IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 72 Cinta Lebih Kental Dari Darah


__ADS_3

Masih dengan raut kebingungan, Andhira dan juga Daffa terus saling bertatapan. Sampai akhirnya, Shella mengulangi kembali kata-katanya. Tadinya Daffa sudah ingin mengusir saja Wanita itu dari rumahnya. Namun, Andhira mencegahnya.


"Mas, sebaiknya biarkan saja dulu dia bicara. Siapa tahu itu memang hal yang penting untuk kita ketahui," tutur Andhira dengan sangat tenang.


"Oke, tapi ingat! Kalau bukan karena Istriku yang meminta, aku tidak akan pernah membiarkan wanita sepertimu menginjakkan kaki di rumah kami!" tandas Daffa. Shella mengangguk penuh kehinaan.


"Sudah, Mas. Biar bagaimanapun dia adalah tamu kita, humm," imbuh Andhira mencoba melerai amarah yang menggumpal di dalam diri Daffa. Daffa mengangguk patuh sambil mengusap pelan pucuk kepala Adhira.


"Silakan masuk, Mbak," lanjut Andhira mempersilakan Shella.


Mereka pun duduk di ruang tamu dalam keadaan sedikit tegang. Andhira pergi ke dapur dan membuat beberapa cangkir teh untuk tamunya, sekalian untuk dirinya dan juga Daffa. Lantas, dia kembali lagi usai membuat minuman tersebut, kemudian menyuguhkanya di meja.


"Terima kasih, Mbak," ucap Shella. Dia baru menyadari bahwa tuan rumah yang sempat ingin dia hancurkan dengan fitnah itu, ternyata sangatlah ramah.


"Silakan diminum dulu, Mbak," kata Andhira seraya tersenyum.


"Bisakah bicara langsung pada intinya?" pinta Daffa usai Shella meneguk tehnya beberapa kali.


Shella mengangguk pelan. Lalu, dia menoleh pada Andhira dan Daffa secara bergantian. Tampak ada kekakuan pada diri Shella kala itu.

__ADS_1


"Silakan sampaikan maksud dan tujuannya, Mbak. Tidak perlu khawatir, kami akan menyimak dengan seksama," tutur Andhira mencoba meyakinkan Shella.


"Aku ingin mengatakan, kalau fitnah yang aku tuduhkan beberapa waktu yang lalu adalah idenya Farid. Dia dalang di balik semua itu. Termasuk menyewa orang untuk meneror rumah kalian dan juga mengirim mawar atas nama lelaki lain untuk Andhira," papar Shella dengan wajah katakutan.


Daffa mengepalkan kedua tanganna dengan geram. "Lalu? Apa lagi yang kamu ketahui?" tanya Daffa penuh penekanan.


"Mas Daffa sayang, tolong jaga emosimu. Kamu membuat dia ketakutan," bisik Andhira yang langsung membuat Daffa mengubah air mukanya menjadi lebih tenang.


"Baiklah, lanjutkan! Apa lagi yang kamu ketahui?" ulang Daffa. Kali ini dengan nada bicara yang lebih santai.


"Farid membenci kebahagiaanmu dan tidak terima saat orang tuanya membanggakanmu ketimbang dia. Dia juga seorang maniak yang senang menghabiskan malam dengan banyak wanita ... termasuk aku," beber Shella lagi.


Daffa tersenyum getir. "Apa kamu sedang mencoba untuk memprovokasi aku agar membenci adikku sendiri, huh? Asal kamu tahu saja, sebelum kamu memberitahuku aku sudah lebih dulu tahu!" tandas Daffa tanpa diduga.


"Cukup! Salakan pergi kalau tidak ada yang ingin kamu katakan lagi. Dan aku ingatkan sekali lagi. Jangan pernah mencoba merusak hubunganku, baik dengan istri ataupun adikku. Camkan itu!" tandas Daffa memberi ultimatum.


Ada desir kebanggaan di dalam hati Andhira melihat sikap Daffa yang begitu tegas mempertahankan keluarganya. Walaupun, perbuatan Farid itu sama sekali tidak bisa dibenarkan, tapi Andhira tetap senang melihat Daffa membela Farid di depan Shella. Bukan ingin membenarkan sesuatu yang sudah jelas salah, melainkan karena akhirnya Andhira benar-benar mendapatkan rasa kekeluargaan dari sisi seorang Daffa.


"Sial! Aku kira aku akan mendapat dukungan dari mereka untuk membalas dendamku pada Farid yang menghilang begitu saja, tapi ternyata tidak. Aku justru mendapatkan malu," dengus Shella di dalam hatinya yang dipenuhi perasaan kesal.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Mbak. Sekarang Mbak sudah mendengar 'kan apa yang dikatakan oleh suami saya? Kalau sudah, Mbak boleh pergi," tutur Andhira dengan hati puas.


Shella langsung bangkit dan menghentakkan kakinya dengan kesal. Dia pergi dari rumah Daffa membawa harapan yang patah. Harapan yang tadinya dia kira bisa menghancurkan Farid dengan mengadu domba Daffa dan adik sambungnya tersebut.


Seperginya Shella dari rumah mereka. Suasana menjadi agak sedikit kaku. Sebelum akhirnya Andhira mencairkannya kembali dengan sebuah pelukan hangat yang dia berikan pada Daffa.


"Apa tindakanku ini salah, Sayang?" tanya Daffa pada Andhira yang tengah berada dalam pelukannya.


Andhira mendongak melihat Daffa sambil tersenyum. "Tidak sama sekali, Mas. Apa yang kamu lakukan itu sangat tepat. Keputusan untuk tetap menjaga hubunganmu dengan Farid adalah sesuatu yang luar biasa."


"Syukurlah, Sayang. Kukira tadinya aku sudah melakukan kesalahan."


"Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat, Mas. Percayalah, meski kalian bukan saudara kandung, tapi ada yang lebih kental dari darah yaitu CINTA," tutur Andhira.


"Terima kasih, Sayangku. Entah doa siapa yang dikabulkan Tuhan, sehingga aku mendapatkan istri seperti dirimu. Setiap kata-katamu seperti mata air yang menyejukkan. Kamu mampu menyuburkan kembali tunas-tunas cinta yang nyaris kering dan mati di dalam hatiku."


"Aku juga beruntung memilikimu sebagai suamiku, Mas. Karena sekali lagi, aku belajar untuk mengerti sisi lain dari laki-laki yang berwatak keras seperti Almarhum Ayahku. Aku merasa mendapatkan sosok Ayah hadir kembali di dalam hidupku. Satu hal yang diajakaran Ayah padaku semasa hidupnya adalah ... bahwa setiap orang bisa berubah. Dan Ayah benar tentang semua itu, Mas. Andai aku tidak bertahan untuk tetap bersamamu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan manisnya cinta yang tumbuh seiring waktu," urai Andhira.


Daffa memeluk Andhira, mengecupnya, mencumbuinya dengan bertubi-tubi kasih sayang dan kelembutan. Hingga keduanya kembali tenggelam dalam indahnya surga dunia. Kendati gairah itu sangat menggelora, tapi Daffa melakukannya dengan sangat hati-hati. Mengingat, saat ini ada nyawa yang harus dijaga di dalam rahim Andhira.

__ADS_1


Di lain keadaan. Ada Farid yang tengah menangis tersedu di atas gelaran sajadah. "Aku pasrahkan segalanya pada-Mu, Ya Rob. Aku ikhlas menerima semua hukuman-Mu. Ampuni aku wahai Sang Pemilik cinta dan kasih sayang yang agung." Farid menguntaikan doa-doa dalam simpuh dan sujudnya.


Bersambung ....


__ADS_2