I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 30


__ADS_3

Ketika Jasmine sudah sampai di tempat tujuannya dan membayar biaya taxi yang wanita tersebut naiki, Jasmine langsung pergi menemui Xavier yang memang memiliki janji temu dengannya.


"Jasmine? Sudah lama sekali semenjak terakhir kali kita bertemu." Xavier menyapa dengan penuh ramah tamah, menatap lembut wanita yang berada di hadapannya itu. Ah, rasanya seperti mimpi bagi Xavier, di mana biasanya lelaki tersebut akan cukup kesulitan hanya untuk bertemu dengan Jasmine, tetapi kali ini justru wanita tersebut lah yang secara sukarela datang ke tempatnya sendiri.


"Benar … aku rasa sudah sekitar dua atau tiga bulan semenjak terakhir kali kita berdua bertemu," sahut Jasmine seraya membalas pelukan yang diberikan oleh Xavier dengan demikian ramahnya, yang tentu saja dilakukan Jasmine agar Xavier akan jatuh semakin dalam ke dalam pesona wanita itu lantas mau membantunya secara begitu saja.


Xavier memasang senyum ramah, sebelum akhirnya melepas pelukan akrab tersebut lalu menolehkan kepalanya ke arah lain. "Tumben kamu hanya sendirian saja? Biasanya kamu bepergian dengan lelaki lain? Bodyguard- maksudku, mana dia?" tanya Xavier seraya memperhatikan sekelilingnya sendiri.


Jasmine menghela napas panjang sebelum kembali memasang senyum tipis. "Hari ini Marshel sedang tidak bisa ikut, yah, kurasa setelah sekian lama bekerja keras denganku, aku memutuskan untuk memberikannya liburan, setidaknya untuk beberapa hari ke depan," jawab Jasmine, terang saja menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut. 


"Begitu … baiklah, apa kamu mau langsung membicarakan tentang apa yang membuatmu datang ke sini atau ingin bersantai terlebih dahulu?" Xavier bertanya lagi seraya membiarkan Jasmine duduk di sofa single yang memang terletak khusus di ruangan lelaki tersebut hanya untuk Jasmine seorang.

__ADS_1


Yah, sifat Xavier yang satu itu seolah menjadi pedang bermata ganda bagi lelaki tersebut di mata Jasmine. Di satu sisi, Jasmine memang menyukai seseorang yang bersifat langsung  membawa pembicaraan ke dalam topik intinya, tetapi di sisi lain, tidak jarang pula Jasmine merasa tidak suka dengan seseorang yang memiliki sifat seperti itu. Entahlah, terdengar impulsif, mungkin?


Jasmine tertawa kecil, yang terang saja langsung membuat Xavier menahan rasa gemasnya sendiri. "Ternyata sifatmu yang satu ini tidak kunjung berubah sama sekali, ya, Xavier? Baiklah, karena kamu sudah berkata begitu, maka aku akan langsung membicarakan apa tujuan utamaku datang ke tempatmu ini." 


Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang wajah serius, seolah enggan diajak bercanda lagi, bahkan jika itu Marshel. "Aku ingin menawarkan beberapa kerja sama kecil di antara kita berdua. Tenang saja, kali ini kamu tidak perlu membayarku dengan uang karena permintaanku kali ini juga tidak akan terlalu sulit, tetapi juga tidak bisa dikatakan mudah sekali."


Lelaki yang memiliki wajah kaukasia yang memiliki rambut yang memiliki warna cokelat mendekati merah tersebut lantas tersenyum kecil, sebenarnya merasa sedikit heran mengapa Jasmine tidak menawarkan kerja sama dengan uang sebagai bentuk bayarannya. "Mhm … dapat aku mengerti, tetapi bisa tolong dijelaskan apa bentuk kerja samanya, dan apa untungnya diriku jika aku menyetujui kerja sama tersebut."


Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum miring. "Kamu dan perusahaanmu bisa mendapat insight positif dari dunia entertainment, dan ini juga merupakan keuntunganmu karena aku tidak meminta sejumlah saham dalam jangka waktu tertentu sebagai bayarannya, bukan begitu? Aku hanya ingin kamu menjadi milikku hingga kita akan menikah, tetapi hanya sampai di sana saja. Bagaimana kita berpisah? Mungkin aku akan mengumumkan bahwa aku merasa bahwa kamu bukan lelaki yang baik untuk menjadi suamiku, sehingga setidaknya ada skandal kecil yang mungkin saja akan langsung menyorot kita berdua secara konstan dan terus menerus selama beberapa waktu."


Licik, pikir Xavier kala itu, tetapi ide yang diberikan oleh Jasmine kala ini merupakan ide yang unik, dan sedikit gila, sekaligus dapat menyelamatkan perusahaan lelaki tersebut yang sedang berada di ambang kebangkrutan. Juga ini merupakan ide yang sangat bagus mengingat Jasmine tidak menginginkan uang sebagai bayarannya, tetapi kontrak diatas kertas yang menyatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan.

__ADS_1


"Lalu tentang kerja sama kedua? Tidak mungkin hanya sampai di sana saja, bukan?" Xavier bertanya seraya menyajikan beberapa makanan manis di atas meja yang berada di hadapan Jasmine. "Makanlah, itu hadiah dari kolegaku yang berasal dari Paris dua hari yang lalu."


"Ah, cepat tanggap sekali," sahut Jasmine seraya mengambil sebuah macaroon dan memakannya. "Ini enak, aku suka, mungkin aku bisa membelinya berdasarkan rekomendasi kolegamu di lain waktu."


Wanita yang memiliki wajah kaukasia itu kemudian berdeham pelan, memiringkan kepalanya sedikit menandakan betapa seriusnya wanita itu pada situasi seperti ini. "Kamu tahu betul bahwa aku sedang terjebak di dalam skandal konyol yang terjadi di antara aku, Amon dan Jessica, bukan? Aku ingin kamu menyelidiki siapa dalang sesungguhnya di balik semua ini."


"Eeh? Apa maksudmu?" tanya lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut. "Menyelidiki siapa penyebab asli di balik skandal ini?"


"Yaa, lebih tepatnya siapa yang menyiasati segala hal ini, karena aku ingat betul bahwa aku tidak sedang berada di dekat Amon saat skandal- atau apapun yang kemudian menjadi penyebab skandal tersebut." Jasmine menggedikkan bahunya, sedikit acuh tak acuh karena masih merasa kesal akibat memikirkan tentang skandal yang sedang terjadi pada Jasmine bertepatan setelah pengumuman di mana Jasmine yang terpilih menjadi tokoh utama wanita di dalam film yang akan dibintangi dirinya itu.


Xavier lantas menjepit dagunya sendiri, memikirkan sesuatu yang mungkin saja berkaitan dengan apa saja yang menjadi kemungkinan di mana dapat mengarah ke seseorang yang kemudian ketahuan merupakan dalang utama di balik skandal itu. "Adakah beberapa orang yang sekiranya kamu curigai bisa saja menjadi dalang? Entahlah, mungkin Raphael atau siapalah?"

__ADS_1


Wanita yang satu itu langsung menggeleng, tidak, tidak seorang pun ia curigai bisa saja menjadi dalang utama di balik skandal tersebut. "Kurasa tidak, tetapi jika pun ada, rasanya tidak masuk akal saja jika dia yang melakukannya."


__ADS_2