
Pada akhirnya, kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut menghabiskan malam mereka yang tersisa dengan bersantai di tepian pantai, membiarkan kaki mereka dibasuh oleh air laut yang terasa asin, tetapi juga dingin, seperti sesuatu yang sekiranya cocok untuk menenangkan sekaligus mengubah suasana hati seseorang yang sedang kacau itu.
Mereka berdua tidak melakukan apa-apa, sama sekali tidak melakukan apa-apa selain Jasmine yang bersandar di pundak lebar milik Xavier tanpa berkata apa-apa, hanya memperhatikan air laut yang membasuh kakinya, serta riak ombak yang datang dan pecah di sekitar sang nona muda kala itu. Entah mengapa, suasana hati Jasmine yang sebelumnya berkecamuk dengan berbagai perasaan negatif seperti sedih, kesal dan tentu saja tidak terima yang disebabkan oleh pengkhianatan paling sakit yang telah dilakukan oleh Raphael, sahabatnya sendiri, yang bekerja sama dengan Simon yang merupakan supir kesayangannya itu seolah-olah luntur dan secara perlahan-lahan, lenyap begitu saja bersama air laut yang secara konstan dan terus menerus membasuh kakinya dengan ombak kecil yang selalu saja pecah di sekitarnya tersebut.
Memang tampaknya pilihan Xavier untuk membawa dirinya ke pantai seperti ini sepertinya memang merupakan pilihan paling tepat, karena secara Jasmine tidak sadari sama sekali, suasana hatinya membaik dengan sangat-sangat cepat hanya dengan merasakan dinginnya air laut yang membasuh kakinya secara konstan dan terus menerus, dan mendengarkan riuhnya riak ombak di malam hari, yang entah mengapa menghantam wanita tersebut dengan cara yang berbeda, seolah-olah sperti sesuatu yang tetap mau menerima keberadaan Jasmine tidak peduli seburuk apa wanita tersebut sebelumnya.
Pun tidak hanya sampai di sana saja, pundak lebar Xavier yang ia gunakan sebagai tempat bersandar itu juga seolah-olah sedang memberitahu kepada wanita yang memiliki wajah kaukasia itu bahwa dirinya masih memiliki tempat untuk bersandar, juga tempat untuk berkeluh kesah atas masalah yang ada dan tengah terjadi, sehingga apa pun yang terjadi, Jasmine tidak boleh sampai menyerah sama sekali, mengingat ada Xavier dan Marshel yang akan selalu ada untuknya itu.
__ADS_1
Entah mengapa sekarang alih-alih memikirkan tentang skandal yang sedang terjadi dan pengkhianatan paling sakit yang telah dilakukan oleh Raphael, Jasmine jauh lebih memikirkan mengenai dua lelaki yang saat ini berada di dalam kehidupannya itu, di mana keduanya memang merupakan lelaki yang baik, tetapi juga lelaki yang buruk dengan cara mereka masing masing.
Pada awalnya, bagi Jasmine, Marshel ialah lelaki terbaik yang pernah hadir di hati wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut, tetapi setelah rencananya untuk menjadikan Xavier sebagai kekasih kontraknya tersebut, yang artinya Xavier juga mulai masuk dan tinggal di dalam pikiran Jasmine, tampaknya hal tersebut mulai berubah.
Sebenarnya, Marshel memang merupakan seorang lelaki yang baik. Maksudnya, siapa sih yang tidak merasa terkesan dengan lelaki yang satu itu? Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut dapat memberikan Jasmine segala perhatian dan tentu saja keamanan yang tentu saja sangat-sangat dibutuhkan oleh sang nona muda nyaris dua puluh empat jam per tujuh hari, hanya saja, dapat dikatakan bahwa Marshel itu merupakan tipikal lelaki yang sangat-sangat kaku, dan membawa kata profesional jauh lebih dari apa yang kebanyakan orang bayangkan. Bukan ke arah yang negatif, tetapi lebih ke arah yang sangat-sangat positif.
Namun, hal negatif yang melekat erat di dalam diri lelaki tersebut ialah sifat play-boynya yang dapat dikatakan di luar nalar tersebut, dengan ketampanan serta kekayaan yang juga dibarengi dengan kelicikan atau kepintaran yang luar biasa, rasanya mustahil sekali bagi Xavier untuk tidak mendekati hanya satu atau dua wanita saja, juga pekerjaan perusahaan yang dipegang oleh lelaki tersebut, yang terang saja berkaitan dengan wanita, atau kebih tepatnya membutuhkan sedikitnya delapan puluh persen interaksi dengan wanita, seolah-olah menjadi apa yang juga mdmbuat Xavier berubah menjadi lelaki play-boy seperti itu.
__ADS_1
Kedua lelaki yang benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat kini berada di dalam hidup Jasmine, di saat yang bersamaan pula, membuat wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut tidak jarang merasa sedikit pusing dengan apa yang telah terjadi, walau dirinya memang mengharapkan hal tersebut terjadi, hanya saja tidak jarang hal yang sama telah membuat kekacauan kecil di hati wanita yang malang tersebut.
Bukan, kali ini bukan karena Jasmine yang merasa bahwa perhatian yang telah diperlihatkan dan diberikan oleh Marshel juga Xavier itu kurang, tetapi lebih ke arah Jasmine sendiri yang terkadang berharap bahwa Marshel mau mengajaknya mengobrol dan bersentuhan tanpa ada dinding yang bernama strata sosial yang menghalangi kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut, dan Xavier yang Jasmine harapkan bisa memberinya perhatian dalam bentuk melayaninya seperti apa yang biasa Marshel lakukan kepada dirinya, tidak peduli apakah mereka habis bertengkar atau tidak.
Jasmine benar-benar tahu apa yang telah dilakukan dan dipikirkan oleh sang nona muda itu merupakan sesuatu yang teramat sangat-sangat salah, apalagi ini berkaitan dengan dua lelaki yang keduanya sama-sama jatuh hati dan tentu saja meletakkan perasaan yang berbeda terhadap wanita tersebut, yang juga memberikan wanita itu perhatian dan cinta juga kasih sayang yang Jasmine inginkan dan butuhkan setengah mati, yang tentu saja diberikan dengan cara yang benar-benar berbeda satu sama lainnya, membuat Jasmine merasakan sesuatu yang sebenarnya semakin salah, tetapi entah mengapa perasaan tersebut seolah-olah melekat erat di hati wanita tersebut.
Jasmine tidak ingin melepaskan Marshel dengan segala pelayanan dan perhatiannya yang selalu dicurahkan oleh lelaki tersebut kepada dirinya, pun tidak ingin kehilangan Xavier dengan segala kata-kata manis dan leluconnya yang unik yang selalu diberikan untuk Jasmine, tetapi bolehkah Jasmine menjadi tamak dan menginginkan keduanya? Hanya untuk dirinya sendiri?
__ADS_1