
Akhirnya kedua insan tersebut pun kembali terdiam satu sama lain, tidak ada yang mau membuka pembicaraan mengingat tidak ada topik juga untuk dibicarakan di antara mereka berdua. Jasmine hanya menghabiskan makan siangnya sembari setengah melamun, menatap ke arah layar televisi yang mati, atau lebih tepatnya menatap ke arah pantulan dirinya sendiri.
Pikiran Jasmine seolah-olah terasa sedang tidak berada di tempat yang seharusnya sekarang, seolah wanita itu sedang terlalu banyak pikiran hingga tidak bisa menjernihkan satu pun dari pemikirannya sendiri. Tentang Marshel, tentang Xavier, tampaknya sang nona muda tengah memikirkan semua itu tanpa alasan, seolah-olah dirinya tidak akan bisa hidup jika tidak memikirkan hal tersebut sama sekali.
Xavier sendiri belum ada memberikan wanita tersebut kabar, sedikit pun belum ada, di mana kali ini alasan Xavier menghilang ialah karena lelaki tersebut memiliki urusan bisnis yang harus diselesaikan di luar Amerika, membuat sang Chief Executive Officer tersebut tidak bisa sama sekali menemani Jasmine untuk mengurus permasalahan yang saat ini tengah terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut, terutama mengenai rencana pernikahan palsu yang akan mereka lakukan ke depannya itu.
"Haah ..." Jasmine menghela napas panjang seraya meletakkan kembali ponselnya di atas meja yang berada di hadapannya itu, Xavier masih saja belum bisa memberikan kabar yang pasti untuk wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri. "Bagaimana ini ... rasanya kan tidak mungkin jika aku bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa sama sekali," gumam Jasmine seraya menatap bosan ke arah ponselnya sendiri, masih menunggu kabar dari Xavier yang masih berada di Inggris Raya, mengurus salah satu masalah bisnisnya yang terjadi di sana.
__ADS_1
Marshel sendiri terlihat sedang melamun seraya memegang majalah memasak yang terkadang memang dibeli oleh sang bodyguard untuk dibaca ketika lelaki tersebut sedang senggang setengah mati. Pikiran pemuda tersebut masih saja melayang ke arah pemikirannya sendiri apabila lelaki macam Xavier benar-benar menikahi Jasmine, di mana ada setitik rasa tidak rela jika Xavier benar-benar melakukan hal tersebut.
"Marshel," panggil wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut dengan nada lembut, seraya menolehkan kepalanya ke arah Marshel, menatap lelaki tersebut dengan tatapan serius. "Entahlah, kurasa sebentar lagi aku dan Xavier akan melangsungkan acara pernikahan kami. Yah, hubungan kami sudah berlangsung cukup lama, dan kami berdua melihat banyak sekali kecocokan di antara kami berdua, sehingga kami memutuskan untuk segera menikah, begitu lah ..." Jasmine menjelaskan panjang lebar seraya memasang senyum lembut.
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut langsung terdiam seribu bahasa ketika mendengarkan kalimat tersebut. Yang benar saja? Bagaimana bisa apa yang dipikirkan oleh Marshel benar-benar menjadi kenyataan dengan sangat-sangat cepat sekali? Marshel bahkan belum mempersiapkan diri untuk mendengar berita semacam itu, apalagi langsung dari mulut wanita yang berada di hadapannya itu.
"Benarkah? Anda berdua akan segera menikah? Kapan?" Marshel bertanya seraya mengeluarkan ponselnya sendiri, menatap ke arah wallpaper ponselnya sendiri yang memperlihatkan foto Jasmine yang sedang bersandar manja pada dirinya itu, dalam kondisi tertidur dengan demikian lelap dan menggemaskannya itu. "Saya turut merasa senang ...."
__ADS_1
"Begitukah? Yah ... apapun itu ke depannya, baik anda akan menikah atau tidak dengan tuan muda Xavier, saya akan turut berbahagia, nona muda Jasmine, mengingat itu artinya anda sudah menemukan lelaki yang tepat untuk anda." Marshel menghela napas panjang seraya menatap ponselnya sendiri, merasa enggan setengah mati untuk menampilkan emosi dan suasana hatinya juga enggan untuk menatap balik mata Jasmine.
Bagi Marshel, saat ini dirinya hanya bisa pasrah, merelakan Jasmine yang tampaknya akan benar-benar menikah dengan lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut, benar, lebih tepatnya ialah Xavier yang merupakan seorang Chief Executive Officer tersebut.
Entahlah, bagi sang bodyguard, walau seperti yang dikatakan oleh Jasmine bahwa ini masih merupakan rencana semata, di satu sisi Marshel merasa bahwa rencana tersebut tampaknya akan berubah menjadi kenyataan dalam waktu dekat, tinggal menunggu hingga sepasang insan yang berlainan jenis kelamin tersebut msmberitahukan rencana pernikahan mereka secara bersama-sama saja, dan itu artinya Marshel harus benar-benar mundur dan menjauh, mengingat lelaki tersebut sudah tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk membalik keadaan sesuai apa yang Marshel mau.
"Yah ... aku sendiri masih membicarakannya dengan Xavier, sih, mengingat dia masih berada di Inggris Raya karena sedang sibuk dengan urusan bisnis. Tetapi setelah dia pulang kurasa kami akan mulai membicarakannya, mengingat hubungan kami harus segera diubah dan dibawa ke jenjang yang jauh lebih serius." Jasmine terkekeh kecil seraya memejamkan matanya sendiri, membayangkan respon macam apa yang sekiranya akan diberikan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut apabila Jasminw benar-benar memberitahukan rencana pernikahannya bersama Xavier kelak.
__ADS_1
"Seperti apa yang telah saya katakan sebelumnya, nona muda." Marshel menghela napas panjang seraya meletakkan kembali ponselnya di atas meja, enggan untuk berlama-lama menatap foto Jasmine yang berada di ponselnya sendiri itu. "Jika kelak anda akan benar-benar menikah dengan lelaki tersebut, maka saya hanya bisa turut merasa senang, mengingat itu artinya anda sudah menemukan lelaki yang tepat untuk anda alih-alih lelaki macam saya."
"Kamu ... tidak marah? Sama sekali tidak merasa marah?" Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang wajah bertanya, bertanya pada Marshel dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun itu. "Maksudku ini ialah Xavier, kukira kamu akan merasa marah atau kesal jika aku menikah dengannya ...," gumam wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri seraya melirik Marshel, mengharapkan lelaki tersebut akan memberikannya respon yang sedikit berbeda, mungkin sedikit memperlihatkan emosi dan suasana hatinya ketika menerima berita abnormal semacam itu.