
"Pertanyaan ... macam apa itu." Marshel menggaruk pipinya sendiri menggunakan satu jari, merasa sedikit tidak nyaman atas pertanyaan konyol yang diberikan oleh Xavier kepada dirinya itu. "Tentu saja saya akan turut merasa senang karena nona muda Jasmine akan menikah dengan lelaki lain yang berhati lembut seperti anda." Marshel melanjutkan seraya memasang senyum tipis, tidak sepenuhnya tahu harus merespon dengan cara paling tepat macam apa di hadapan Xavier yang ia ketahui betul suka sekali menjahili seorang lainnya itu.
Tentu saja Xavier bisa langsung tahu bahwa Marshel berbohong ketika menjawab demikian. Bagaimana tidak? Entah mengapa rasanya mustahil setengah mati jika orang yang sangat-sangat posesif terhadap Jasmine bisa-bisanya melepas Jasmine menikah dengan orang lain seperti itu. "Yang benar saja, Marshel, bahkan sampai ke titik ini pun kamu masih saja berbohong. Konyol sekali, untuk apa kamu berbohong seperti itu, hm?"
Sudah dapat diduga oleh lelaki tersebut bahwa Xavier akan menjawab seperti ini. Maksudnya, siapa sih yang sudah pernah benar-benar berhasil membohongi orang licik macam Xavier ini? Bahkan sekelas anggota CIA macam Marshel saja sulit mengelabui Xavier yang tidak jarang menjalankan bisnisnya dengan cara yang benar-benar licik setengah mati itu. Tetapi ini bukan berarti Marshel akan menyerah dengan mudah, lelaki tersebut tentu saja akan berkelit sekali lagi demi lepas dari omongan Xavier itu.
"Mengapa? Anda heran? Orang posesif macam saya bisa merelakan nona muda Jasmine menikah dengan orang macam anda? Anda ini lucu sekali, tuan muda Xavier, bisa-bisanya anda tidak mempercayai omongan saya. Saya jadi merasa sakit hati." Marshel mencoba menggoda Xavier, memanfaatkan celah kecil bernama gaslighting- di mana lelaki tersebut mencoba membalik percakapan dengan cara menyalahkan balik Xavier yang tidak mempercayainya itu.
__ADS_1
Xavier langsung memasang senyum sinis ketika mendengarkan pembelaan konyol yang sudah disampaikan oleh Marshel kepada dirinya itu. Yang benar saja, bisa-bisanya Marshel malah balik menyalahkan lelaki tersebut ketika Xavier memilih untuk tidak mempercayai jawaban yang diberikan oleh Marshel kala itu. "Hei, hei, jangan malah balik menyalahkan aku seperti itu dong, Marshel! Rasanya kan wajar saja jika aku tidak percaya bahwa kamu bisa merelakan Jasmine menikah dengan orang lain, apalagi aku, mengingat betapa posesifnya kamu kepada Jasmine. Maksudku ...." Xavier menghela napas panjang, lantas menatap lurus ke arah mata hijau milik Marshel.
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum sinis, sekali lagi, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya sendiri. "Rasanya tidak wajar saja di mataku apabila lelaki macam kamu benar-benar mau merelakan Jasmine menikah dengan orang lain, apalagi kenyataan bahwa entah kamu sadar atau tidak, tidak jarang kamu memperlihatkan sifat posesifmu terhadap Jasmine, pun lagi salah satu pertimbanganku yang lain ialah kenyataan bahwa kamu, juga menyimpan perasaan yang sangat-sangat kuat tentang Jasmine itu."
Skakmat!
Yang benar saja, bagaimana bisa Xavier tahu betapa posesifnya lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut kepada Jasmine? Apa terlihat jelas dari sikapnya yang ia perlihatkan akhir-akhir ini? Tetapi rasanya tidak mungkin juga, mengingat bahwa akhir-akhir ini juga Jasmine jauh lebih memilih untuk pergi dengan Xavier alih-alih bersama sang bodyguard yang selalu memastikan keamanan dan kenyamanan Jasmine selama dua puluh empat jam per tujuh hari itu.
__ADS_1
"Yah ... saya rasa ketahuan, ya? Yah sebenarnya tentu saja saya tidak akan rela, setengah mati pun saya tidak akan pernah ikhlas jika nona muda Jasmine menikah dengan orang lain. Siapapun itu, tetapi mengingat posisi saya di sini hanya sebagai bodyguard nona muda, terang saja saya tidak memiliki hak untuk melarang nona muda Jasmine menikah dengan siapa saja." Marshel tertawa kecil, kemudian menyesap kopi kalengan yang berada di tangan kiri sang bodyguard kala itu.
Xavier menanggapi ucapan Marshel hanya dengan senyum tipis. Tampaknya jika sudah mengenai perasaan, bagi lelaki yang satu itu, nyaris tak seorang pun bisa membohongi Xavier. Memgingat, betapa seringnya Xavier bekerja dengan wanita dan tentu saja tidak jarang ia temukan beberapa jenis wanita yang sering sekali menyembunyikan perasaan atau suasana hatinya mengenai sesuatu hal. "Kamu ini cepat sekali menyerah, Marshel. Mengapa tidak kamu usahakan saja terlebih dahulu tentang perasaanmu terhadap Jasmine itu? Toh pun jika kamu katakan bahwa rasanya mustahil jika seorang bodyguard memiliki hubungan yang berbeda dengan atasannya sendiri, banyak sekali lho, wanita yang secara diam-diam menjalani hubungan yang berbeda dengan bodyguard mereka itu."
"Tetap saja ..." Marshel kembali menghela napas panjang, seolah-olah beban yang dimiliki oleh lelaki tersebut terasa sangat-sangat berat sekali. "Mau bagaimanapun, seperti apa yang telah saya katakan sebelumnya, rasanya tidak pantas saja jika saya tetap memaksakan kehendak saya untuk menjalani hubungan dengan nona muda Jasmine." Sang bodyguard lantas menghabiskan kopi kalengan yang tadi ia sesap sedikit, kemudian menatap lurus ke arah mata biru milik Xavier yang berkilat penuh rasa tidak aman tersebut. "Karena saya ini bukan anda, yang berani menentang aturan sosial yang ada hanya demi kehendak pribadi anda."
Entah mengapa, apa yang telah dikatakan oleh Marshel kepada sang Chief Executive Officer tersebut terasa jauh lebih menohok daripada apa yang sudah dikira oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut. Yah, memang sepertinya Marshel ada benarnya di situasi seperti ini, mengingat betapa seringnya Xavier melanggar sebuah aturan atau norma, baik yang memang dibuat atau sesuatu yang tanpa sadar muncul dan akhirnya dianggap sebagai aturan hanya demi kepuasan dirinya sendiri belaka.
__ADS_1
"Hei, hei, Marshel, omonganmu yang barusan itu ... sengaja ditujukan untuk menusukku seperti ini ya?" Xavier tertawa kecil seraya membuka lembaran selimut tersebut, lantas memakainya seperti memakai jaket besar. "Hah ... kita berdua ini benar-benar berbeda, ya? Kamu yang ketat dengan aturan dan aku yang ... santai, kamu yang menunjukkan perhatianmu dengan melakukan sesuatu dan aku yang menggunakan perkataan. Seperti koin saja." Xavier memasang senyum tipis, sebelumnya menatap Marshel lurus. "Tetapi tetap saja kamu menang di mata Jasmine dan bukan aku."