanita itu nyaris dua puluh empat jam."
"Untuk apa pula aku merasa iri denganmu? Omong-omong, beritahu aku hal menarik apa yang terjadi hari ini di acara jumpa penggemar yang berlangsung nyaris setengah hari itu," pinta Simon seraya menyesap kopi hitam kental yang dibeli lelaki tua itu di mesin penjual otomatis terdekat.
Marshel hanya menjawab omongan Simon dengan dehaman sederhana, setengah enggan dan setengah ingin untuk menceritakan apa yang sudah terjadi hari ini. "Yah, pada awalnya acaranya berlangsung seperti biasa, tetapi tadi sempat ada kekacauan kecil di mana seorang lelaki aneh, yang terlihat seperti fans Jasmine, mencoba melempar air kotor ke arah Jasmine, begitulah."
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut memasang sebuah senyum tipis setelah memulai ceritanya itu. "Tetapi aku berhasil mengetahuinya lebih awal, hingga aku berhasil menghindari kejadian yang tidak perlu tersebut. Lagipula … aku merasa senang ketika berhasil melindungi Jasmine, apalagi hingga wanita itu memujiku dengan berkata bahwa aku ini bisa diandalkan."
__ADS_1
Simon yang mendengar cerita Marshel lantas terkekeh pelan, merasa sedikit geli ketika menyadari bahwa lelaki muda yang berada di hadapannya itu merasa senang ketika menerima ucapan sederhana dari Jasmine. "Katakan saja bahwa kamu sendiri mulai meletakkan perasaan pada Jasmine. Tidak apa, hal itu merupakan sesuatu yang teramat wajar, kok."
"Tidak, tidak mungkin!" tolak Marshel dengan nada tegas. "Tidak mungkin aku jatuh cinta pada nona muda, mengingat strata sosial kami yang demikian jauh!"
"Baiklah jika kamu tidak ingin mengakuinya, lalu, apa lagi?" Simon menaikkan kacamata bulatnya yang tadi sempat sedikit melorot, menatap ke arah Marshel dengan tatapan lurus.
Yang ditanya hanya berdeham sejenak, memikirkan kelanjutan ceritanya barusan. "Oh, ya, ketika jumpa fans tadi juga ada sesuatu yang aneh. Yah, lebih tepatnya menjijikkan," lanjut Marshel seraya menyulut sebatang rokok lalu mengisap rokok itu sedalam mungkin. "Untung saja aku membuangnya sebelum nona muda mencicipinya."
"Biar kutebak, diletakkan di dalam makanan, atau justru makanan itu sendiri?" tebak Simon seraya turut mengisap batangan nikotin yang sudah dibakar oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut hitam dan mata cokelat tersebut beberapa saat yang lalu.
"Mhm … diletakkan di dalam makanan, lebih tepatnya kue cokelat yang krim isiannya diganti dengan cairan sper_ma alih-alih whipped cream yang biasanya diisi di sana hingga penuh," jawab Marshel seraya terkekeh pelan, mentertawai betapa menjijikkannya trik konyol yang digunakan oleh stalker yang menyusup menjadi salah satu fans dari sang nona muda.
"Menjijikkan."
"Aku tahu, untung saja aku sudah terlebih dahulu curiga, karena ini merupakan salah satu dari sekian banyak trik konyol yang biasanya digunakan oleh orang kurang kerjaan seperti itu." Marshel memasang senyum tipis, merasa bangga karena sudah berhasil menjaga sang nona muda dengan sangat-sangat baik, termasuk dari stalker menjijikkan yang seperti itu.
__ADS_1