
"Lepaskan, Mas," ringis Andhira merasa sedikit kesakitan.
"Tidak akan, Dhira. Aku tidak mau melepaskanmu!" tolak Daffa.
"Tapi, kamu menyakitiku, Mas," adu Andhira seraya menggerakkan tangannya yang digenggam oleh Daffa dengan sangat erat.
Seketika Daffa tersadar dan langsung melepaskan genggaannya itu. "Maafkan aku, Dhira," ucapnya.
"Jangan terlalu sering memint maaf, Mas. Itu membuatmu terlihat kerap melakukan kesalahan dan bermudah-mudahan dengan kata maaf," sarkas Andhira. Daffa mengangguk lemah.
"Aku akan membersihkan diri dulu," pamit Andhira yang meringsut turun dari atas ranjang.
"Aku juga." Gegas Daffa mengekor di belakang Andhira.
Andhira hanya bisa mendengus kasar ketika tahu Lelaki itu terus saja memepetnya. Namun, dia merasa sudah malas berdebat dan banyak bicara. Jadi, Andhira pun membiarkan saja Daffa turut mandi bersamanya.
"Aku selalu menyukai aroma sabun yang menempel di kulitmu," lontar Daffa seraya menghirup bau harum di tubuh Andhira.
"Sebentar lagi kamu akan suka, bahkan pada hal-hal yang sebelumnya kamu benci dariku, Mas!"
"Itu tidak maslah 'kan?" jawab Daffa.
Tiba-tiba saja, ketukan pintu terdengar lagi. "Dhira! Daffa!" seru Nindi dari luar kamar.
"Cepatlah, Mas. Mbak Nindi sudah memanggil kita lagi," peringati Andhira pada Daffa.
"Biarkan saja, aku tidak mau cepat-cepat," jawab Daffa seraya terus menggodai Andhira. Dia tidak mengindahkan seruan Nindi yang terus berulang.
"Huuh, sebenarnya sedang apa mereka di dalam? Membuatku merasa terabaikan saja," cicit Nindi, lalu kembali meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
"Jangan begitu, Mas. Mbak Nindi sudah memanggil sedari tadi. Bagaimana kalau dia berpikir ada apa-apa dengan kita?!" tandas Andhira kesal.
"Kita memang ada apa-apa, Sayang," timpal Daffa sembari tersenyum nakal.
Andhira mengernyitkan dahi dan mengulum senyum tipis. "Kekanak-kanakan!" sarkas Andhira.
Mereka pun segera menyudahi mandinya. Lantas, keluar dan berganti pakaian. Namun, ada satu hal yang membuat Andhira menggerutu. Dia tidak bisa menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.
"Menyebalkan!" kesal Andhira.
"Ada apa?" tanya Daffa pelan.
"Hair dryernya rusak," dumal Andhira.
"Keringan saja dengan handuk seperti ini," seloroh Daffa. Dia langsung membantu mengeringkan rambut Istrinya itu dengan sebuah handuk.
Andhira mendongakkan wajahnya menatap Daffa. Perhatian kecil itu terasa hangat memenuhi ruang hati Andhira. Akan tetapi, tetap saja beberapa saat setelahnya, Andhira bersikap sangat dingin kembali.
Andhira mengangguk pelan. Ya, walaupun hasilnya tidak sesempurna dikeringkan dengan hair dryer, tapi itu sudah cukup membantu mengurangi tingkat kebasahan pada rambut Andhira. Lantas, Daffa melanjutkan dengan menyisir lembut rambut Istrinya tersebut.
Lagi-lagi, Andhira tertegun meresapi perlakuan Daffa padanya. "Cukup, Mas. Aku rasa sudah rapi," tahan Andhira dan langsung mengambil sisir yang ada di tangan Daffa.
"Lukanya sudah kering. Apa ini masih terasa sakit?" ujar Daffa sembari memegangi tangan Andhira yang sebelumnya terbalut perban.
Andhira menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Mas. Sudah lebih baik," jawabnya.
"Syukurlah." Daffa mengecup kening Andhira.
"Perlakuan yang manis, Mas. Andai itu kamu lakukan sejak dulu," batin Andhira.
__ADS_1
"Mari kita ke luar, Mas." Putus Andhira. Daffa pun menyetujuinya dan mereka berdua melenggang ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu. Mereka melihat tatapan Salamah dan juga Nindi tertuju pada diri keduanya. Sorot mata dua wanita beda usia itu seakan penuh tanya. Mungkin, karena mereka melihat rambut Daffa dan Andhira yang segar dan sedikit basah.
"Ibu, Mbak Nindi," sapa Daffa ramah.
Nindi dan Salamah saling bertukar pandang. Kemudian, mengangguk dan tersenyum. Mereka seperti ingin mengatakan sesuatu hal, tapi bibir mereka tertahan untuk mengutarakannya.
"Ada apa, Bu, Mbak. Kenapa kalian seperti itu?" cetus Andhira yang menangkap ekspresi aneh pada Ibu dan Kakaknya itu.
"Ooh, tidak apa-apa. Kalian belum makan siang. Makanlah dulu, setelah itu kita bicara. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan," tanggapi Nindi dengan arah pandangan yang tertuju kepada Daffa.
"Eemm ... Dhira tidak lapar, Mbak." Andhira langsung diduk di sofa dengan posisi berhadap-hadapan.
"Nak Daffa, makanlah dulu!" timbrung Salamah.
"T-tidak usah, Bu. Daffa juga tidak lapar." Daffa menyusul duduk di samping Andhira.
Nindi menoleh pada Salamah dan dibalas dengan anggukkan kepala oleh Ibunya tersebut. "Oke, kalau begitu langsung saja," tutur Nindi yang mulai menguraikan.
"Daf, maaf kalau aku tidak mengabari. Tadi aku membawa Dhira mengunjungi psikiater. Dari serangkaian wawancara dan observasi serta melihat pada perilaku yang dialami Andhira akhir-akhir ini, dia didiagnosa mengidap bipolar disorder," papar Nindi.
Penjelasan Nindi itu disimak dengan seksama oleh Daffa, juga Salamah dan bersambut tangis dari keduanya. Sementara, Andhira hanya diam tanpa ekspresi. Keadaan menjadi lebih serius kala itu.
"Bipolar disorder, Mbak?" tanya Daffa memastikan.
"Ya! Sebuah keadaan di mana pengidapnya mengalami gangguan perubahan emosi dan suasana hati secara ekstrim. Itulah yang terjadi pada Andhira. Dokter menyarankan penangan lanjutan atas hal ini, karena dikhawatirkan gejalanya akan semakin parah dan hal itu bisa saja meningkatkan resiko ... bunuh diri. Banyak dampak buruk lain yang mungkin terjadi termasuk mempengaruhi produktivitas dan hubungan dengan orang lain," beber Nindi lagi.
Daffa semakin menangis dibuatnya. Bukan karena mengetahui penyakit yang diidap Andhira semata, akan tetapi, karena dirinya merasa turut andil dalam memicu gejala tersebut sampai terjadi pada Andhira.
__ADS_1
Bersambung ....