
Malam hari sesusai menyalurkan segala hasrat liarnya. Farid memenuhi janjinya pada Abah, untuk mengunjungi Daffa. Walau sebenarnya, dia sangat tidak ingin ke sana. Karena baginya, melihat Daffa baik-baik saja sama halnya dengan mengingat kegagalan atas usaha-usahanya.
Asal kalian tahu saja, walau usaha Farid saat itu hanya sebatas ingin Daffa dan Andhira bertengkar hebat, tapi begitu tahu Daffa kecelakaan .... Farid jadi sangat berharap kalau seandainya Daffa mati saja. Itu sangat menyenangkan dan merupakan kabar baik bahinya. Kebenciannya pada Daffa terlalu dahsyat hingga menggerogoti hati.
Farid berdiri sembari menghela napas panjang dan dalam, sebelum dia mengetuk pintu rumah Daffa. Barulah setelah dia dapat mengatur napas dan kepura-purannya, Farid memberi salam sambil menyeru nama Daffa. Lelaki itu sedang berusaha menekan rasa gelisahnya dalam-dalam agar tak muncul ke permukaan.
Tidak lama setalah Farid mengetuk pintu dan menyeru. Andhira pun datang untuk membukakan pintunya. Lalu, dia melihat Farid berdiri sambil tersenyum ramah.
"Mbak, aku diutus Abah untuk mengunjugi kalian," lontar Daffa. Dia sudah mengatakannya bahkan sebelum ditanya. Mungkin, dia tidak mau kehadirannya ditolak lagi.
"Ooh, s-silakan masuk," sambut Andhira sedikit gugup. Dia takut Farid berniat jahat.
"Siapa yang datang, Sayang?" tanya Daffa dengan suara sedikit lantang.
"Aku, Mas." Farid sudah berdiri sambil melemparkan senyumnya ke arah Daffa.
Entah mengapa, senyuman Farid terasa seperti sebuah olokan bagi Daffa. "Ada apa?" tanya Daffa acuh.
"Bolehkah tamu-mu ini duduk, Mas?" ucap Farid.
"Hemmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Daffa.
"Aku akan membuat minuman dulu," ucap Andhira menyela pembicaraan mereka, lalu dia bergegas ke dapur.
"Apa belum cukup setelah semuanya, Farid?" ucap Daffa dengan tatapan dingin.
"Apa maksudmu, Mas? Aku ke sini atas perintah Abah yang sangat mengkhawatirkan keadaanmu," tutur Farid sambil tersenyum seakan tidak tahu apa-apa.
Daffa menyekungkan alis serta mengerutkan dahinya. "Oke, aku akan mengikuti alurmu, Farid. Sampai di mana kamu akan berpura-pura tidak terlibat atas semua yang telah terjadi kepadaku," batin Daffa.
"Benarkah begitu?" imbuh Daffa.
"Ya, tentu saja begitu. Dia sangat menyayangimu, bukan?" jawab Farid bernada sarkas.
"Kamu benar Farid. Dia sangat menyayangiku sampai-sampai dulu dia lupa bahwa aku yang anak kandungnya, bukan dirimu," hardik Daffa balik.
"Siaaal! Dia mengingatkan ketidakadilan itu lagi," gerundal Farid dalam hatinya.
__ADS_1
"Eemm, Mas. Bagaimana bulan madumu minggu lalu? Apa itu menyenangkan?" lontar Farid memberi tanya. Seolah ingin mengalihkan topik pembicaraan.
"Itu tidak penting untuk kamu ketahui, Farid. Yang penting untuk kamu pikirkan adalah ... usahamu yang selalu gagal untuk menghancurkan hidupku!" tandas Daffa penuh penekanan.
"Shiitt! Apa dia sedang menuduhku?" batin Farid. Dia mulai tampak kikuk di hadapan Daffa.
"Silakan diminum," ucap Andhira yang datang dengan membawa dua cangkir kopi dalam sebuah nampan.
"Terima kasih, Kakak Ipar," seringai Farid seraya memandangi Andhira dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dhira, masuklah ke kamar! Di sini tidak sehat bagimu," pinta Daffa yang membaca gelagat kekurang-ajaran dari Farid. Wanita itu langsung mematuhi Daffa tanpa banyak bertanya.
"Tampaknya dia sangat menyayangi istrinya. Bagaimana kalau aku bermain-main dengan situasi ini," bisik hati Farid sambil meminum kopinya seteguk-seteguk.
"Kuperingatkan padamu, Farid. Kamu boleh merampas perhatian Abah dan juga kasih sayangnya dariku. Tapi kalau kamu berani mengganggu istriku, bakan walau hanya secuil saja, maka bersiaplah menanggung akibatnya. Aku tidak akan membiarkan kakimu berjalan dengan normal lagi!" tandas Daffa memberi ultimatum. Dia seakan tahu niat tersembunyi dari Farid.
"Hahahaha, apa aku sedang mendengar sebuah ancaman?" ledek Farid seolah mengejek Daffa.
"Tidak, itu bukan sebuah ancaman, Farid. Lakukan saja kalau kamu begitu ingin cacat!" jawab Daffa dengan tegas.
"Sudah sepantasnya kamu merasa takut, Farid. Tidakkah kamu melihat keadaanku? Aku bahkan masih baik-baik saja dan bahagia setelah semua fitnah kejimu," seringai Daffa tak kalah mengejek.
Wajah Farid memerah. Entah karena malu atau justru sedang menahan amarah. Dia tampak tidak bisa berkutik setelah dibegitukan oleh Daffa.
"Baiklah, Mas. Aku sudah memastikan keadaanmu. Abah akan sangat senang mengetahui kamu baik-baik saja. Kalau begitu aku pamit," tutur Farid, lantas bangkit dari duduknya.
"Farid!" seru Daffa yang sontak menahan langkah kaki Farid untuk berjalan. Dia pun menoleh kembali ke arah Daffa.
"Pastikan orang yang kamu bayar untuk mengerjaiku tidak berkhianat," seringai Daffa menambahkan kekalahan untuk Farid.
Farid meremmas kedua kepalan tangannya dengan geram. Lalu, dia menghentakkan kakinya dan berlalu pergi meninggalkan rumah Daffa. Lelaki itu masuk ke dalam mobilnya dengan berkobar api kemarahan yang menyala-nyala.
"Aaaarrgh! Siaaal! Dia seakan mencoreng wajahku dengan terang-terangan," kesalnya sambil memukul stir mobil dan meremmat rambutnya frustasi
"Lihat saja, Daffa. Apa yang akan aku lakukan padamu setelah ini. Aku akan membuatmu menyesal karena kamu telah berani mempermalukanku!" gerutu Farid tidak terima.
***
__ADS_1
Malam semakin larut membiaskan pekatnya yang gelap gulita. Daffa masuk ke dalam kamar menyusul Andhira. Dilihatnya Andhira sedang menggambar lagi. Daffa mematung sejenak, lantas menghampiri Istri kesayangannya itu.
"Kamu tidak tidur? Adakah hatimu gundah?" tanya Daffa sambil mengelus lembut pucuk kepala Andhira.
"Aku belum mengantuk, Mas," jawab Andhira.
"Kamu sedang gelisah? Ceritakan padaku. Ada apa, Sayang?"
Andhira menyudhi goresan penanya di buku itu. Lalu, dia menghambur memeluk Daffa sambil terisak. Tangisannya begitu dalam hingga Daffa dapat merasakan getaran kesedihannya.
"Hey, Sayang." Daffa melepaskan pelukannya, lantas menatap Andhira sambil mengapit pipi kanan dan kiri Andhira dengan kedua tangannya.
"Ada apa, Sayangku? Kamu tidak mau bercerita?" tanya Daffa sekali lagi.
"Aku takut, Mas. Bagaimana kalau dia menyaitimu?" ungkap Andhira pada akhirnya.
"Siapa? Farid?"
Andhira hanya mengangguk. Kemudian, dia kembali memeluk Daffa sambil menangis tersedu-sedu. "Aku takut kamu diapa-apakan olehnya, Mas."
"Tidak, Sayang. Tidak ada yang bisa melukai aku, kecuali dirimu. Dimulai sejak saat aku jatuh cinta padamu, tidak ada lagi hal yang bisa melukaiku selain dirimu. Penolakanmu, pengkhianatanmu, dan sikap dingin serta kesedihanmu. Itu saja, Dhira. Namun, bila semua itu tidak terjadi, kamu tetap membersamaiku dan bahagia di sisiku, maka tidak ada hal yang perlu dikhawatir lagi. Cukup beri aku cinta dan kesetiaanmu, lalu aku akan tetap hidup dalam keadaan baik, bahkan untuk seribu tahun lagi."
Kata-kata itu seketika menghentikan tangisan Andhira. Merubah air matanya menjadi rekah senyum seindah kelopak mawar. Rona wajah yang semula pias penuh kegusaran, kini berseri bagai lentera yang menerangi dalam kegelapan.
"Jadi, kamu sangat mencemaskan aku?" tanya Daffa sembari menyeka pipi Andhira dari basahan air mata yang tinggal bekasnya.
"Iya, aku takut kehilanganmu, Mas."
Seluruh pori-pori Daffa berderai diiringi remang bulu roma yang menggetarkan. "Percayalah, dia sedang menunjukkan kebesaran cintanya padamu, Daffa," batin Daffa mengajak jiwanya berbicara.
Bersambung ....
Note : Katakan tidak pada plagiarisme! Kita semua cukup cerdas untuk membuat cerita dengan pemikiran kita sendiri. 🖤❤🖤❤🖤
Oh ya, ini hasil lukisan Andhira tadi, ya.
__ADS_1