
Maya dan juga Andhira mengakhiri percakapan telepon mereka. Setelah itu, tidak ada lagi kecemasan Andhira mengenai kemungkinan bahwa Maya punya hubungan dengan lelaki yang menjadi suaminya, Daffa. Namun, Andhira masih belum tahu pasti dan tidak bisa menjamin benar tidaknya semua yang Maya katakan.
Tidak lama berselang, Daffa pun sudah datang membawa sesuatu yang dibelinya. "Dhira, bisa tolong tata ini!" pintanya pada Andhira.
Lelaki itu benar-benar berubah 360⁰. Dia bahkan memakai kata 'tolong' saat meminta bantuan dari Andhira. Tidak seperti sebelumnya yang kalau bisa, rasanya dia akan memukul Andhira setiap kali dia menginginkan sesuatu.
"Sudah, Mas," ucap Andhira ketika dia selesai melakukan titah Daffa.
"Oke, terima kasih," jawab Daffa singkat.
Benar-benar sebuah keajaiban. Lelaki itu mengucapkan 'terima kasih' setelah sebelumnya memulai perintah dengan kata 'tolong'. Apakah Andhira merasa senang sekarang? Tentu tidak secepat itu. Andhira masih harus dihadapkan dengan rasa curiga dan waspada terhadap sikap Daffa. Hal itu sama sekali tidak mudah baginya menerima perubahan besar yang sangat tiba-tiba.
Daffa membeli begitu banyak peralatan mandi dan juga wewangian seputar perawatan tubuh. Mulai dari lotion hingga lulur dan sejumlah kosmetik lain yang menunjang kecantikan kulit pun didapatnya. Sempat terbersit rasa heran dalam pikiran Andhira. Untuk apa Daffa membeli semua itu dalam jumlah yang banyak? Apakah untuk dijual lagi? Ahh, rasanya mustahil.
"Maaf, Mas, untuk siapa semua ini?" tanya Andhira, yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa kamu bercanda?" Daffa menjawabnya dengan pertanyaan lagi. Andhira langsung menunduk dalam-dalam.
__ADS_1
"Tentu saja untukmu, Dhira. Apa ada orang lain di sini selain dirimu dan aku? Aku sengaja menyiapkannya untukmu," papar Daffa melanjutkan.
"Tidakkah ini terlalu banyak, Mas?" tanya Andhira dengan dahi yang dikerutkan pertanda sangat heran.
"Kamu akan membutuhkannya," tandas Daffa, lantas melepas jaket yang dia kenakan.
Andhira tertegun dengan mulut menganga. Dia masih tidak habis pikir dengan semua itu. "Bagaimana mungkin dia yang tempo hari memberiku uang belanja sebesar lima puluh ribu rupiah untuk tiga hari, saat ini dia membelanjakan aku semua itu yang jelas harganya mencapai ratusan ribu untuk satu produknya?" batin Andhira.
"Aku ingin kamu memakai wewangian saat sedang bersamaku. Apakah itu salah?" lontar Daffa. Sepertinya, dia dapat membaca bahasa mata Andhira yang dipenuhi oleh keraguan.
"T-tidak, Mas, aku hanya sedikit tidak percaya saja," gagap Andhira seraya menautkan jemari tangannya.
Andhira tersentak dan langsung menggelengkan kepalanya. Tatapan Daffa terhadap dirinya membuat Andhira merasa terintimidasi. Suasana pun menjadi hening setelah beberapa dialog itu terjadi.
Daffa pergi ke kamar mandi. Entahlah, mungkin dia ingin membasuh wajah atau membersihkannya setelah dari luar tadi. Sedangkan Andhira, duduk di depan meja rias dan meneliti penampilan barunya dengan rambut yang pendek. Mata Andhira memejam mengingat sebab yang membuatnya sampai menggunting rambut panjangnya itu. Gelenyar rasa nyeri kembali dia rasakan di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, di mana Andhira masih memejamkan mata meresapi lukanya. Tiba-tiba saja sebuah sentuhan dari tangan yang kekar menelusup membelai leher jenjang Wanita berkulit putih itu. Sontak, Andhira pun langsung membuka matanya yang sedari tadi menutup rapat.
__ADS_1
"Apa kamu belum memakai wewangian itu?"
Suara Daffa terdengar sangat berat. Dia berbisik pada Andhira dengan bibir yang sengaja dia tempelkan di daun telingan Andhira. Tak ayal, bulu kuduk Wanita berambut pendek itu pun meremang. Terlebih, tiupan napas Daffa terasa begitu hangat menyapu ke tengkuk Andhira.
Mungkin, Daffa tidak sabar menunggu Andhira yang hanya diam tak berkutik. Segera saja tangan Daffa menyambar sebuah botol lotion dan menuangkan ke telapak tangannya. Kemudian, Lelaki itu meratakan lotion tersebut dengan lembut ke seluruh pemukaan kulit Andhira yang dia inginkan.
"M-mas," pekik Andhira menahan gerakan tangan Daffa, yang semakin gencar menelusup ke balik baju tidurnya.
"Aku ingin istirahat," lanjut Andhira seraya bergegas menuju tempat tidur.
Terlalu sering menerima perlakuan buruk dari Daffa sebelumnya, membuat Andhira terbayang-bayang dan sulit melupakannya. Luka yang Daffa torehkan begitu membekas pada dirinya. Semua itu membuat Lelaki tersebut kesulitan mendapat kepercaan Andhira kembali. Hingga, setiap kebaikan yang Daffa lakukan sekali pun itu tulus, Andhira tetap saja nencurigainya.
"Baiklah ...," lirih Daffa yang masih berdiri mematung di tempatnya semula.
"Maafkan aku, Mas. Tidak mudah bagiku mengembalikan kepercayaan yang terlanjur kamu hancurkan. Aku sudah pernah mencobanya, tapi kamu kembali merusaknya tanpa perasaan dan hal itu seperti membuatku menjadi gilaa," bisik hati Andhira.
Daffa berjalan perlahan menyusul Andhira ke tempat tidur. Dilabuhkannya sebuah kecupan mesra di kening Andhira yang direspon dengan palingan wajah oleh Istrinya itu. "Dia belum benar-benar memaafkanku," gumam Daffa di dalam hati yang menyadari.
__ADS_1
Bersambung ....
Kripik pedes dan sarang yang membangun dipersilakan ye, readers tersayang. Jangan ragu berpendapat pokoknya. Othor wanita tangguh dan kuat, jadi tenang aja. Lope-lope. ❤❤❤❤