IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 34 Jangan Khianati Kepercayaan Kami


__ADS_3

Kala itu, Daffa mempersilakan tamu tersebut untuk masuk. Dia menjadi demikian terkejut dan gugup karena dia tidak menyangka sama sekali tamunya akan datang tiba-tiba, tanpa pembeitahuan atau mengabari terlebih dahulu. Apa lagi, saat itu keadaan dirinya dan Andhira sedang kacau.


"Silakan duduk, Bu," ucap Daffa tatkala mereka sampai di ruang tamu.


Ya, tamu itu ternyata adalah ibu mertuanya, Salamah. Entah ada angin apa sehingga Salamah mengunjungi mereka hari itu. Dia belum mengatakan sepatah kata pun kecuali hanya mengangguk sesekali, ketika Daffa mempersilakannya untuk masuk dan duduk.


"Ada apa sebenarnya, Nak?" tanya Salamah sembari menoleh ke Arah Andhira yang hanya diam sedari tadi.


"M-maaf, Bu, kondisi Dhira sedang tidak baik," gagap Daffa yang juga ikut menoleh kepada Andhira.


Salamah mengangguk pelan. "Mungkin karena itu Ibu jadi ingin ke sini terus sejak beberapa hari yang lalu," ungkap Salamah.


"Maaf, Bu, Daffa buatkan Ibu teh dulu, ya." Gegas Daffa bangkit dari duduknya.


"Tidak perlu, Nak Daffa. Duduklah, Ibu ingin bicara," ujar Salamah menahan langkah Daffa yang sudah hendak pergi ke dapur.


"Baik, Bu," jawab Daffa kembali duduk.


"Sudah berapa lama Dhira seperti ini?" tanya Salamah dengan nada bicara yang sangat lembut.

__ADS_1


DEG!


Jantung Daffa berdegup dengan sangat kencang. Bagaimana dia akan menjelaskan hal ini kepada Salamah? Sedangkan dirinya saja tidak tahu persis kapan hal tersebut menimpa Andhira. Lelaki itu semakin tampak gugup dan bingung.


Salamah bisa menangkap bahasa tubuh dan mimik wajah Daffa yang terlihat rumit. Akhirnya, dia berinisiatif untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Nak, sepertinya Andhira perlu istirahat, boleh Ibu antarkan dia ke kamar? Biar dia tidur saja," tutur Salamah.


"Tentu, Bu. Mari ... Kamarnya ada di sebelah sana," jawab Daffa sambil menunjuk jauh ke arah kamarnya dan Andhira.


Salamah langsung menuntun Sang Putri yang sudah seperti raga tanpa nyawa itu untuk masuk ke kamarnya. Sementara, Daffa menjadi penunjuk jalan yang membersamai mereka ke arah kamar. Sungguh, hati Salamah sebenarnya sedang tidak baik-baik saja mendapati keadaan Andhira demikian memprihatinkan.


"Di sini, Bu," seloroh Daffa sembari membukakan pintu kamarnya.


Salamah mengangguk sambil terus menuntun Andhira sampai ke tempat tidur. Daffa juga tak kalah sibuk, dia turut merapikan posisi bantal dan bed cover yang sedikit berantakan. Sekarang, Andhira sudah berbaring di sana. Entah keajaiban apa yang terjadi, hanya dengan beberapa kali usapan lembut di kepala Andhira dari Salamah, mampu membuat Wanita itu langsung tertidur dengan lelap. Kemudian, Salamah dan Daffa memutuskan untuk melanjutkan obrolannya di ruang tamu.


Mata Daffa berkaca-kaca mendengar Salamah berbicara demikian. Pasalnya, di awal waktu kunjungan Daffa dan Andhira ke rumah Mertuanya itu, Daffa sedang memakai topeng kepalsuan untuk menarik simpatik Salamah terhadapnya. Dia malu sekaligus bingung akan menjelaskan apa kepada Salamah saat ini, setelah ketahuan bahwa kenyataannya Andhira tidak baik-baik saja selama bersama dengannya.


"Katakan saja, Nak Daffa. Ibu akan mendengrkan," sambung Salamah lagi.


"Begini, Bu. Daffa tidak tahu persis kapan tepatnya Andhira mengalami hal ini. Akan tetapi, Daffa sendiri merasa bahwa belakangan ini sikap Andhira sering berubah dengan sangat drastis," papar Daffa.

__ADS_1


"Maksudnya bagimana, Nak?"


"Dia bisa terlihat sangat senang, lalu tiba-tiba menjadi sangat sedih dan kacau dalam tempo waktu yang sangat berdekatan," jelas Daffa.


Salamah diam sembari berpikir. "Apa ada hal buruk yang terjadi pada Andhira sebelum ini, Nak?" tanya Salamah menatap Daffa penuh selidik.


Seketika Daffa langsung tertunduk lesu. "Bagaimana aku akan mengatakan dosa-dosaku terhadap Andhira pada ibunya?" batin Daffa.


"Ya sudah, Nak Daffa. Kalau memang kamu belum bisa menjelaskan sekarang tidak apa-apa. Ibu akan menunggu sampai kamu bersedia mengatakannya. Hanya saja, tolong jangan khianati kepercayaan kami, ya. Selama ini Ibu dan kakak-kakak Andhira menumpukan harap kepada kamu untuk mejaga dan menyayangi Andhira selayaknya seorang suami terhadap istrinya," papar Salamah.


Tutur kata Salamah yang begitu santun dan penuh kelembutan itu, justru menjadikan Daffa semakin merasa berdosa karena perbuatannya kepada Andhira di awal pernikahan mereka. Beban hatinya kini bertambah, dia merasa bersalah bukan hanya pada istrinya saja, melainkan pada seluruh keluarganya yang sudah begitu berharap. "Maafkan Daffa, Bu."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Daffa dan dibalas dengan anggukkan kepala oleh Salamah. Tidak lama setelah itu, Salamah pun pamit untuk pulang dari sana. "Baiklah, Nak, Ibu masih harus mengurus sesuatu di rumah. Ibu titip Dhira, ya. Dia masih suka manja, jadi harap dimaklumi," ucap salamah yang sebenarnya menahan sakit di dalam hatinya.


"Iya, Bu," jawab Daffa patuh.


Daffa pun mengantarkan Salamah sampai ke depan pintu, dan menunggu Salamah hingga naik ke taksi yang sudah dipesannya. Lantas, Daffa kembali ke dalam setelah memastikan taksi yang Salamah tumpangi sudah tidak terlihat lagi.


"Dhira," sebut Daffa teringat akan istrinya.

__ADS_1


Lelaki itu pun berlari menuju kamar untuk melihat keadaan Andhira. "Dhiraaaaaa!!" jerit Daffa saat sampai di dalam kamar dan melihat hal yang mengerikan di sana.


Bersambung ....


__ADS_2