I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 56


__ADS_3

Pada malam berikutnya, Xavier memutuskan untuk datang ke kediaman Jasmine, guna mengajak Marshel untuk membicarakan mengenai rencana pernikahan yang akan mereka berdua langsungkan, pun sekalian Xavier hendak memerhatikan respon macam apa yang sekiranya akan diberikan atau diperlihatkan oleh Marshel sebagai balasan dari perkataan mereka berdua itu.


Dalam diam, lelaki tersebut mengetuk pelan pintu ruangan apartemen milik Jasmine, di tangannya juga tersedia sebuah kotak cicin berikut sebuah buket bunga mawar ekstra besar yang juga dipersiapkan oleh sang Chief Executive Officer tersebut untuk melamar sang nona muda, sekaligus properti untuk sekadar meneliti respon macam apa yang sekiranya akan diberikan oleh Marshel ketika melihat semua hal tersebut.


Hanya dengan tiga ketukan lembut saja, Xavier dapat mendengar suara kunci diputar dan pintu pun terbuka. Di hadapannya ialah Marshel yang terlihat sedang mengenakan apron berwarna gelap, tampaknya sang bodyguard sedang memasak makan malam, atau malah baru selesai memasak makan malam untuk Jasmine kali ini. "Ah, Marshel, boleh aku masuk?" Xavier bertanya seraya menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin, menatap Marshel dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun itu.


Sekilas Xavier dapat memperhatikan Marshel yang secara sekilas melihat dan mengobservasi kotak cincin beserta buket bunga yang ia bawa, tetapi Marshel seolah memilih untuk diam lantas bergeser dari depan pintu utama, memberi Xavier isyarat untuk segera masuk ke dalam apartemen tersebut.


Tentu saja sang Chief Executive Officer tersebut langsung masuk begitu Marshel memberinya ijin untuk masuk. Dengan langkah perlahan, lelaki tersebut melangkahkan kakinya ke arah Jasmine yang terlihat sedang bersantai dengan pakaian rumah, memakan makan malamnya yang kali ini berupa sandwich dengan banyak sayuran dan dada ayam sebagai isiannya. "Jasmine ...," panggil Xavier dengan nada yang benar-benar lembut, membuat sang nona muda langsung menoleh dan terdiam.

__ADS_1


Secara perlahan-lahan, pipi Jasmine mulai memerah, sandwich yang sebelumnya tengah ia makan pun diletakkannya kembali di atas meja, di mana Jasmine langsung menatap lelaki yang berada di hadapannya dengan tatapan bertanya. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Xavier? Kamu gila, ya?" Jasmine bertanya seraya membekap mulutnya sendiri, merasa sangat-sangat tidak percaya atas apa yang dilihatnya pada malamnya yang damai itu.


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis kemudian mengangguk seadanya, berlutut tepat di hadapan Jasmine lantas menyodorkan buket bunga mawar tersebut tepat di depan mata Jasmine. "Jasmine, entah mengapa setelah lama menjalani hubungan, aku mulai merasa bahwa kamu adalah wanita yang tepat untuk menjadi temanku menjalani sisa hidupku, pun menjadi ibu dari anak-anakku kelak jika kamu ingin memiliki anak ...."


Sang Chief Executive Officer tersebut melirik ke arah Marshel yang berdiri tepat di dekat dirinya, diam-diam memperhatikan apa yang sekiranya akan dilakukan oleh lelaki tersebut ketika Xavier berkata seperti ini kepada sang nona muda. Dengan jelas sekali, Xavier dapat melihat bahwa Marshel menghela napas panjang, dan tatapan lelaki itu pun seolah terlihat berubah menjadi sedikit lebih pasrah dan melembut, seolah sadar bahwa Marshel sudah tidak memiliki kesempatan barang sedikit saja.


Sama seperti apa yang telah dilakukan oleh Xavier sebelumnya, Jasmine turut melirik ke arah lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut, yang entah mengapa kali ini terlihat jauh lebih pendiam dibandingkan yang biasanya, pun tatapan Marshel seolah-olah memperlihatkan kekalahan yang sesungguhnya.


"Tentu saja, Xavier. Maksudku, mengapa tidak? Kamu adalah lelaki yang baik, terlepas dari kamu yang pernah menjadi lelaki play-boy dan segala hal buruk lainnya, itu semua sudah masa lalu. Aku ... mau menikah denganmu.," jawab Jasmine dengan nada tegas, seolah-olah sudah memikirkan jawaban macam apa yang akan diberikan oleh wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut atas apa yang telah ditanyakan oleh lawan bicaranya itu.

__ADS_1


Xavier hanya bisa mengulum senyumannya sendiri, menahan senyum yang tampaknya sebentar lagi akan muncul di wajah tampannya itu, lantas membuka kotak cincin yang juga sudah dipersiapkan oleh lelaki tersebut kemudian mengambil sebuah cincin dengan berlian yang terlihat sangat-sangat mewah sebagai penghiasnya. "Ini dia ..." Sang Chief Executive Officer tersebut langsung memasangkan cincin tersebut di jari manis Jasmine, kemudian bangkit berdiri lantas memeluk wanita yang memiliki wajah kaukasia itu dengan demikian eratnya, menekan kepala Jasmine untuk menenggelamkan wajah di dada bidang milik lelaki yang satu itu.


Dalam diam, Xavier menatap lurus Marshel, mengamati bagaimana perubahan ekspresi maupun suasana hati Marshel yang mungkin saja dapat terlihat di permukaan. Benar saja, sang Chief Executive Officer tersebut dapat melihat dengan sangat-sangat jelas sekali bahwa lelaki tersebut terlihat sedang meggertakkan giginya sendiri, mengetatkan rahangnya seolah-olah sedang menahan rasa kesal sekaligus emosinya sendiri melihat apa yang telah dilakukan oleh Xavier di depan matanya itu.


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut lantas menghela napas panjang, sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur dan menjauh secara perlahan-lahan, seolah sedang memberi ruang kepada kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut untuk bermesraan dan ruang kepada dirinya sendiri yang tampaknya membutuhkan sedikit wkatu untuk dapat mencerna dan menerima semua hal yang telah terjadi itu.


Dalam diam, Marshel kemudian melangkahkan kakinya ke arah balkon apartemen, di mana biasanya lelaki yang satu itu menenangkan diri sekaligus mungkin juga memutuskan untuk merokok, menghabiskan satu atau dua batang rokok di sana sembari menenangkan pikirannya yang mulai terasa menyakiti kepalanya itu. Yah, biar saja lah, Xavier dengan Jasmine mungkin memang merupakan pasangan yang serasi juga setara, baik dari latar belakang maupun strata sosial, di mana Xavier menang atas semua itu dibandingkan sang bodyguard yang hanya merupakan mantan anggota CIA terbaik itu.


Tepat setelah Marshel menutup pintu balkon, Jasmine langsung melepas pelukannya lantas mendongak, menatap sang Chief Executive Officer tersebut dengan tatapan bertanya seraya menaikkan kedua alisnya, ingin tahu rencana selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2