IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 24 Bersolek


__ADS_3

Malam itu, keduanya tidak dapat tidur dengan nyenyak. Baik Daffa maupun Andhira, hanya pura-pura terlelap saja. Di satu sisi ada Andhira yang terus teringat pada perlakuan buruk Daffa. Di sisi lain ada Daffa yang merasa perlu berjuang untuk meraih maaf dari Andhira. Walau sebenarnya, Daffa tidak perlu repot-repot jika hanya untuk mendapatkan maaf itu, karena Andhira sendiri sudah pernah mengatakan bahwa dirinya bisa saja memaafkan, yang sulit adalah melupakan kesakitan yang terlanjur membekas.


Malam semakin dingin, tapi sikap Andhira terhadap Daffa tak kalah dingin. Sepi memenuhi ruangan kamar tersebut. Hanya aroma wangi yang berasal dari olesan lotion di tubuh Andhira yang menyeruak indera penciuman. Angan-angan Daffa menerawang jauh tatkala harum tubuh itu menyertai setiap hirupan napasnya. Lelaki bermata hitam legam tersebut menoleh dan memeriksa Andhira dengan melihat ke wajah Andhira yang memunggunginya.


"Huuuuft," dengus Daffa seraya berbaring lurus menatap langit-langit kamar.


***


"Mas, hari ini aku ingin pergi bersama teman-teman pemotorku, apakah boleh?" Andhira meminta izin.


Daffa tampak berpikir sejenak. "Bersama teman laki-lakimu juga?" tanya Daffa sembari menatap tak rela.


"Iya, Mas," jawab Andhira jujur.


Teman pemotor Andhira memang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang terhimpun dalam kelompok-kelompok tertentu. Mereka bisa dari dalam, atau luar wilayah. Sehingga, jumlah mereka memang lumayan banyak.


"Kalau aku tidak setuju, apa kamu keberatan?" papar Daffa.

__ADS_1


Andhira terdiam dan membisu seribu bahasa. "Tidak mengapa, Mas. Bukankah aku memang harus mematuhimu. Kita lihat, apa yang akan kamu lakukan setelah ini!" batin Andhira tersenyum dengan tatapan dingin.


"Dhira?" lanjut Daffa menanti jawaban.


"Seperti katamu, Mas," ucap Andhira yang berarti patuh pada Daffa.


Wanita yang kini cenderung lebih berani itu pun berlalu meninggalkan Daffa dari ruang tamu. Dia tidak perduli lagi pada kesenangan hidupnya bersama teman-temannya. Andhira hanya berpikir bagaimana caranya agar kewarasannya tetap terjaga. Selagi Daffa tak kasar padanya, dia akan mencoba patuh. Walau jauh di lubuk hati Andhira meraung, menjerit ingin bebas dari semua jerat keadaan yang membelenggu jiwanya tersebut.


"Raganya bersamaku, tapi tidak dengan hatinya. Bahkan, aku bisa merasakan bagaimana mata itu enggan untuk sekedar menatapku," gumam Daffa menyadari sikap Andhira terhadapnya.


Selepas satu jam setelah percakapan itu, tampak Andhira sedang mentapi wajah pucatnya di depan cermin. Dia juga tidak mengerti mengapa seri di wajahnya seolah menghilang? Mungkinkah itu karena jiwanya yang terkekang dan terbelenggu oleh kepahitan? Sungguh, Andhira benar-benar tidak dapat memahaminya.


Diraihnya sebuah lipstik berwarna merah muda, lalu dia aplikasikan ke bibirnya. Andhira juga memoleskan sedikit bedak padat ke permukaan wajahnya, dan tidak lupa menyisir rapi alisnya menggunakan spoolie brush. Dandanan sederhana itu cukup mengembalikan rona wajahnya dengan kecantikan yang tetap terlihat natural.


Dari ambang pintu, ternyata sedari tadi Daffa sedang berdiri memperhatikan Andhira. "Dia terlihat sangat cantik, bahkan hanya dengan polesan make up alakadarnya," gumam Daffa berdecak kagum.


"Tunggu dulu, apakah dia berdandan untukku?" lanjutnya di dalam hati yang penuh harap.

__ADS_1


Daffa berharap? Yang benar saja. Mungkinkah dia sudah lupa pada kata-katanya sendiri, yang pernah berujar bahwa selamanya Andhira hanyalah pakaian kusut baginya? Lihatlah sekarang! Dia bahkan tersenyum penuh arti saat melihat Andhira bersolek. Munafikkah Daffa jika masih mengatakan tak ada cinta di dalam hatinya untuk Andhira?


"Terima kasih, Istriku," seloroh Daffa yang tiba-tiba menghampiri Andhira, dan mendaratkan kecupan lembut di keningnya.


"Terima kasih? Untuk apa?" tanya Andhira dengan mimik wajah yang bingung.


"Untuk hal yang sedang kamu lakukan. Kamu berdandan untukku 'kan?" tutur Daffa penuh percaya diri.


"Maafkan aku, Mas. Tapi, aku berdandan untuk memberi penghiburan pada diriku sendiri, dan ini bukan untukmu."


DEGGG!


Seketika bibir Daffa terkatup kelu.


Bersambung ....


Dukung othor, ye! Thank you. Lope-lope. ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2