
Sebenarnya, Andhira merasa sangat tertekan dengan kondisi dirinya yang harus memakai topeng kepalsuan dalam rumah tangganya sendiri. Tidak jarang dirinya mengalami perubahan suasana hati yang sangat drastis, misalnya saja dari yang awalnya merasa senang menjadi sangat sedih dan putus asa. Persis seperti yang sedang terjadi padanya saat ini, di mana baru saja dia merasa senang karena berhasil membodohi Daffa, tapi setelah itu tiba-tiba saja dia merasa sangat sedih dan penuh kegagalan.
"Dhira ...," lirih Daffa saat dia keluar dari kamar mandi.
Andhira yang dalam keadaan menangis segera menyeka air matanya dan menyiapkan kembali senyuman palsunya yang dia buat seindah mungkin. Barulah setelah itu dia menoleh ke arah Suaminya. "Iya, Mas," jawabnya dengan suara yang halus.
Daffa membalas senyuman Andhira sembari berjalan ke arahnya. Dia dalam keadaan bertelanjaang dada sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. "Bagaimana, apakah kamu menikmati hari ini?" tutur Daffa, lantas duduk di bibir ranjang, tepatnya di sisi Andhira.
"Kenapa dia hanya mengutarakan pertanyaan yang berulang? Tidak bisakah dia menanyakan hal lain yang lebih berguna?" gerundal Andhira di dalam hati.
"Dhira?" ulang Daffa menanti jawaban Andhira.
__ADS_1
"Ya, Mas. Aku sangat senang dan menikmati semuanya," seringai Andhira.
"Kalau kamu tidak lelah, bolehkah malam ini?" tutur Daffa meminta haknya.
"Tentu saja, Mas. Kenapa harus menunggu aku tidak lelah? Bukankah biasanya kamu tidak perduli akan hal itu selama kamu bisa mendapatkan yang kamu mau," sarkas Andhira.
Daffa tersentak seperti hendak berkilah, atau mungkin menjawab atau entahlah. Yang pasti Andhira tidak ingin membuang waktunya untuk mendengarkan pembelaan diri ataupun permintaan maaf dari Lelaki yang dinilainya hanya senang pada tubuh Andhira saja. Tanpa basa-basi lagi Andhira langsung melakukan kewajibannya melayani Daffa. Meski hatinya hanya terisi rasa yang mati, meski pikirannya mebenci, meski dia tidak merasakan getaran selayaknya suami istri. Tidak mengapa, asalkan tidak ada kesempatan bagi Daffa untuk menyalahkan Andhira nantinya.
Beberapa jam bergelut, meneguk madu dan menyelami lembah surgawi yang penuh kenikmatan. Akhirnya, Daffa pun kelelahan dan tumbang mendahului Andhiran. Seiring pendar lampu yang meredup di dalam kamar itu, matanya turut terpejam dengan lelap.
Namun, tidak begitu dengan Andhira. Wanita itu mengasingkan dirinya ke dalam kamar mandi dan menangis tak henti-henti. Dia merasa dirinya tidak berarti dan begitu hina. Di malam yang sangat dingin itu, Andhira mengaliri tubuhnya dengan guyuran air dari shower yang memayungi di atas kepalanya. Rasa dingin yang menguliti tidak lagi dipedulikannya. "Aku benci dengan semua ini. Aku benci!!" jeritnya tertahan seraya memukuli dirinya sendiri.
__ADS_1
***
Keesokan pagi saat dua manik mata Daffa mengerjap dan perlahan mulai terbuka. Dia merabakan tangannya ke permukaan bantal di sisinya. Namun, Lelaki itu tidak mendapatkan Istrinya di sana. "Dhira ...," panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Seruannya itu hanya berbalas hening. Lama tidak mendapatkan jawaban dari Andhira. Daffa mumutuskan untuk mencari keberadaan istrinya tersebut. Dia mengucek mata dan mengumpulkan seluruh kesadarannya. Akan tetapi, ada kejanggalan yang Daffa rasakan saat itu. Dia pun mengerutkan dahi dan mencekungkan kedua alisnya penuh tanya.
Daffa bergerak dengan cepat menuju kamar mandi dan betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh Andhira terbujur kaku dihujani air shower yang terus mengalir. Hingga air itu tampak membanjiri lantai kamar mandi dan genangannya nyaris sampai keluar pintu. "Andhiraaaa!!" jerit Daffa dengan perasaan yang kacau balau tidak menentu
Bersambung ....
Jangan lupa dukung othor, ya. Makasih. ❤❤❤
__ADS_1