
"Baiklah, mungkin aku mulai penting baginya. Kalau tidak, mengapa dia bersikap posesif seolah cemburu pada semua pria yang ada di kontak ponselku," batin Andhira.
Lantas, Lelaki itu duduk secara perlahan di samping Andhira, kemudian menatap lekat Istrinya itu dengan deru napas yang memburu. Andhira hanya bisa mendengar suara napasnya, tetapi tidak bisa melihat mimik wajahnya. Sebab, Andhira memang sengaja memalingkan wajah dari suaminya tersebut.
"Dhira," ucap Daffa dengan suara berat seperti tertindih sesuatu.
Andhira tidak menggubris panggilannya itu. Andai saja bukan karena Daffa adalah suaminya, mungkin saat itu juga Andhira sudah pergi dari sana. Sungguh, lama-lama Andhira merasa sangat jengah dan muak atas sikap Daffa yang srmena-mena.
"Telingamu ini, apa pendengarannya masih berfungsi," sarkas Daffa berbisik seraya meniupkan napasnya ke telinga Andhira. Andhira menoleh dan menatap Daffa dengan binar mata penuh kebencian.
Daffa tersenyum menyeringai. Lalu, membelai pelipis wajah Andhira dengan jemarinya. "Apa kamu marah karena aku menyuruhmu menghapus semua kontak pria di ponselmu?" tanya Daffa dengan tatapan licik.
"Apa perlu aku menjawab iya atau tidak? Bukankah, Mas tidak butuh mengetahui perasaanku untuk melakukan apa yang Mas mau?" jawab Andhira sembari tersenyum getir.
__ADS_1
"Ternyata kamu sangat pintar," ucap Daffa seraya mendekatkan bibirnya ke bibir Andhira. Namun, Andhira segera memalingkan wajah darinya.
"Mandi dan berpakaianlah dengan baik. Nanti akan ada temanku datang ke sini. Aku tidak mau orang lain melihat istriku berpenampilan buruk," titah Daffa. Bicaranya selalu saja mengandung nada ejekan.
Andhira bangkit dengan cepat, lantas pergi ke kamar mandi. Bukan karena dia sangat ingin mematuhi Daffa lagi, melainkan dia memang sedang mencari kesempatan untuk bisa menghindar dari Daffa. Disetelnya shower di atas kepalanya, lalu dia mandi di bawahnya sembari meresapi dinginnya guyuran air yang membuat beberapa lebamsi tubuhnya terasa perih. Andhira memekik tertahan dan memeriksa bagian sisi iga kanannya, yang terasa begitu pedih. "Sakit," cicit Andhira.
Benar saja, ternyata kulit bagian tubuh yang diperiksanya itu mengalami lecet. Andhira tidak tahu kapan persisnya luka itu terjadi. Karena saat dirinya bersama Daffa, jangankan kulit yang lecet nada bicaranya saja sudah membuat perih keseluruhan rasa Andhira.
Andhira menahan napasnya berusaha agar rasa sakit pada kulit yang lecet itu tidak terlalu terasa. Sesegera mungkin Andhira menyelesaikan ritual mandinya itu. Sekitar 10 menit kemudian, Andhira pun ke luar dari kamar mandi. Dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk secara perlahan. Berupaya agar sekujur tubuh yang lebam itu tidak tertekan terlalu keras hingga menimbulkan rasa ngilu.
"Maaf, Mas, aku ingin berganti pakaian," tutur Andhira sembari menutupkan dua tangan di depan dadanya.
"Hahaha ... Aku bahkan sudah melihat seluruh bagian tubuhmu. Kamu tidak perlu malu-malu begitu, Istriku," kata Daffa menekankan nda bicaranya sembari memicingkan mata sinis.
__ADS_1
Daffa berjalan ke arah ranjang dan menghempaskan tubuhnya di sana. Kendatipun dia sudah tahu gelagat Andhira yang menunjukkan kerisihannya, Daffa tetap tidak mengalihkan pandangannya pada Andhira. Bahkan, dengan sengaja Daffa memperhatikan Andhira dengan posisi tubuh miring dan tangan yang menopang di wajahnya. "Walau aku tidak mencintaimu, tapi aku berhak atas tubuhmu," batin Daffa.
Andhira tidak dapat berbuat banyak selain pasrah pada keadaannya saat itu. Dia segera memakai baju yang telah dipilihnya. Lalu, dilanjutkan dengan mengeringkan rambut dan menyisirnya. "Andai saja yang sedang menatapiku dengan lekat itu adalah orang yang mencintaiku. Kupastikan aku akan menunjukkan rasa senangku, tapi saat ini ... aku sedang dipandangi oleh orang yang bahkan tidak bisa menghargaiku sebagai istrinya. Jadi, salahkah jika aku merasa risih dan tidak nyaman?" bisik hati Andhira.
Selesai dengan semua itu, Andhira pun melenggang ke luar dari dalam kamar. Dia bermaksud untuk melakukan kegiatan apa saja, yang penting tidak ada Daffa di dekatnya. Namun, ternyata Lelaki itu tidak membiarkan Andhira menghindarinya begitu saja.
"Siapa yang menyuruhmu meninggalkan kamar?" sergah Daffa yang tiba-tiba sudah ada di belakang Andhira menyusul langkahnya.
Langkah kaki Andhira pun tertahan karena Daffa memegangi pergelangan tangan Andhira dengan erat. Jantung Andhira seakan terlepas dibuatnya. Lelaki itu tidak pernah membiarkan Andhira merasa tenang barang sebentar. "A-aku ingin membuat sesuatu di dapur, Mas," gagap Andhira membuat alasan.
Daffa mendengus kesal seraya menyeret lengan Andhira. "Ikut aku!" paksa Daffa, lalu membawa Andhira kembali ke dalam kamar.
"Mau apa, Mas?" panik Andhira.
__ADS_1
Bersambung ....