IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 48 Inikah Hukuman Untukku?


__ADS_3

Di lengkung tangan Daffa, Andhira menaruh kepalanya. Dia berada dalam timangan suaminya itu. Andhira tidak juga bisa terlelap ketika Daffa sudah tidur dengan nyenyak. Ya, gangguan bipolar yang diidapnya ternyata juga menyebabkan berkurangnya kebutuhan tidur Andhira. Walau semua itu pasti ada penyebabnya.


"Lihat! Bukankah hidup ini sangat lucu? Seorang korban tidur dalam pelukan pelaku ... hahaha," gumam Andhira sembari tertawa pelan.


Wanita itu menatapi wajah Daffa dengan tajam. "Hey, tidakkah kamu merasa takut aku lukai, Mas? Bagaimana kalau tiba-tiba aku menjadi sebilah mata pisau yang menikammu? Kamu mendekapku dengan sangat erat, dan aku malah menjadi penyebab terbunuhnya dirimu?" seringai Andhira.


Andhira melepaskan pelukan Daffa dari tubuhnya dengan perlahan. Lantas, dia duduk dan mulai berjalan. "Aku merasa bosan," keluh Wanita berambut pendek itu.


"Hal bodoh apa yang sedang aku lakukan ini?" lanjut Andhira merutuki dirinya.


Malam itu seakan mendera Andhira dengan kesepian. Semuanya terasa sangat menyiksa dan begitu memuakkan. Ingin rasanya dia tidur dan melupakan semua beban penderitaan. Akan tetapi, sekali lagi mata dan pikirannya tidak juga bisa diajak beristirahat.


Lalu, mengapa Andhira tidur sangat nyenyak dan lama ketika berada di rumah ibunya? Bukankah waktu itu dia menghabiskan waktunya untuk tidur dari siang hingga menembus malam? Kenapa saat ini malah sebaliknya? Jawabannya mudah saja, karena waktu itu tidak ada Daffa di sana. Percaya atau tidak, Andhira menjadi selalu waspada saat berada di dekat Daffa.


Andhira mengetuk-ngetuk pelan meja nakas dengan jari-jari tangannya. "Apa yang harus aku lakukan?" batinnya bertanya-tanya.


Tiba-tiba saja Andhira terpikir untuk pergi ke dapur dan langsung melenggang ke sana. Dia berjalan mengendap-endap khawatir suara langkah kakinya dapat membangunkan Daffa yang masih terlelap dalam kedamaian tidurnya. Ditutupnya kembali pintu kamar itu setelah dia berada di luar.


Andhira mengedarkan pandangan ke segala sisi ruangan dapur. "Pisau," cetusnya sambil berjalan mengambil benda tajam itu.


"Bentuknya indah sekali. Mengkilap dan tajam. Penuh keyakinan dan tidak ada keraguan padanya," puji Andhira pada pisau itu seraya menelitinya dengan penuh kekaguman.


"Katakan, apakah aku harus menggunakanmu untuk menyakiti atau membuat senang?" ucap Andhira mengajak pisau itu berbicara.


"Di sini dia rupanya. Apa yang sedang dia lakukan?" gumam Daffa yang ternyata terbangun dan mencari keberadaan Andhira.


Mata Daffa terbelalak saat mengetahui Andhira tengah asyik bermain dengan sebilah pisau. dia yang memula berdiri di ambang pintu dapur pun segera saja bergegas menghampiri Andhira. "Sayang, kamu sedang apa? Kenapa tidak tidur?" lontar Daffa.


Andhira terkejut dengan kehadiran Suaminya yang tiba-tiba itu. Dia langsung membuka lemari es yang berada dekat dari jangkauannya. "Aku mau makan apel, Mas. Mataku tidak bisa diajak tidur," alibinya sembari mengambil satu buah apel dari dalam sana.


"Ohh, kenapa tidak membangunkan aku?" Daffa menghampiri Andhira, lantas mengambil apel dan pisau tersebut dari tangan Andhira.


"Kamu duduk saja, biar aku yang memotong apel untukmu," titah Daffa.


Andhira mengangguk patuh. Dia menarik sebuah kursi dan duduk di sana. "Kenapa dia harus terbangun?" dumal Andhira.


"Ini apelnya sudah siap," seloroh Daffa menyodorkan apel yang telah dipotong dan ditata rapi dalam piring.


"Terima kasih, Mas," ucap Andhira sembari mengambil piring berisi potongan apel tersebut.


Daffa mengangguk dan tersenyum. Lalu, dia duduk menemani Andhira. "Apa kamu terbangun karena lapar?" cetus Daffa sambil terus memperhatikan Wanita berparas ayu itu.

__ADS_1


Andhira tertegun sesaat. "I-iya, Mas." Dia setuju saja walau itu bukanlah alasan yang sebenarnya.


"Ya sudah, habiskan apelnya, ya. Kalau masih merasa lapar biar aku buatkan sesuatu," tutur Daffa sangat perhatian.


"Tidak usah, Mas. Ini sudah cukup," jawab Andhira spontan.


"Baiklah," balas Daffa mengangguk.


"Eemm, Mas ...," seru Andhira lirih.


"Ya, apa kamu perlu sesuatu?"


"Bukan itu, Mas."


"Lalu apa? Katakan saja jangan sungkan!"


"Mas tidur lagi saja, aku masih ingin di sini," ungkap Andhira.


"Hanya itu yang mau kamu sampaikan?" tanya Daffa seraya tersenyum dan memastikan.


"Iya .... Mas."


"Kamu tidak perlu khawatir, Dhira. Aku akan menemanimu."


"Tidak ada tapi, Dhira," pungkas Daffa.


Andhira mengerucutkan bibirnya sebal. Daffa pun menyadari hal itu, tetapi, dia tidak ingin beranjak dan ingin terut memandangi wajah istrinya. Wajah Andhira saat mendumal telihat sangat menggemaskan bagi Daffa.


Hingga tanpa terasa potongan buah apel itu pun sudah habis. Lalu, Daffa memastikan sekali lagi. "Apakah kamu masih lapar?" katanya.


"Sudah kenyang, Mas," jawab Andhira singkat.


"Oke, ayo masuk kamar!"


Daffa langsung bangkit dan menggendong tubuh Andhira tanpa aba-aba. Andhira berusaha meronta, tapi diabaikn olehnya. Daffa baru menurunkan tubuh Andhira dari gendongannya setelah sampai di kamar.


"Mas, apa-apaan, sih? Aku tidak mau tidur."


"Kamu harus tidur, Dhira," tandas Daffa.


"Bagaimana aku mau tidur kalau yang membuatku terjaga adalah kamu, Mas?" batin Andhira.

__ADS_1


Sungguh, mungkin itu tidak dapat dipercaya, tapi asal kalian tahu saja .... Saat Andhira sedang ada dalam fase cemasnya, jangankan untuk merasa tenang, bahkan mendengar suara Daffa saja sudah membuatnya takut. Dan itu sangat membuat lelah hati dan pikiran Andhira.


"Dhira ...."


"Mas, aku tidak bisa tidur di sini. Aku mau pindah kamar saja!"


"Dhira, itu mana mungkin. Kamu istriku dan aku suamimu. Kita tidak mungkin tidur terpisah!" tandas Daffa tak mau dibantah.


Namun, sesaat kemudian Daffa tersadar tentang keadaan Andhira. "Oke, biar aku saja yang tidur di luar. Kamu tetap di sini, ya," ucap Daffa, lalu mengecup kening Andhira dengan penuh kelembutan.


Daffa pergi membawa selimut dan satu bantal menuju ke luar. Sebenarnya, masih ada satu kamar tamu dan satu kamar lainnya untuk ditempati, tapi Daffa memilih berjaga dengan tidur di depan pintu kamar yang ada Andhira di dalamnya. "Semoga sekarang dia bisa tidur," ucap Daffa seraya memejamkan matanya.


Di dalam kamar, Andhira tetap tidak bisa tidur. Dia mengambil sebuah buku dan mulai menggambar. Menuangkan perasaannya lewat goresan pensil adalah salah satu hobi Andhira yang jarang diketahui.


***


Pagi menjelang, Andhira masih terjaga dengan buku dan pensil di tangannya. "Aku tidak tahu sampai kapan semua ini akan berlangsung," gumam Andhira.


Lagi-lagi, perasaan Andhira mulai tidak menentu. Dia menaruh semua alat tulis itu dan mulai berjalan kesana kemari seperti sedang gelisah. "Tahan lebih kuat lagi, Dhira!" ucapnya mencoba menguasai emosinya tersebut.


Daffa mulai terbangun dan mengerjapkan matanya perlahan. "Ahh, tidur di lantai membuat sekujur tubuhku pegal-pegal," gerutunya sambil menggeliat meregangkan otot-otot yang terasa kaku.


Kemudian, Daffa melipat selimutnya dan mengambil bantal yang dipakainya untuk tidur tadi. "Dhira ... apa dia masih tidur?" gumam Daffa teringat akan Andhira.


"Dhira ...," lirih Daffa seiring suara derit pintu yang dia buka.


Andhira tidak menjawab. Dia hanya duduk memeluk lututnya di atas tempat tidur. Diam dan mematung, sampai Daffa tampak seperti bicara pada sebuah benda mati.


"Sayang, kamu tidak tidur?" tanya Daffa bertutur lembut.


Daffa menyapukan pendangannya ke sekeliling dan melihat gambar sketsa yang dibuat oleh Andhira. Senyuman Daffa membias diiringin isak tangis yang terasa nyeri di ulu hati. " Inikah yang sedang kamu rasakan saat ini?" batin Daffa sembari memandangi gambar itu.


"Dhira, wajahmu sangat pucat. Kamu harus tidur, Sayang," bujuk Daffa merasa khawatir. Namun, Andhira tetap diam dan membisu seribu bahasa.


"Kenapa bukan aku saja yang sakit? Kenapa aku harus menyaksikan penderitaan semacam ini?Inikah hukuman untukku?" ratap Daffa sembari menjerit perih.


Bersambung ....


Oh yaa .... Ini ada lukisan tangan Andhira ya, teman-teman. Dan ini murni goresan tangan Andhira dalam real lifenya.


__ADS_1



__ADS_2