IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 76 SEMBUH (TAMAT)


__ADS_3

Tiga bulan kemudian, di waktu malam yang bertemankan hujan nan lembut. Ketika rasa dingin terasa bagai menguliti tubuh. Andhira telah sampai pada masa persalinannya. Dia melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan menggemaskan. Di sebuah Rumah Bersalin yang dekat dari kawasan rumahnya. Semua orang turut hadir menyambut kelahiran bayi tersebut, tak terkecuali Farid yang kala itu sedang pulang dari pesantren untuk beberapa hari.


Daffa yang setia menemani Andhira sejak kontraksi pertama hingga putranya berhasil lahir ke dunia pun menangis penuh haru. Dia terus berada di samping Andhira, dan tidak pernah meninggalkannya barang sebentar. Labuh kecup pun senantiasa mendarat di kening Andhira.


"Mas ...," bisik Andhira lirih.


"Ya, Sayang. Mas di sini. Terima kasih sudah berjuang dan bertahan sampai anak kita lahir." Daffa menggenggam tangan Andhira dan menciumnya dalam-dalam.


"Sama-sama, Mas. Terima kasih untuk tetap ada di sisiku," balas Andhira dengan suara lemas usai tenaganya terkuras saat proses persalinan.


Seorang perawat memberikan bayi mereka pada Andhira guna menjalankan proses-proses tertentu, yang bermanfaat bagi Ibu dan Bayi, seperti proses inisiasi menyusui dini atau sering disibut IMD. Tak ayal, Andhira pun menitikkan air mata bahagianya saat mendapati malaikat kecil itu berada nyata dalam sentuhan tangannya.


"Dia sangat tampan sepertimu, Mas," ungkap Andhira. Tampak air mata bahagia itu meleleh di pipinya.


"Dia juga pasti memiliki hati yang baik seperti Ibunya," puji Daffa menyanjung Andhira sambil menyeka lembut air mata di pipi Andhira. Mereka hanyut di dalam telaga kasih sayang yang luas tak berbatas.


Tidak lama kemudian, semua anggota keluarga masuk dan memberi mereka ucapan selamat, atas kelahiran putra pertama mereka yang juga merupakan cucu, dan keponakan mereka. Namun, ada kejadian mengharukan lain di sana. Saat Farid bersimpuh di kaki Daffa untuk memohon maafnya.


"Farid, adikku! Bangunlah, jangan seperti ini," ucap Daffa seraya membimbing Farid agar bangkit berdiri.


"Maafkan Farid selama ini, Mas Daffa," ucap Lelaki itu sambil berurai air mata.


Daffa memeluk Farid sambil menangis juga. "Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Bahkan, sebelum permintaan maaf itu terlontar dari mulutmu. Jangan buat dirimu ragu. Kita adalah orang-orang yang dipilih Tuhan, untuk menjadi keluarga," tutur Daffa.


Melihat kedua adik dan kakak itu saling berpelukan dalam tangis haru dan sebuah maaf yang melegakan, kedua orang tua mereka yakni Abah dan Ummi pun turut menghampiri dan mendekap mereka penuh mesra. Sungguh pemandangan yang menyejukkan perasaan.


"Alhamdulillah, terima kasih atas kebahagiaan yang bertubi-tubi ini, Ya Rob." Salamah menengadahkan tangan melangitkan syukur kepada Sang Maha cinta.


"Ini semua berkat doa-doa dan gigihnya perjuangan, Bu," timbrung Nindi, yang kala itu hadir bersama Adi, suaminya. Sebuah senyuman merekah indah bak kelopak mawar yang ranum.

__ADS_1


Kini mereka semua berbaur dalam luruhan rasa bahagia yang membahana. Namun, tiba-tiba saja suara gaduh terdengar samar dan semakin lama semakin mendekat dan jelas. Siapa lagi yang senang bergaduh ria begitu, kalau bukan para sahabat Andhira yang tidak sabar ingin turut menyambut keponakan baru mereka.


"Ya ampun, dia sangat menggemaskan. Aku jadi ingin punya juga," cetus Rere. Kepolosannya mengundang gelak tawa dari semua orang.


"Mangkanya, kalian cepat menikah juga, biar bisa punya bayi yang lucu seperti ini," sahut. Andhira kepada Rere dan Fahri.


"Asal kamu tahu saja, Dhira sayang. Mereka ke sini sambil membawa surat undangan untuk pernikahan mereka yang akan digelar sepuluh hari lagi," papar Maya, yang kala itu sedang menggendong Albi, putranya bersama Alfian.


"Kamu serius, May?" tanya Andhira.


Fahri dan Rere saling melempar senyum, lalu mendahului jawaban Maya pada Andhira dengan serempak. "Itu benar, Dhira," kata mereka.


"Oh, so sweet. Selamat untuk kita semua," imbuh Andhira. Sungguh kebahagiaan ini telah menghapus rasa sakitnya usai melahirkan.


Enam jam berselang, Andhira dan Daffa sudah boleh membawa pulang bayinya ke rumah. Dengan sangat hati-hati Daffa membawa keluarga kecilnya itu pulang menaiki mobil kesayangannya, yang berbulan-bulan lalu sempat ringsek dan membuat si mobil harus menginap beberapa lama di bengkel. Sempurna, semua yang Daffa sayang kini hadir di dalam hidupnya.


***


Dua bulan berselang, tampak Daffa dan juga Andhira serta bayi mungil mereka yang diberi nama Khafa, sudah rapi dan bersiap hendak pergi. Kalian ingin tahu kemana mereka akan pergi? Mereka akan menghadiri pernikahan Farid dengan Inara, anak Buya atau Pak Kyai yang menjadi pimpinan pondok pesantren, di mana Farid menuntut ilmu agama.


Kalian tentu masih ingat, bukan? Beberapa bulan yang lalu Pak Kyai pernah memanggil Farid dan menbicarakan sesuatu yang penting! Benar, Pak Kyai meminta Farid untuk menikahi putrinya, Inara. Bukan tanpa alasan, Pak Kyai melakukannya karena melihat ketertarikan Inara pada Farid. Di sisi lain, Lelaki paruh baya yang biasa dipanggil Buya itu melihat kesungguhan Farid, dalam memperbaiki diri dan akhlaknya.


Saat itu, sebenarnya Farid sempat menolak. Bukan karena tidak tertarik pada Inara, melainkan karena Farid merasa tidak pantas baginya. Dia merasa rendah dan penuh dosa, sehingga dirinya minder untuk disandingkan dengan Inara, yang notabene putri dari seorang kyai dan juga seorang gadis yang shaliha. Namun, ada beberapa keajaiban yang tentunya tidak terlepas dari indahnya karunia Tuhan. Inara dengan lapang dada menyambut Farid yang telah bertobat dari maksiatnya itu dengan cinta, tanpa melihat kepada masa lalu kelamnya. Sungguh indah, ketika Sang Pemilik Takdir Kehidupan telah memutuskan ketetapan bagi hamba-Nya yang senantiasa kembali kepada jalan-Nya yang penuh rahmat.


"Ana uhibbuka fillah, Mas," ungkap Inara. Sebuah kalimat dari bahasa arab yang berarti 'Aku mencintaimu karena Allah, Mas'.


Dengan senyum keharuan Farid pun menjawabnya. "Ahabbakal Ladzii ahbabtanii lahu." Yang artinya, 'semoga Allah mencintaimu, karena engkau telah mencintaiku karena-Nya'.


Di atas pelaminan yang terbilang sederhana, namun tetap elegan itu, keduanya memulai lembaran baru untuk kehidupan yang lebih baik. Kebahagiaan Farid semakin bertambah, kala dia melihat kehadiran Daffa serta keluarga kecilnya. Dia langsung menghambur memeluk Daffa, dan mengambil Bayi Khafa dari gendongan Andhira.

__ADS_1


"Keponakanku, kamu akan jadi laki-laki yang hebat seperti ayahmu saat dewasa nanti," ucap Farid menimang Khafa sembari mencium gemas bayi itu.


"Aamiin, semoga kalian juga cepat diberi momongan seperti kami," tutur Andhira memberikan doanya untuk kedua mempelai.


"Aamiin, Mbak. Terima kasih atas doa indahnya," timpal Inara menyambut doa Andhira.


Sebuah pertobatan yang Farid lakukan, ternyata dihadiahi cinta yang luar biasa oleh Sang Maha Segalanya. Hubungannya dengan Daffa pun kini asli tanpa pura-pura. Mereka terlihat saling melengkapi dan menyayangi sebagai saudara sungguhan. Indah bukan?


***


Malam hari sepulangnya dari pesta pernikahan Farid. Bayi Khafa sudah tertidur lelap dalam buaiannya, yang diletakkan di kamar khusus untuk Bayi Khafa. Saatnya Daffa meminta dimanjakan oleh Andhira.


"Sayang, apa kamu sudah memastikan Khafa tidur dalam keadaan kenyang?" bisik Daffa.


"Sudah, Mas. Lagi pula dia lama kalau sudah tudur. Paling sebentar juga tiga jam," jawab Andhira.


"Bagus, aku sudah rindu ingin menyelami dermaga cintamu. Aku ingin tenggelam lebih lama di sana bersama kapal kecilku ini." Daffa menggendong tubuh Andhira yang kini tampak lebih padat itu ke atas medan pertempuran mereka.


Percayalah, malam itu terasa bagai bulan madu lagi bagi keduanya. Cucuran keringat serta getaran-getaran sarat hasrat pun mewarnai pertempuran sengit itu. Desau syahdu dan lengking merdunya erangan terus terdengar dari mulut keduanya. Empat kali pelepasan pun berhasil mereka tapaki.


"Sayang, kita buat adik lagi, ya, untuk Khafa," rayu Daffa di tengah napas yang masih memburu.


"Tidak mau! Jangan sekarang , Mas. Khafa masih terlalu kecil, kasihan tahu!" rengek Andhira manja. Daffa tertawa sambil merapatkan tubuh Andhira yan polos kepadanya. Mereka berdua membenamkan diri dalam hangatnya peluk dan balutan selimut tebal.


Oh, ya. Kalian harus tahu, Daffa dan Alfian tetap meneruskan kerjasamanya dalam bisnis kuliner mereka. Sedangkan amanah Abah untuk Daffa, juga tetap dia jalankan. Dan kabar yang paling baik dari yang terbaik adalah .... Andhira dinyatakan sembuh dari bipolar-nya. Meski dokter tetap mewanti-wanti Daffa, agar menjaga Andhira maupun perasaannya dengan baik dan tidak melakukan perbuatan yang dapat memicu stres pada Andhira.


Alhamdulillah, berkat kesabaran, ketelatenan, perjuangan dan kegigihan serta dukungan dari orang-orang yang menyangi Andhira, hidupnya kini mendapatkan kebahagiaan yang paripurna. Dan kalian tahu apa penyembuh paling hebat untuk luka batin dan trauma? Biar kuberitahu, itu adalah 'MEMAAFKAN'. Percaya atau tidak, memaafkan adalah cara paling ampuh untuk meredakan rasa nyeri dan membebaskan hati juga jiwa dari hal-hal buruk yang menyakitkan, serta menghapuskan rasa dendam. Itulah yang Andhira dan Daffa lakukan untuk memupuk rasa cinta mereka yang sempat usang dan nyaris mati.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2