
Marshel hanya diam, mengunci mulut, merasa tidak enak hati jika lelaki yang satu itu harus memotong omongan Jasmine yang benar-benar terlihat kelelahan, baik secara mental maupun secara fisik akibat skandal yang mengharuskan Jasmine lebih berhati-hati lagi pada berbagai hal, terutama bagaimana cara wanita yang satu itu dalam menanggapi berbagai pertanyaan konyol para awak pers.
"Skandal kali ini benar-benar menguras energiku, kamu tahu?" keluh Jasmine seraya menatap Marshel yang berada di bawah kakinya itu. "Secara mau tidak mau, aku harus lebih berhati-hati pada banyak hal hanya karena sesuatu yang bahkan tidak aku lakukan."
Lagi, Marshel hanya membeku, diam seraya terus memijat dan mengusap lembut kaki mungil milik Jasmine, sembari terus mendengar keluhan wanita yang satu itu. Entahlah, walau hal ini tidak secara langsung memengaruhi Marshel, hanya saja setitik kekhawatiran tetap muncul di hati lelaki yang satu itu terhadap apa yang sedang terjadi dengan Jasmine.
"Sekarang saja kepalaku mulai sering terasa pusing akibat banyak pikiran, aku rasa." Jasmine melanjutkan seraya mengambil sebuah bantal besar lalu memeluknya erat. "Para haters itu seperti tidak mau berhenti merundungiku seolah-olah aku hanyalah sampah kecil di mata mereka. Selain itu, rekan-rekanku sesama artis juga mulai menjauh …."
Jasmine menghela napas panjang penuh rasa lelah. Perasaan frutrasi seolah-olah mulai mempengaruhi bagaimana cara wanita malang tersebut berlaku pada saat ini. "... aku tahu mengapa mereka mulai menjauhiku, tetapi tetap saja itu menyakitkan."
Dalam diam, kesunyian seolah kembali melanda kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut. Entahlah, Marshel sendiri tidak tahu harus berkata apa untuk sekadar menenangkan hati Jasmine yang tengah kacau, sehingga lelaki yang masih cukup muda itu hanya bisa mengeluarkan sebuah kalimat klise nan konyol. "Mhm … saya rasa anda cukup kuat untuk melalui semua hal seperti ini, sehingga orang lain merasa mereka perlu menghancurkan anda. Mhm … bersemangatlah."
Terang saja ucapan Marshel yang satu itu langsung mengubah suasana yang sedang terjadi. Suasana penuh kesedihan seolah digantikan oleh suasana canggung akibat perkataan Marshel barusan. Entahlah, bagi Jasmine, rasanya tidak wajar saja jika seorang Marshel yang terkenal pendiam lagi tegas secara tiba-tiba memberikannya sebuah ucapan penyemangat. Yang benar saja.
__ADS_1
"Ha-ha-ha!!" Tawa Jasmine langsung meledak begitu saja setelah mendengar kalimat tersebut dan memikirkannya. Entahlah, bagi Jasmine hal tersebut terdengar begitu lucu, di mana Marshel yang biasanya selalu bersikap serius secara tiba-tiba mencoba menyemangatinya. "Terima kasih atas kalimatmu itu, hanya saja ini terdengar lucu jika kamu yang mengucapkannya."
Tentu saja sang lawan bicara merasa bingung, mengapa pula Jasmine tertawa atas sesuatu yang bahkan tidak dapat dikatakan demikian lucu? Marshel yang bingung hanya bisa mengernyitkan dahinya, menatap ke arah Jasmine guna meminta penjelasan atas mengapa wanita yang memiliki wajah kaukasia itu tertawa setelah mendengar kalimatnya itu.
"Apa ada yang lucu?"
"Tidak, tidak, aku hanya sedang suka menggodamu saja." Jasmine langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, merasa enggan untuk mengakui omongan Marshel yang memang terdengar demikian lucu di telinganya itu. "Yah, pokoknya aku berterima kasih karena kamu sudah berusaha menyemangati aku seperti tadi."
Entah bagian mana dari ucapan Marshel yang terdengar lucu hingga mampu membuat Jasmine tertawa, tetapi apapun itu, setidaknya lelaki yang satu itu dapat melihat senyum dan mendengar tawa sang nona muda yang kali ini terdengar demikian tulus.
"Omong-omong, Marshel, aku ingin makan hotpot, setidaknya aku ingin memakan sesuatu yang pedas untuk menaikkan suasana hatiku. Mungkin kamu bisa tolong siapkan reservasi di restoran hotpot favoritku untuk malam ini?" pinta Jasmine yang masih saja memeluk erat bantal kesayangannya itu. "Agar setidaknya aku bisa memakan sesuatu yang lezat tanpa rasa bersalah kali ini."
Lagi-lagi Marshel menganggukkan kepalanya, mendengarkan perintah tersebut dengan seksama. "Mhm … anda mau menggunakan ruangan VVIP, VIP atau ruangan yang biasa saja?" Lelaki berparas tampan itu bertanya lagi, guna memastikan perintah sang nona muda itu lengkap dan tepat. Seperti biasa, jika Jasmine ingin makan hotpot, maka ada aturan tak tertulis dimana Marshel wajib bertanya ruangan macam apakah yang ingin digunakan Jasmine kala itu.
__ADS_1
Jasmine terdiam sejenak, memikirkan ruangan macam apa yang akan digunakannya ketika dirinya akan makan hotpot favoritnya itu. "Mhm … karena skandal yang menyebalkan ini, haters milikku sedang sangat banyak, aku rasa aku akan menggunakan ruangan VVIP saja, aku ingin makan dengan tenang, kamu tahu?" Jasmine mengangkat kedua alisnya, menatap sang lawan bicara dengan tatapan yang tidak dapat diartikan sama sekali.
"Aku mengerti." Marshel hanya menganggukkan kepalanya singkat, benar-benar paham bahwa apa yang dibutuhkan oleh Jasmine pada saat ini. "Baiklah, kalau begitu aku akan langsung menyiapkan reservasi untukmu."
Marshel lantas mengelap kering kaki sang nona muda, kemudian membawa baskom air hangat tersebut ke dapur dan membereskan apa yang sudah digunakan oleh lelaki yang satu itu, lalu setelahnya mengambil ponselnya sendiri. "Halo, ini aku, aku ingin membuat reservasi untuk ruangan VVIP untuk malam ini, tolong siapkan ruangan VVIP-nya, ya, soal tagihan, seperti biasa saja."
Setelah selesai membuat reservasi tersebut, Marshel langsung menghela napas panjang. Entahlah, semuanya terasa sedikit melelahkan bagi lelaki yang satu itu, walau Jasmine memang selalu bersikap baik kepada dirinya itu, tetap saja terkadang Marshel merasa lelah akibat masalah yang melibatkan sang nona muda yang satu itu.
"Haah …." Pemuda itu lagi-lagi menghela napas panjang, melangkahkan kakinya menuju balkon apartemen tersebut, hendak merokok guna menenangkan pikiran pemuda yang satu itu.
Marshel keluar dari ruangan itu, lantas bersandar pada pagar pembatas balkon, kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan membakar rokok itu, selanjutnya mulai mengisap batangan rokok tersebut. "Fuah …." Marshel mengembuskan asap rokoknya ke langit sore yang dapat dikatakan sedikit mendung kala itu. Dapat dikatakan bahwa menurut Marshel, waktu terasa semakin cepat saja berlalu, di mana tadi pagi ketika konferensi pers tersebut berlalu, tampaknya kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut tidak menyadari bahwa waktu yang mereka habiskan disana itu benar-benar banyak sekali.
"Sial_an, buat kepalaku terasa sakit saja." Marshel lagi-lagi menggerutu pelan, menatap langit dengan mata hijaunya.
__ADS_1