
Perasaan keduanya melayang bagai terbang ke atas negeri awan. Beriring eratnya pelukan dan pekik kenikmatan di akhir puncak permainan panas mereka. Dunia pun seakan berada dalam genggaman dua insan yang sedang dimabuk kepayang tersebut.
"I love you, Dhiraku."
"I love you more, Mas."
Senyum sehangat sapaan mentari pun terbit dari bibir Daffa. "Jangan pernah pergi dariku, Sayang," ucap Daffa sembari mengatur napas yang masih tersengal.
"Selama kamu menggenggamku dengan cinta, aku tidak akan pergi, Mas."
Daffa mengecup kening Andhira seolah mengaminkan harapan Istrinya itu. "Tidurlah, wahai Embun penyejuk hatiku," titah Daffa.
Mereka pun tidur dalam mesranya dekapan berbalut selimut yang membenamkan tubuh keduanya. Kalian tahu? Rasanya mereka mendapatkan kedamaian hidup tertinggi setelah sebelumnya hidup mereka dipenuhi dengan begitu banyak kekacauan.
***
"Selamat pagi," sapa Daffa tepat di saat Andhira membuka matanya.
"Pagi, Mas," balas Andhira dengan suara serak-serak manja khas bangun tidur.
"Bagaimana, apakah tidurmu nyenyak?"
"Ya, aku sampai lupa untuk bermimpi," jawab Andhira dengan nada canda.
"Hahaha ... bisa saja kamu," timpal Daffa seraya mengacak pelan rambut Andhira.
Jujur saja, itu merupakan tidur malam paling nyenyak yang Andhira dapatkan selama bersama Daffa. Karena sebelumnya tidak begitu. Bahkan, saat Daffa mulai berubah baik pun, kewaspadaan Andhira terhadapnya masih ada dan hal itu membuat kualitas tidurnya tidak baik. Tapi sekarang ....
"Mas, aku mau-"
Daffa menjeda kalimat Andhira dengan pagutann bibirnya. Andhira pun tak ingin kalah. Dia mulai berani melakukan serangan balasan pada Daffa. Ya, sekarang sudah berbeda. Andhira tidak lagi merasa takut disiksa.
"You're so sexyy, Honey," puji Daffa sambil menggerayangi tubuh Andhira.
"Mas, kita belum mandi," ronta Andhira, seketika menghentikan gerakan tangan Daffa yang mulai aktif.
"Kamu tetap memikat, Sayang. Izinkan aku melakukannya sekali lagi sebelum kita mandi."
"Aahh, sudah, Mas. Nanti malam saja lagi," rengek Andhira.
Bukannya berhenti, Daffa malah semakin gencar menghujani Andhira dengan sejuta cumbu dan rayu. Hingga mau tidak mau, Andhira pun terseret oleh derasnya arus gairah Daffa. Sepertinya, api gairah itu tidak pernah padam dan justru semakin berkobar menyala-nyala. Dan terjadi lagi, pertempuran yang serupa mereka lakukan tadi malam.
Pertanda siang telah tiba. Sinar mentari menyoroti dengan kilau cahayanya yang menyilaukan mata, serta kehangatan yang begitu ramah menyapa. Selarik pendar membias di laut jernih Pulau Cinta.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Andhira yang turut mengiringi langakah kaki Daffa. Kala itu, keduanya telah segar usai mandi dan juga sarapan.
"Mengajakmu berenang di laut. Lihat, airnya jernih dan menyegarkan. Aku rasa kita akan rugi kalau sampai melewatkannya," terang Daffa.
__ADS_1
"Tapi, Mas, aku tidak pandai berenang. Lagi pula, kita 'kan sudah mandi. Aku tidak mau ikut, ahh."
"Kenapa? Kamu takut?"
"Tentu saja aku takut. Kalau tenggelam bagaimana?"
"Aku akan jadi pelampung untukmu. Jadi, kamu tidak perlu takut akan tenggelam," jawab Daffa menggodai Andhira, sembari mengerlingkan manik matanya.
"Gombal!"
"Tidak apa-apa 'kan menggombali istri sendiri?"
Suara tawa terdengar riuh mengiringi bincang hangat di antara suami istri itu. Semilir angin pun menerpa dengan kencang seolah turut merayakan. Merayakan pesta cinta yang tengah ramai mengisi hati keduanya.
"Aww, Mas, kakiku," pekik Andhir yang langsung terduduk di atas dermaga.
"Kenapa kakimu, Sayang? Apa ada yang terluka?" ujar Daffa yang tampak panik.
"Sepertinya terkilir, Mas. Aduuuh, rasanya sakit sekali," ringis Andhira sambil memegangi kaki sebelah kirinya yang sakit.
"Baiklah, Sayang. Ayo kita obati." Daffa langsung mengangkat tubuh Andhira dan membawanya ke tempat yang memadai. Masih di dermaga yang saling terhubung antar cottage di Pulau Cinta.
Kemudian, Daffa membuat Andhira duduk di tepi demaga tersebut. Lantas, dia mulai memijat kaki Andhira yang terkilir. Sementara itu, Andhira sudah tidak fokus lagi pada rasa sikitnya. Dia justru terpaku memandangi wajah Daffa yang begitu telaten mengurusi kakinya.
"Apa sekarang lebih baik?" tanya Daffa sambil mendongak melihat ke wajah Andhira.
Andhira masih tertegun menatapi Daffa. Sehingga dia tidak mendengar pertanyaan Daffa. Dan hal itu membuat Daffa mengulangi kata-katanya sekali lagi.
"Eem ... iya, Mas," gagap Andhira.
"Apa yang kamu pikirkan? Apa wajahku tampan, hum?"
"Apa, sih, Mas? Mengada-ada saja!" sangkal Andhira sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Hmmm, jadi tidak mau mengakui?" imbuh Daffa sambil tersenyum nakal.
"Bukan begitu, Mas, tapi-"
"Tapi, memang benar 'kan?" pungkas Daffa memotong kata-kata Andhira.
"Iish, Mas mulai menyebalkan, deh."
"Ayolah, akui saja. Aku bisa lihat pipimu merona merah. Kamu malu, ya?" cecar Daffa.
"Tidak juga!"
Andhira kembali berjalan mengitari satu dermaga dengan dermaga lainnya yang memang saling terhubung. Tidak perduli dengan kaki yang masih sedikit pincang, dia hanya ingin menghindari Daffa yang terus saja membuatnya salah tingkah. Tidak munafik, Andhira memang mulai memperhatikan wajah Daffa yang semakin hari semakin tampan, seiring dengan perubahan sikapnya yang kian membaik.
__ADS_1
"Dhira, tunggu aku. Hati-hati jalannya. Kakimu belum sembuh benar!" teriak Daffa sembari menyusul langkah Andhira yang semakin menjauh.
Sampai akhirnya Andhira berhenti, lalu Daffa menyergapnya. Memeluk tubuh Andhira sudah merupakan hal yang menjadi favoritnya. Bulu roma Andhira tampak meremang, sebab Daffa terus menghujani ciuman di bagian tengkuk dan lehernya.
"Mas, jangan begitu. Bagaimana kalau dilihat orang lain?" kata Andhira dengan sedikit berontak.
"Mereka tidak akan perduli, Dhira. Lagi pula, mereka juga datang ke sini untuk berbulan madu. Lantas, apa alasan mereka untuk iri pada kemesraan kita?" papar Daffa.
"Tetap saja aku malu," kekeh Andhira.
"Malu pada siapa, Sayang? Sepertinya penghuni cottage yang lain masih betah di tempat tidur. Lihat saja, jembatan ini sepi 'kan," tandas Daffa meyakinkan.
"Aku malu pada terumbu kerang di bawah sana, Mas. Kalau mereka mengadu bagaimana?"
"Hahaha ... kamu ada-ada saja. Tapi, kalau mereka berani mengadukan kemesraan kita pada dunia, maka aku akan memberi mereka hadiah."
"Kenapa begitu?"
"Karena sudah semestinya dunia tahu tentang kita. Bahwa Andhira hanya milik Daffa. Aku tidak sabar ingin mendengar dunia menyiarkan kabar perihal cinta kita."
Tetesan bulir bening menerabas dan berjatuhan dari ceruk mata Andhira. Entah mengapa mendengar Daffa bicara begitu, terasa bagai sanjungan yang sempurna bagi dirinya. Apa kalian juga merasakannya? Mengetahui pasangan kita begitu mengangungkan ikatan yang ada, merupakan hal sederhana yang paling menyentuh relung dada, bukan?
"Jangan menangis, Sayang. Tidakkah kamu bahagia mengetahui besarnya rasa cintaku padamu?"
"Aku bahagia, Mas. Namun, aku takut kebahagiaan ini hanya sementara. Aku takut kebahagiaan ini hanya mimpi yang akan hilang dan berhenti saat aku terbangun."
"Tidak, Sayangku. Ini bukan sebuah mimpi. Ini adalah kenyataan."
Kemudian Daffa meraih tangan Andhira dan membawanya untuk menyentuh dadanya. "Rasakan detak jantung ini. Sentuhlah senyumanku ini, Andhiraku. Semuanya bukan mimpi, Sayang," ujar Daffa.
Di sana bukan hanya gairah dan hasrat saja yang ternyata hadir membersamai mereka. Akan tetapi, ada banyak perasaan lain yang ikut mewarnai bulan madu keduanya. Salah satunya harapan dan juga rasa takut yang menghampiri secara bersamaan.
Mungkin, keindahannya belum dapat kalian rasakan dari cerita ini. Tapi percayalah, dalam kenyataannya semua itu sangatlah indah. Hingga tidak bisa sekedar digambarkan melalui kata-kata.
"Mas, bolehkah hari ini aku merasa normal? Tidak sakit lagi seperti yang dokter katakan? Bisakah aku sembuh seutuhnya?"
"Tentu saja, Sayang. Kesembuhan itu akan ada saat hatimu bersedia berusaha. Bukan hanya ada dari efek obat yang diramukan dokter semata."
'Tangan yang biasa memukul dan mengasariku itu. Kini berubah menjadi tangan yang santun dan menyeka setiap air mata yang jatuh membasahi pipiku. Memelukku dengan lembut di tengah rasa takut yang menghantuiku. Menggenggamku dengan erat dan merawat luka atas rasa sakitku. Salahkah bila aku melabuhkan hatiku di sana? Di dermaga cintanya yang begitu indah dan tidak mampu aku jelaskan lebih gamblang dengan kata-kata?'
Andhira mulai banyak bertanya-tanya dan menimbang-nimbang setiap keadaan dan segala proses yang dilaluinya. Sikap Daffa masih saja menyisakan secuil keraguan dalam hatinya. Kendatipun demikian, tidak sebesar sebelumnya. Kali ini dia ingin mencoba meyakinkan dirinya tentang cinta Daffa sekali lagi.
"Sayang, kita masuk, yuk. Aku rindu menyesap madu dari telaganya ini," tutur Daffa sembari membelai lembut bibir indah Andhira.
"Apa kamu tidak bosan, Mas?"
"Mana mungkin aku bosan. Kamu bagai candu bagiku."
__ADS_1
Bersambung ....
NOTE : Yang ingin tahu tentang gambar PULAU CINTA di Gorontalo, bisa searching di mbah gugel, ya. ❤🖤