IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 12 Uang Belanja


__ADS_3

"Diam di sini dan jangan kemana-mana!" perintah Daffa seraya menghempaskan lengan Andhira dengan kasar.


"Aaarghhh!" teriak Andhira sembari meremaas jemari tangannya sendiri.


Teriakan Andhira itu sontak membuat Daffa kaget dan tidak menyangka. "Dia berontak?" gumam Daffa penuh tanya.


Mata Andhira memerah menahan amarah dan perasaan yang bercampur aduk. Dia tidak habis pikir dengan sikap Daffa yang menurutnya sangat bertolak belakang itu. Di satu sisi tidak ada cinta yang Andhira rasakan dari Daffa untuknya. Namun, di sisi lain Daffa bersikap seolah sangat tidak ingin jauh dari Andhira. Terlebih lagi, Daffa selalu menyentuh Andhira layaknya seorang suami pada istrinya. Meski pada kenyataanya, dia melakukan hal tersebut dengan kasar dan tidak berperasaan. Pikiran Andhira seperti tidak mampu lagi menampung semua perlakuan Daffa yang sangat tidak selayaknya.


"Hey, apa kamu sedang berteriak kepadaku?" tanya Daffa dengan nada tidak suka.


"Aku bosan kamu perlakukan semena-mena, Mas. Apa masalahmu, huh? Kalau kamu tidak bisa mencintaiku kenapa kamu menerima perjodohan kita? Kenapa kamu bersikap seolah kamu menginginkan aku? Kenapa kamu menikahiku, Mas? Kenapa?" Andhira memberondong Daffa dengan pertanyaan-pertanyaan sembari menangis dan meninggikan nada bicaranya.


"Rendahkan suaramu! Begitukah caramu bicara pada orang yang sudah menjadi suamimu?" tandas Daffa merasa paling benar.


Mendengar perkataan Daffa begitu, ingin rasanya Andhira meludaahi wajah Daffa. Dirinya merasa Daffa sangat tidak adil dan begitu tidak tahu diri. Kesabaran Andhira benar-benar sudah di ambang batas. "Aku mau ...."


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah mereka dan membuat kalimat Andhira terhenti. Daffa mendengus, lalu bergegas untuk melihat siapa yang datang. Seperti yang Daffa katakan sebelumnya, bahwa akan ada teman yang berkunjung ke rumah mereka. Sekarang temannya itu sudah datang.


"Hai, Daffa ... Bagaimana keadaanmu?" sapa teman Daffa ketika dia telah membukakan pintu.

__ADS_1


"Ohh, Dewa, aku sangat baik. Ayo masuk," jawab Daffa menyambut temannya yang ternyata bernama Dewa itu.


"Dimana istrimu, Daf? Apa kamu tidak mau mengenalkannya padaku?" tanya Dewa berbasa-basi.


"Dia ada di kamar. Sebentar, aku akan memanggilnya," tutur Daffa, kemudian pergi menemui Andhira.


"Jaga sikapmu dan ayo temui temanku!" lontar Daffa tanpa basa-basi saat mengajak Andhira keluar dari kamar.


Andhira menyeka kasar sisa air mata yang masih menempel di pipinya. Lalu, berjalan mengekor di belakang Daffa. Dalam hati Andhira dipenuhi tanya. "Sepenting apakah tamu yang datang itu, hingga dia seperti ingin menunjukkan yang terbaik?" batinnya.


"Dewa, kenalkan ini Andhira, Istriku. Andhira, ini Dewa teman semasa SMA-ku," tutur Daffa memperkenalkan keduanya.


Andhira hanya mengangguk dan membalas sekilas senyuman Dewa. Kemudian, Andhira berpamitan untuk membuatkan tamu mereka minuman. "Di depan orang lain dia memperkenalkan aku sebagai istrinya, tapi saat berdua denganku dia memperlakukan aku seperti budaknya," gerundal Andhira ketika berada di dapur.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja, Andhira sudah kembali dengan satu cangkir kopi dan dua cangkir teh di nampan. Lalu,dia menyuguhkannya di atas meja. Daffa menepuk sofa kosong di sebelahnya, mengisyaratkan pada Andhira untuk duduk di sana. Andhira pun mematuhinya dengan sangat terpaksa.


"Maafkan aku, ya. Aku tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian, karena saat itu aku sedang bertugas di luar kota. Untuk itu, hari ini aku menebusnya dengan datang ke rumah kalian," tutur Dewa menyampaikan alasannya.


"Ahh, tidak perlu kaku begitu, Dewa. Lagi pula, acaranya sudah berlalu," timpal Daffa terdengar bijak.

__ADS_1


"Silakan diminum dulu," imbuh Daffa mempersilakan Dewa untuk minum kopi yang dibuatkan Andhira. Sementara itu, Daffa dan juga Andhira meminum teh mereka.


Beberapa jam mereka lalui dengan mengobrol kesana kemari. Membicarakan hal-hal yang sebenarnya Andhira tidak mengerti. Andhira hanya diam dan jadi penyimak perbincangan di antara tamu dan suaminya itu. Dia merasa mulai bosan duduk di sana tanpa tahu arah pembicaraan mereka.


"Oh ya, Daff, Dhira ... Karena aku masih ada keperluan lain, aku pamit pulang dulu," ujar Dewa berpamitan.


"Oke, terima kasih sudah mengunjungi kami," balas Daffa sembari berjabatan tangan dengan Dewa.


Sebelum pergi, Dewa memberikan sebuah amplop yang cukup tebal kepada Daffa. Selayaknya tamu yang datang ke sebuah pesta pernikahan, Dewa memang sengaja menyiapkan itu sebagai hadiah. Walau, Dewa memberikannya saat pesta sudah berlalu. Lalu, Daffa pun menerimanya dan berterima kasih.


Daffa dan Andhira mengatarkan dewa sampai ke depan pintu. Kemudian, mereka melambaikan tangan sebagai salam perpisahan ketika Dewa mulai melajukan mobilnya. Selekas itu, mereka pun masuk dan menutup pintu rumah. Suasana pun kembali tegang dan kaku.


Andhira berjalan meninggalkan Daffa yang sedang tersenyum sembari membuka amplop yang diberikan Dewa. Wanita bermata indah itu duduk di bibir ranjang seraya membuang napas kasar. "Aku tidak tahan akan semua ini," cicitnya dengan mata yang menatap tajam ke arah pintu.


"Ayah, tolong Dhira, Yah. Dhira tidak sanggup menghadapi kenyataan ini sendirian. Dhira rindu Ayah ...," lirih Andhira mengenang mendiang ayahnya yang sudah tiada.


Daffa datang mengejutkan Andhira. "Ini uang belanjamu untuk tiga hari," seloroh Daffa menyodorkan selembar uang sebesar lima puluh ribu rupiah.


Andhira menatap Daffa dan menerima uang itu dengan ragu-ragu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2