IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 73 Banyak Berubah


__ADS_3

Tiga bulan kemudian. Di sebuah pondok pesantren di mana Farid berada. Farid sedang menyibukkan diri dengan membantu menyiapkan beberapa keperluan para santri di sana. Dia tampak sangat serius melakukan aktifitas barunya. Lelaki arogan itu kini telah banyak berubah.


Manusia memang tak pernah tahu akan seperti apa jalan yang ditapakinya di masa depan. Tapi semua itu bukan alasan untuk berucap 'pasrah saja 'toh semua sudah diatur'. Memang, itu tidaklah salah. Namun, ada yang lebih berkelas dari sekedar pasrah yang hanya diam yakni berdoa dan berusaha dahulu sekuat kemampuan, barulah setelah itu berpasrah kepada Tuhan. Dan sepertinya, nilai itulah yang ingin Farid dapatkan sebagai upaya memperbaiki diri.


Pemuda itu kini tampak lebih sederhana. Jauh dari tampilan yang penuh kemewahan atau segala hal yang berbau duniawi. Bahkan, dia juga belajar untuk menundukkan pandangannya pada lawan jenis seperti sekarang saat Inara, putri Pak Kyai mengajaknya bicara.


"Permisi, Mas Farid. Buya ingin bertemu denganmu," ucap Inara mengutarakan maksudnya.


Farid tetap menunduk tak berani menatap wajah Gadis cantik itu. "Baik, Dik. Terima kasih. Saya akan segera menemui Buya," jawab Farid. Buya adalah panggilan yang disematkan untuk Pak Kyai atau Pimpinan pondok pesantren.


Inara undur diri dari hadapan Farid. Ada perasaan aneh yang menyeruak dan menggelenyar di hati dan menjalar di setiap aliran darahnya, saat dia melihat Farid. Entah mengapa, tapi hati Inara seperti tertarik gelombang magnet yang sangat kuat.


Di menit-menit berikutnya, Farid sudah menghadap Buya Kyai untuk memenuhi seruan yang dititipkan pada Inara tadi. "Ada apa, Buya?" ujar Farid dengan penuh sopan santun.


Lelaki tua yang disebut Buya itu tersenyum. Wajah teduhnya memberi ketenangan pada setiap mata yang memandangnya. "Silakan duduk dulu, Nak Farid," ucapnya mempersilakan. Farid mengangguk patuh.


Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Inara melihat ke arah Buya, dan juga Farid yang sedang berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi tampaknya sangat serius. Tiba-tiba saja, Buya mengarahkan bidikan matanya ke arah Inara disusul oleh Farid yang juga melakukan hal sama seperti Buya.


Inara menjadi gugup dan salah tingkah. Sedangkan Buya, menimbulkan senyuman yang nyaris menjadi segelak tawa. Berbeda dengan Farid yang justru menunduk dalam-dalam.

__ADS_1


***


"Siaall!" umpat Shella yang kala itu sedang bersama seorang pemuda. Diketahui nama pemuda itu adalah Dimas.


"Sudahlah, Shella. Dari pada sibuk memikirkan Farid, lebih baik kita bersenang-senang. Lagi pula, aku sangat rindu ingin menyelami lembah bersalju milikmu seperti dulu, saat pertama aku mengambil kegadisanmu."


"Diamlah kamu, Dimas!" ketus Shella.


"Ayolah, Sayang. Jangan munafik. Aku tahu kamu sangat liar. Jangan sia-siakan waktumu untuk meikirkan Farid yang tidak mencintaimu. Sejak awal sudah kubilang, dia hanya ingin tubuhmu saja," bisik Dimas.


Shella mendorong tubuh Dimas yang ternyata adalah mantan kekasihnya dulu. Mereka memang masih berhubungan baik selama ini. Dan malam itu, Shella sengaja mengajaknya bertemu untuk bercerita tentang Farid yang tiba-tiba hilang dari jangkauannya. Meski dirinya dan Farid tidak pernah terikat hubungan dan hanya merupakan teman kencan semata, tapi Shella telah lama menaruh perasaan dan berharap bisa bersama Farid.


"Jangan kurangajar, Dimas," lontar Shella.


Namun, Lelaki itu hanya menyeringai sinis dan langsung menyergap tubuh Shella. Dia membalikkan tubuh Shella dan memposisikan bongkahan daging kenyal milik Shella tepat di depan pusakanya. Lalu, dengan cekatan tangan kekar Dimas menyingkap rok dan merobek segi tiga pengaman yang melekat di daerah sensitif Shella.


"Aaakhhh," pekik Shella saat benda pusaka itu menerobos miliknya dengan ganas.


"Brengsekk kamu, Dimas," makinya sambil menahan perasaan yang mengaduk-aduk miliknya dengan gencar.

__ADS_1


Dimas tidak perduli dan terus berpacu dengan gagahnya. Semakin lama, makian Shella berubah menjadi rintihan manja penuh kenikmatan dan gairah yang membabi buta. Dimas tahu setiap titik kelemahan Shella. Dia tidak akan bisa menolak lagi sekarang.


"Ougggh ... Dimmmaaasssss," lenguh Shella seakan meminta untuk terus dicumbui.


"Ciiihh! Aku tahu kamu menyukainya, Shella." Dimas berdecih, saat melihat Shella yang semakin tenggelam dalam kenikmatan permainanya.


Mereka terus berpacu dalam irama gerak dan lolongan merdu yang terus mewarnai petempuran sengit itu. Tak kurang dari dua jam mereka mlakukannya. Hingga kini, keduanya pun terkapar lemah tidak bedaya. Akan tetapi, sesaat kemudian gairah Dimas membara lagi.


"Aku menginginkannya lagi, Shella sayang." Dimas pun kembali melancarkan aksinya tanpa menunggu persetujuan Shella.


"Ampun, Dimmmmaaaas, sudah cukup!" jerit Shella. Dan mereka pun mencapai pelepasan untuk kesekian kalinya secara berbarengan.


"Milikmu masih nikmat seperti dulu, Shella," puji Dimas dengan napas yang masih tersengal. Shella hanya tersenyum penuh kepuasan.


Di lain ruang dan keadaan. Daffa sedang asyik mengajak calon anaknya berbicara dari balik perut Andhira yang sudah semakin membuncit. Dia sangat bahagia akan menjadi ayah dari buah cintanya bersama Andhira.


"Sudah ngobrolnya, Mas. Sepertinya, Ibu bayi sudah mengantuk," ujar Andhira sambil mengelus lembut kepala Daffa yang menempel di perut buncitnya.


"Baiklah, Sayangku. Selamat tidur," ucap Daffa seraya melabuhkan kecup sayang di kening dan pipi Andhira.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2