IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 35 Sejahat Itukah Aku Padanya?


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Salamah tampak gelisah memikirkan tentang Andhira. Tentu saja, ibu mana yang bisa tenang jika melihat putri yang begitu dicintainya tengah dalam keadaan yang memilukan? Sebenarnya, bisa saja Salamah membawa Andira pergi dari sana saat itu juga. Akan tetapi, banyak hal yang dia pertimbangkan. Salamah juga tidak ingin salah atau gegabah dalam mengambil tindakan. Karena itulah, dirinya memilih untuk memberi Daffa kesempatan dalam menangani Andhira. Lagi pula, Salamah perlu mencari tahu dulu soal yang menyebabkan Andhira menjadi seperti itu.


Lalu, Salamah mulai mencari kontak seseorang di ponselnya dan tampak dia menghubungi sebuah nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Wanita paruh baya itu tampak harap-harap cemas menunggu jawaban dari panggilannya itu. Hingga terdengar suara seseorang menyapa dengan salam dari ujung telepon.


***


Daffa yang semula terhenyak hingga berteriak dengan kencang memanggil nama Andhira, kini sedang menangisi kedaan istrinya tersebut. "Jangan lakukan hal bodoh sepert ini lagi, Dhira," ucapnya sambil terisak. Dia membalut luka di pergelangan tangan Andhira.


Ternyata sejak tadi Andhira hanya berpura-pura tidur. Setelah Daffa dan juga ibunya keluar dari kamar, dia kembali membuka matanya dan berjalan menuju meja rias. Di sana dirinya melihat sebuah cutter dan pikirannya mulai menerawang. Dia mengambil cutter tersebut, kemudian menyayat-nyayatkan ke pergelangan tangannya. Tidak sampai dalam atau mengenai urat nadinya memang, hanya di atas permukaan kulit luarnya saja. Namun, hal itu sudah cukup membuat darah segar mengalir dari tangannya itu. Ada rasa lega dalam diri Andhira yang seolah mengurangi sedikit rasa penat di kepala, sesaat setelah dia melakukan beberapa sayatan di tangannya. Dia pun tersenyum getir dan sedikit puas, lalu tiba-tiba saja Daffa datang meneriakkan nama Andhira dengan sangat nyaring sembari menghambur untuk mencegahnya meneruskan perbuatan berbahaya itu.


"Kita ke dokter, ya!" bujuk Daffa.

__ADS_1


"Tidak mau!" tandas Andhira menjawab dengan tegas.


Daffa meremaat jemari tangan dan beralih meremaas rambutnya frustasi. Sikap Andhira itu sungguh membuat akal sehatnya diuji tanpa ampun. "Baiklah, Dhira sayang. Kita tidak akan ke dokter, mari istirahat saja," imbuh Daffa sembari mendengus kasar.


Sepertinya, sekarang Daffa mulai berani menyebut kara 'sayang' tanpa ragu pada Andhira. Manusia memang tidak bisa bersikukuh dengan hati dan perasaannya sendiri. Lihat saja yang terjadi pada Lelaki yang pernah dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak akan mencintai Andhira, keadaan seolah berbalik dan mebuatnya seperti membuang ludah ke langit, pada akhirnya ludah itu mengenai wajahnya sendiri.


"Dhira, lihat mataku!" titah Daffa seraya menggenggam tangan Andhira.


Andhira pun menoleh, menatap Daffa dengan mata sendu seperti tidak ada binar harapan lagi di sana. "Kamu pikir aku bodoh, Mas? Aku melihat ada api cinta yang memercik dari sorot matamu itu," batin Andhira.


"Aku tidak mencari apa pun, Mas. Jadi, aku tidak menemukan apa-apa di sana," jawab Andhira datar.

__ADS_1


"Benarkah? Coba perhatikan sekali lagi!" pinta Daffa yang tidak yakin pada kata-kata Andhira.


Andhira pun menuruti permintaan Daffa, tapi lagi-lagi dia berpegang teguh pada kebohongannya. "Aku hanya melihat dua bola mata berwarna hitam pekat, Mas," urai Andhira.


Daffa yang semula tersenyum, kini murung menekuk wajahnya. Ada rasa pilu dan sedih yang tiba-tiba memenuhi ruang di hatinya. "Sejahat itukah aku padanya? Hingga matanya menolak untuk memandang dan tidak lagi mampu merasakan cinta yang aku tunjukkan melalui tatapan netraku," batin Daffa pedih.


"Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapimu, Mas. Lukaku terlalu sakit untuk kulupakan. Bahkan, aku tidak bisa lagi memahami arti hidupku ini sebenarnya untuk apa? Yang bisa aku rasakan hanyalah perasaan yang terus berganti dengan cepat. Dan itu membuatku lelah, benar-benar sangat lelah." Andhira pun berbisik di dalam hatinya.


"Mau sebuah pelukan?" cetus Daffa menawarkan.


"Apa itu tidak merepotkanmu, Mas?"

__ADS_1


Daffa tidak mampu lagi membendung tangisnya. Dia langsung membawa Andhira ke dalam pelukannya, dan mendekap Andhira dengan penuh perasaan. "Sejak kapan sebuah pelukan merepotkanku, Dhira?" ucap Daffa sembari tersedu-sedu.


Bersambung ....


__ADS_2