
Mendengar protes yang dikeluarkan oleh Jasmine kala itu, Narshel hanya dapat menghela napas, membungkuk untuk mengambil ponselnya kembali lantas memutuskan untuk tidak membicarakan hal tersebut dengan sang nona muda. Lagipula untuk apa Marshel membicarakan hal tersebut? Tidak ada gunanya sama sekali bagi lelaki yang satu itu untuk membicarakan hal konyol macam ini dengan Jasmine yang sudah jelas akan menjadi milik lelaki lain. "Anggap saja anda hanya salah lihat," gumam Marshel seraya menatap ponselnya sendiri, seolah merasa enggan untuk menatap balik lawan bicaranya sendiri itu.
"Jelaskan padaku, Marshel." Dengan sangat-sangat lihai dan cepat sekali, Jasmine merebut balik ponsel milik Marshel, kemudian menyimpannya di dalam saku celana pendek yang saat itu sedang dikenakannya. "Mengapa kamu memiliki fotoku yang satu itu dan mengapa kamu menggunakannya sebagai wallpaper di ponselmu? Itu saja, itu yang aku ingin tahu. Tidak usah mengelak, atau apa pun."
Sadar bahwa apa yang telah dikatakan oleh sang nona muda kali ini tidak bisa dibantah sama sekali, Marshel hanya bisa menghela napas panjang, menatap Jasmine dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun itu. "Memangnya setelah saya jelaskan, apa yang akan anda lakukan? Marah? Kesal? Sudahlah, menurut saya tidak ada gunanya sama sekali untuk saya maupun bagi anda menjelaskan tentang hal ini dan membuat anda mengerti mengapa saya menggunakan foto anda seperti ini," tolak Marshel mentah-mentah, seraya menatap datar ke arah Jasmine yang mendongakkan kepalanya untuk sekadar menatap balik sang bodyguard.
__ADS_1
"Yah, mana bisa kamu kabur begitu saja, Marshel! Jelaskan padaku mengapa! Kamu ini lebih mirip stalker dibandingkan bodyguard pribadiku jika kamu enggan menjelaskan hal ini padaku!" Sang nona muda mulai meninggikan suaranya sendiri, seolah merasa tidak terima dengan jawaban konyol yang telah diberikan oleh lawan bicaranya itu kepada dirinya. "Maksudku, jika sedari awal kamu sudah tidak meletakkan perasaan apapun terhadapku, lantas mengapa kamu memakai fotoku yang bahkan tidak aku ketahui ada sebagai wallpaper ponselmu?!" Jasmine membentak balik Marshel, menatap Marshel dengan tatapan kesal sekaligus jengkel setengah mati pada lelaki yang satu itu.
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut lantas menghela napas panjang seraya mencoba mengambil kembali ponselnya sendiri yang sudah dijauhkan oleh Jasmine, menatap lelah ketika sadar tidak akan mendapatkannya dengan mudah. "Seperti yang anda ketahui, nona muda ... mana bisa saya menjadi pasangan anda, suka tidak suka anda harus menerima fakta yang menyakitkan ini, nona muda. Jadilah saya menjadikan foto anda sebagai wallpaper saya agar saya bisa tetap mengagumi anda dari jauh, pun sekaligus pengingat bagi saya untuk menjadi pribadi yang lebih sadar diri dibandingkan yang seharusnya."
Tentu saja penjelasan Marshel barusan terdengar benar-benar tidak masuk akal di telinga Jasmine, yang benar saja! Alasan macam apa itu? Mengapa pula Marshel menjadikan foto Jasmine yang tampaknya diambil secara diam-diam menjadi wallpaper ponselnya sendiri sebagai pengingat bagi Marshel untuk tahu diri mengenai tempatnya sendiri? "Penjelasan macam apa itu, Marshel!! Tidak masuk akal sekali! Sudahlah, kamu tidak usah mengelak sama sekali, katakan saja padaku apa yang menjadi latar belakang di balik fotoku yang kamu ambil secara diam-diam itu kamu jadikan sebagai wallpaper?!"
__ADS_1
Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung menelan liurnya sendiri, menatap lelaki yang berada di hadapannya itu dengan tatapan tidak percaya, seolah-olah apa yang telah dikatakan oleh Marshel itu hanya merupakan bualan kosong belaka. Omong kosong, lebih tepatnya. "Yang benar saja, Marshel! Alasan macam apa yang sedang kamu coba berikan padaku? Mengangumiku dari jauh sekaligus pengingat bagimu kalau kamu tidak layak menjadi pasanganku? Kamu sedang ingin membuatku tertawa penuh rasa geli atau menangis seperti anak kecil, ha?!"
Marshel lagi-lagi, entah yang kesekian kalinya, menghela napas panjang, seolah-olah sedang menenangkan hatinya sendiri agar tidak perlu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu sama sekali. "Tetapi memang itu alasan saya yang sesungguhnya, nona muda. Saya merasa bahwa jika dibandingkan dengan tuan muda Xavier yang dapat dikatakan merupakan seorang pebisnis handal, dengan harta kekayaan yang berlimpah ruah dan sifat baik hati yang seolah menjadikannya sebagai lelaki idaman bagi setiap wanita ... saya merasa kalah."
Jasmine hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan seolah-olah sedang berusaha mengerti apa yang telah dikatakan oleh lawan bicaranya itu. Tetap saja, di mata wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri, rasanya penjelasan yang telah diberikan oleh Marshel itu tetap tidak terdengar cukup rasional bagi dirinya yang tidak jarang menggunakan logikanya sendiri itu. "Sudahlah Marshel, katakan saja apa sebenarnya kamu pikirkan! Perkatanmu barusan tidak terdengar cukup logis di telingaku, asal kamu tahu saja! Lagipula bagaimana bisa kamu menganggap bahwa kamu itu sama sekali tidak sebanding dengan Xavier?"
__ADS_1
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut lantas menghela napas panjang, lagi, lagi dan lagi untuk malam kala itu. "Yah ... mau bagaimana lagi? Bukankah itu memang benar? Maksud saya ... saya ini hanya merupakan seorang bodyguard, yang bisa dikatakan beruntung karena latar belakang saya merupakan bekas agen CIA, itu saja. Tentu saja saya ini jauh sekali berbeda jika dibandingkan dengan tuan muda Xavier, baik secara latar belakang maupun kekayaan. Lagipula, menurut saya, anda bisa saja terkena skandal baru jika misalnya anda memilih untuk menjalani hubungan dengan saya."
Jasmine hanya bisa menatap tajam lawan bicaranya kala itu, yang benar saja? Khawatir akan skandal? Memang apa yang dikatakan oleh sang bodyguard bisa saja jadi kenyataan kapan saja, tanpa memandang waktu dan tempat, lantas mengapa pula Marshel berpikir bahwa berhubungan dengan lelaki yang satu itu sudah dapat dipastikan akan terlibat dengan skandal sementara dengan Xavier tidak? Apa bedanya Marshel dengan Xavier?