
Entah sudah berapa lama semenjak pembicaraan Xavier dengan Marshel itu berlalu, dan setelahnya bisa dikatakan bahwa hubungan kedua lelaki terasa sangat-sangat canggung satu sama lainnya, dan mengingat bahwa Xavier tahu betul bahwa sebenarnya Marshel sangat-sangat menentang hubungannya dengan Jasmine, yang terang saja tidak dapat diakui oleh lelaki tersebut secara terang-terangan sekali.
Selain itu, Xavier sendiri tampaknya sudah tidak terlalu mengingat berapa lama semenjak dirinya memulai hubungan yang berbeda dengan Jasmine, walau hubungan tersebut hanya merupakan hubungan kontrak diatas kertas, tetapi untuk beberapa alasan lainnya, Xavier merasa senang sekaligus sedikit bersyukur atas hubungan tersebut.
Sementara Marshel? Lelaki yang satu itu terlihat biasa saja, atau sepertinya berusaha keras nyaris mati-matian untuk tetap terlihat biasa saja, di mana Marshel tetap saja secara konstan dan terus menerus memasang pker face, atau lebih tepatnya wajah datar tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menyembunyikan banyak hal di dalamnya. Secara diam-diam, tentu saja Xavier secara konstan dan terus menerus memperhatikan nyaris seluruh gerak gerik Marshel, mulai dari yang paling sederhana seperti lirikan hingga yang paling kompleks seperti ekspresi kecil milik Marshel.
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Marshel yang tampaknya seperti seorang yang nyaris tidak memiliki hati nurani sama sekali, lelaki tersebut merasa benar-benar kesal dan marah setengah mati ketika menyadari bahwa Jasmine tampaknya mulai jatuh cinta dengan orang brengsek seperti Xavier, tetapi apa boleh buat? Memangnya Marshel memiliki hak macam apa untuk melarang nona muda Jasmine untuk memiliki hubungan dengan orang lain?
Di satu sisi, Marshel merasa tidak terima karena Jasmine tampaknya berpindah ke lain hati, di mana disini ialah Xavier, tetapi di sisi lain pula, entah mengapa Marshel merasa senang karena Jasmine sudah memiliki seorang lain yang dapat memberikan Jasmine segala perhatian dan tentu saja kasih sayang yang sepertinya Jasmine butuhkan, dan seseorang sepertinya telah membalas perasaan Jasmine, dalam hal ini ialah Xavier.
__ADS_1
Saat ini Marshel sedang menemani Jasmine yang sedang pergi untuk pemotretan dengan salah satu brand make-up ternama, yang ingin menggunakan wajah Jasmine sebagai brand-ambassador produk mereka itu. Dalam diam, sang bodyguard menatap Jasmine yang sedang melakukan beberapa pose kecil dengan produk dari brand make-up tersebut entah di tangan ataupun di wajah wanita tersebut.
Sebenarnya ada juga rasa kagum tersendiri yang tumbuh di hati lelaki tersebut ketika melihat Jasmine yang berpose dengan demikian lincahnya, di mana wanita itu terlihat benar-benar cantik dan menggemaskan ketika sedang berpose seperti itu. Ah, rasanya rasa suka dan cinta di hati Marshel semakin bertambah saja ketika melihat Jasmine yang seperti ini, seperti dewi saja, setidaknya di mata lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut.
Ah, mengenai masalah pengkhianatan yang dilakukan oleh Raphael dan Simon, tepat di malam yang sama setelah pembicaraannya dengan Xavier, Xavier memberitahu kenyataan tersebut pada Marshel, yang pada akhirnya memutuskan untuk menghajar Simon habis-habisan pada hari berikutnya hingga lelaki yang satu itu tidak dapat pergi kerja, atau lebih tepatnya tidak dapat pergi kemana-mana karena hanya bisa terbaring tidak berdaya di rumah sakit.
Selain itu, berkat koneksi lama milik Marshel, seluruh keburukan Raphael yang dahulu juga sudah terjadi juga secara perlahan-lahan dibongkar satu demi satu, membuat wanita tersebut terjebak berbagai macam skandal dan pada akhirnya hancur akibat ulahnya sendiri. Yah, sebenarnya sesayang itu lah Marshel terhadap Jasmine, hingga lelaki tersebut rela menggunakan seluruh koneksi lama milik sang bodyguard hanya demi menghancurkan Raphael yang di mata Marshel, telah menghancurkan Jasmine dengan cara yang benar-benar licik setengah mati itu.
Mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut, Marshel langsung terdiam seribu bahasa, sepertinya memang apa yang pernah dikatakan oleh Xavier itu akan menjadi kenyataan, suatu saat nanti. Hanya saja, tetap saja untuk berbagai alasan Marshel masih merasa tidak siap untuk menerima bahwa perasaannya kepada Jasmine itu akan kalah dengan apa yang akan Xavier lakukan dengan sang nona muda.
__ADS_1
"Baik, nona muda." Marshel memberikan tas itu seraya memasang senyum tipis, sebelum pada akhirnya menghela napas panjang seraya melirik ponselnya sendiri, di mana di sana terdapat foto Jasmine yang sedang tertidur lelap di pundak sang bodyguard, terlihat benar-benar polos dan menggemaskan setengah mati, setidaknya di mata Marshel kala itu. "Ah, saya juga sudah menyiapkan bekal anda. Mungkin saja anda ingin memakannya terlebih dahulu sambil di perjalanan?"
Yang ditanya hanya menggeleng-ggelengkan kepalanya secara perlahan-lahan, seolah-olah sedang merasa tidak terlalu berminat untuk memakan salad buatan Marshel yang memang biasanya disediakan oleh Marshel untuk sang nona muda kalau-kalau Jasmine merasa kelaparan di tengah jadwal wanita itu yang demikian padatnya tersebut. "Tidak, kurasa kali ini tidak terlalu perlu mengingat bahwa aku akan berkencan di restoran bersama Xavier, jadi kurasa tidak apa-apa jika aku tidak makan sekarang."
"Anda ... serius?"
"Ya." Jasmine menjawab singkat seraya menganggukkan kepalanya, benar-benar acuh tak acuh atas perasaan maupun suasana hati Marshel yang tampaknya sedikit berubah setelah mendengar penolakan yang ditunjukan oleh wanita yang satu itu.
Setelah membersihkan wajahnya dan melepas seluruh properti yang melekat di tubuhnya, Jasmine lantas pergi ke mobil, disusul oleh sang bodyguard yang untuk sementara waktu merangkap menjadi supir pribadi dari sang nona muda hingga wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri dapat menemukan pengganti Simon dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan itu.
__ADS_1
"Antar aku ke restoran hotpot langgananku, Marshel, aku dan Xavier ada janji di sana." Jasmine lagi-lagi berkata, tentu saja masih dengan nada dinginnya itu, seolah-olah benar-benar sudah tidak peduli lagi pada Marshel karena tampaknya wanita yang satu itu sudah tahu betul bahwa tidak ada gunanya memaksa sang bodyguard untuk mengakui perasaannya sendiri terhadap sang nona muda. "Ah, jika kamu masih mau membicarakan tentang dietku, maka kurasa anggap saja hari ini hari di mana aku membolos diet harianku yang mulai membosankan setengah mati itu." Jasmine berkata lagi.