
"Mas, aku merasa sesak," keluh Andhira yang tubuhnya berada di bawah kungkungan Daffa.
Sekejap saja perasaan keduanya seolah melayang bagai terbang ke atas awan. Bisikan-bisikan penuh goda terus terlontar dari mulut Daffa. Hangat desau napas yang melenguuh merdu terus mengalun merajai sesisi ruangan. Mereka terus berpacu diiringi rintih dan gerak tubuh yang sarat kenikmatan.
"Aku tidak mau tahu, Dhira. Pokoknya kamu harus membalas cintaku, entah dengan senang hati ataupun dengan terpaksa. Yang jelas, aku tidak akan pernah melepaskan apa lagi mengikhlaskan kepergianmu!" batin Daffa posesif.
Setelah pertempuran itu usai, Daffa menggendong tubuh Andhira yang masih lemas ke dalam kamar mandi. Di sana, Andhira tampak sesekali meringis merasakan perih dari luka di tangannya yang terkena air. Meski luka itu sudah dibalut dengan kassa perban, tetapi air yang mengenai masih bisa menembus lukanya tersebut.
"Ohh, tidak. Lukanya ... pasti itu sangat menyakitkan!" gumam Daffa yang langsung menyelesaikan ritual mandinya dan segera melilitkan handuk ke tubuh Andhira.
"Perbannya harus diganti," ujar Daffa sembari membuka balutan luka itu dari tangan Andhira saat mereka sudah berada di luar.
Tampak Andhira memekik dengan raut wajah menahan nyeri. Tubuhnya menjadi berkali-kali lipat lebih lemas dari sebelumnya. Itu perasaan yang sangat berbeda dengan perasaan ketika Andhira melakukan sayatan di pergelangan tangannya itu, yang justru dia merasakan kepuasan dan kelegaan tatkala melihat darah mengalir dari sana.
"Kenapa? Apa itu sakit?" sarkas Daffa. "Lain kali lakukanlah lagi yang lebih bodoh dari ini," lanjutnya mengomeli Andhira sambil tetap sibuk membalutkan perban baru.
__ADS_1
"Itu tidak lebih sakit dari pada perlakuan kasarmu terhadapku dulu, Mas. Jadi, kamu tidak perlu khawatir," sindir Andhira.
"Dia mulai mengingatkan aku pada dosa-dosaku lagi," gerundal Daffa pelan.
"Dhira, maukah kamu kuantar pergi ke dokter? Aku rasa kita perlu untuk memeriksakan keadaanmu," tutur Daffa dengan sangat hati-hati.
"Pergi ke dokter? Apa aku terlihat seperti orang yang penyakitan?" timpali Andhira.
"Bukan begitu maksudku, Dhira. Tolong jangan tersinggung," jawab Daffa.
"Dhira ...," lirih Daffa sembari menatap mata Andhira dengan binar penuh cinta.
"Ya, Mas," jawab Andhira singkat.
"Tidakkah kamu pernah berpikir untuk mengikuti program hamil?" tanya Daffa dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
Andhira langsung tertunduk lesu. Jujur saja, sebelum ini Andhira memang pernah memimpikan kehadiran seorang anak dalam pernikahannya bersama Daffa. Siapa yang tidak ingin memiliki momongan? Tentu saja Andhira juga ingin. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak terpikirkan lagi sejak Andhira mendapatkan bertubi-tubi siksa yang mengguncang batinnya. Mengurus dirinya saja Andhira merasa sudah tidak mampu, apa lagi jika harus mengurus anaknya nanti. Baru memikirkannya saja dia sudah lelah. Sehebat itu perbuatan Daffa mengubah pribadi Andhira menjadi seorang yang sungguh berbeda.
"Dhira, apa kamu mendengarku?" ucap Daffa membuyar keheningan.
"Biar Tuhan saja yang menentukan, Mas," jawab Andhira singkat, padat dan jelas.
Daffa menghela napasnya yang terasa perih. Sikap dingin Andhira telah mencabik-cabik perasaannya. "Ternyata, sesakit ini rasanya cinta sendiri," batin Daffa sembari mengusap wajahnya kasar.
"Jangan lupa, Mas! Aku pernah sangat berharap padamu, tapi kemudian kamu mematahkan segenap harapanku itu tanpa belas kasih dan perasaan," bisik Andhira di dalam hati yang bermandikan luka.
[Dering telepon.]
"Ponselmu berbunyi, Mas," tutur Andhira memberitahu.
Daffa hanya mengangguk dengan tatapan mata yang membiaskan sorot kekecewaan. Dia kecewa pada keadaan ini. Keadaan di mana dia yang harus berjuang memerangi penyesalannya sendiri. "Andai dulu aku tidak melakukan banyak kebodohan," gumam Daffa merutuki perbuatannya.
__ADS_1
Bersambung ....