IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 30 Lepaskan Aku


__ADS_3

Daffa membawa Andhira ke luar dari sana, lantas mengeringkan tubuhnya yang basah kuyup dan dingin. Bibirnya membiru, wajahnya pucat pasih tak bercahaya. Tanda-tanda kehidupan nyaris tidak ada pada diri Andhira.


"Apa yang kamu lakukan, Dhira? Bukankah tadi kamu bersenang-senang dan tersenyum bersamaku?" ucap Daffa sambil memakaikan baju ganti kepada Istrinya yang dia rebahkan di atas kasur itu.


Lalu, Daffa menggendong tubuh Andhira berniat hendak membawanya ke dalam mobil dan pergi untuk menemui dokter. Namun, tiba-tiba saja Andhira siuman. "Ayah ... Dhira mau dibawa kemana?" kata Andhira dengan nada yang sangat lemah dan air mata yang lolos begitu saja dari ceruk netranya.


"Ayah? Ini aku, Dhira," jelas Daffa.


"Mas? Kita mau kemana?" ulang Andhira yang mulai sadar bahwa itu adalah Daffa.


"Ke dokter, keadaanmu sangat buruk," jawab Daffa.


"Tidak mau, Mas. Ayo kembali ke dalam," rengek Andhira.


"Tapi, kita harus memeriksakan keadaanm, Dhira."


"Aku bilang tidak mau!" bentak Andhira mengejutkan Daffa. Sontak saja, Daffa langsung menurunkan tubuh Andhira dari gendongannya.


Andhira menatap nanar kepada Daffa. Sorot matanya penuh luka dan api dendam yang sulit untuk dipadamkan. Sementara itu, Daffa hanya diam tak percaya kalau baru saja dirinya telah dibentak oleh Andhira.


"Dasar gila!" hardik Daffa yang tersulut emosi.


"Ya, dan kamulah yang sudah membuatku gila, Mas. Lepaskan aku!" raung Andhira dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Jangan bicara sembarangan, Dhira. Aku ini suamimu dan kamu adalah istriku," peringati Daffa.


"Kamu sudah membuatku menjadi gila, Mas. Dan orang gila tidak bisa disembuhkan oleh orang yang membuatnya gila! Biarkan aku pergi, Mas," rengek Andhira yang tampak cemas tak terkira.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Dhira?!"


"Kamu tidak akan pernah bisa mengerti, Mas. Karena aku tidak pernah berarti apa-apa untukmu. Kamu hanya mencintai tubuhku, kamu hanya menyukai permainanku, kamu tidak pernah benar-benar menganggapku sebagai istri yang patut kamu hargai. Aku tidak bisa melanjutkan semua ini, Mas. Aku tidak mau," racau Andira meronta-ronta.


Tidak ada yang bisa Daffa lakukan lagi kecuali hanya menggelengkan kepalanya merasa heran. Dalam hatinya bertanya-tanya 'mengapa Andhira demikian marah padanya?'. Bukankah sebelum ini semuanya baik-baik saja? Bahkan hubungan mereka belakangan ini tampak harmonis. Andhira selalu melayaninya dengan baik. Lantas, apa masalahnya?

__ADS_1


Ternyata, Daffa masih tidak sadar juga bahwa sikapnya yang dulu kasar dan keras terhadap Andhira meninggalkan jejak trauma yang begitu membekas. Trauma baru yang membuat seluruh luka batin Andhira kembali menganga. Lelaki itu benar-benar beranggapan bahwa perubahan sikap Andhira belakangan ini murni terjadinya, bukan karena sesuatu hal.


Beberapa saat kemudian, Andhira berusaha mengendalikan dirinya. Walau dia tidak yakin dirinya mampu melakukannya. Dalam kondisi yang masih sangat lemah itu Andhira ambruk meluruhkan tubuhnya ke lantai.


"Dhira ...," lirih Daffa hendak menyentuh Andhira.


"Jangan mendekat, Mas. Jangan dekati aku!" tandas Andhira seraya mengangkat tangan meberi peringatan.


Daffa mengurungkan niatnya dan mundur beberapa langkah. Kini, dirinya turut bersimpuh di lantai. Dia duduk sejajar dalam jarak berjauhan dengan Andhira. "Aku tidak mengerti sedikit pun. Apa sebenarnya yang terjadi pada Andhira?" tanya hati Daffa.


Andhira memeluk kedua lututnya yang ditekuk sambil terus manggut-manggut. Mulutnya terus meracau dan entah apa yang dia katakan. Bicaranya sangat cepat dan sepertinya, itu mengenai beberapa hal yang berbeda-beda.


Daffa melihat ke arah Andhira, tapi tetap tidak berani mendekatinya. Dia hanya bisa menyaksikan kekacauan pada diri Istrinya tanpa bisa mengatasi masalahnya. Daffa memejamkan mata sambil meremaas rambutnya frustasi. Jujur saja, hatinya sakit menerima semua itu.


Bersambung ....


Guys, jangan lupa mampir juga ke karya kece milik teman othor. Dijamin bikin penasaran dan panas dinhin. Awas kalo gak mampir. Siap-siap hari kalian selasa terus 😈🤣🤣🤣


Judul : Sekedar Pelampiasan


Author : Weny Hida


CUPLIKAN


Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.


"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.


"Sudah," jawab Luna singkat.


"Ayo kuantar pulang!"


Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.


"Terima kasih, Luna."


Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.


'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.


"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."


****


Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.


Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.


CLUP


Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.


"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.


Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.


"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."


Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.


'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.


__ADS_1


__ADS_2