IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 66 Aku Menginginkanmu Lagi


__ADS_3

Tiga hari kemudian. Tepatnya ketika matahari mulai meninggi. Daffa mengantarkan Andira memenuhi jadwal psikoterapinya. Kali ini, melihat dr. Chatra memberikan bimbingan konseling pada Andhira, Daffa tampak lbih tenang dan biasa saja. Mau tahu kenapa? Itu karena Daffa sudah mendapat kebenarannya. Kebenaran bahwa Andhira mencintai dirinya dan hati Andhira telah miliknya. Daffa tidak khawatir lagi, walau rasa cemburu masih tetap ada. Hanya saja, perasaannya lebih terkontrol untuk saat ini.


"Bagaimana keadaan dan perkembangan kesehatan mental Istri saya, Dok?" tanya Daffa usai Andhira menyelesaikan kepentingannya dengan dr. Chatra.


"Ini luar biasa, Pak Daffa. Progressnya sangat baik. Apa ada hal yang dia lakukan saat merasa cemas?" tutur dr. Chatra.


"Ya, dia senang membuat sketsa gambar."


"Itu sangat mebantu Andhira untuk mengalihkan emosi negatif dan menyalurkannya kepada hal yang lebih positif."


"Benarkah begitu, Dok?"


"Iya, Pak Daffa. Dan satu hal lagi. Saya penasaran, apa dosis pemberian obatnya sudah dikurangi?" tanya dr. Chatra lagi.


"Sebenarnya ... iya, Dok." Daffa menunduk malu-malu.


"Bravo, Pak Daffa. Saya melihat usaha Anda sangat baik dalam membantu Andhira mengatasi perubahan emosinya."


"Hehehe, itu harus. Bukankah begitu, Dok?" ujar Daffa.


"Tepat sekali, Pak Daffa."


***


"Mas, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Andhira sembari mengernyitkan dahi. Mereka sudah berada di rumahnya lagi sekarang.


"Tidak apa-apa. Mas hanya sedang merasa sangat bahagia, Sayang."


"Benarkah? Tapi kenapa?"


"Karena progresmu sangat baik," jawab Daffa singkat.


"Itu semua berkat kamu, Mas," ujar Andhira sembari tersenyum.


"Tidak, Sayang. Aku hanya seperangkat nyawa yang mmbantumu bergerak. Sementara itu, keinginan dan keputusan untuk sembuh ada di tanganmu sendiri." Daffa tersenyum sambil merengkuh Andhira ke dalam pelukannya.


"Pelukan ini, seperti obat yang mujarab bagiku saat ini. Ia mampu menghilangkan cemasku, mengatasi gelisahku, dan mengusir dingin dengan kehangatan yang tercipta di dalamnya. Sungguh, rasanya aku tidak ingin kehilangan pelukan ini," gumam Andhira di dalam hati.


"I love you, Dhiraku." Sekali lagi, kata itu keluar dari mulut Daffa.

__ADS_1


"I love you more, Suamiku." Andhira melepas dekapannya pada tubuh Daffa sembari menengadahkan wajah mengharap sebuah ciuman berlabuh di bibirnya yang bertelaga madu.


"Apa kamu merindukanku?" bisik Daffa.


"He'em," jawab Andhira.


"Sangat merindukanku?"


"Sangat merindukanmu, Mas."


"Benarkah begitu?"


"Aku tidak bohong, Mas."


Daffa tersenyum beriring kepuasan batin yang menyeruak. Sanubarinya basah tersiram air cinta dari kata-kata manis Andhira yang meng-iya-kan kerinduannya. Daffa menyatukan keningnya dengan kening Andhira hingga napas mereka saling beradu dan bertukar melalui jirupan napas.


Diangkatnya tubuh sintal itu oleh Daffa. Dia rela walau sebenarnya, dada sebelah kirinya masih terasa sedikit sakit usai kecelakaan itu. Demi memanjakan Sang Istri yang teramat digilainya, sekaligus menyalurkan hasrat yang sudah di ujung.


Tangan Andhira mengalung di leher Daffa. Sedangkan kakinya melingkar di pinggang Lelaki itu. Rekah senyum turut hadir membersamai nafsu cinta yang menggelenyar di setiap aliran darah keduanya.


Daffa membawa Andhira masuk ke dalam kamar. Sambil terus berpaguttan dalam ciuman manis nan menggoda. Hingga Andhira terhanyut dalam permainan liar Daffa.


"Aku lebih menginginkannya, Sayang." Tanpa menunggu lagi semua untaian benang yang melekat di tubuh keduanya pun mereka tanggalkan.


"Aku sudah merindukan ini sejak aku di rumah sakit. Sekarang aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Sayang. Gejolak di dalam dada ini membuatku gila," papar Daffa dengan suara yang sudah berat dirundung nafsu.


"Maaas!" pekik Andhira, ketika tanpa ampun Daffa menyerangnya dengan bertubi-tubi cumbuan.


Andhira kerap memejamkan mata dan membukanya lagi sesuai ritme yang Daffa ciptakan dari gerakannya. Suara racauan merdu pun tak henti-hentinya keluar dari mulut Andhira. Tentu saja, Daffa semakin bersemangat berpacu di dalam milik Andhira yang sudah bagai candu buatnya.


"Kamu menyukainya, Sayangku?" tanya Daffa. Andhira hanya mampu mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Kenikmatan itu terlalu menguasai perasaan mereka.


Sampai akhirnya, lolongan panjang terdengar saat keduanya telah sampai pada sebuah pelepasan yang indah. Peluh memandikan tubuh keduanya. Sungguh, mereka benar-benar terseret ke dalam derasnya arus gairah yang asyik dan begitu memanjakan.


"Aku sayang kamu, Mas." Kata-kata yang selalu Daffa ingin untuk mendengarnya pun keluar lagi dari mulut Andhira.


"Diamlah, Sayang. Atau aku akan menerkammu lagi," bisik Daffa sambil menggigit-gigit pelan daun telinga Andhira.


"Iihh, Mas menyabalkan," rajuk Andhira manja.

__ADS_1


"Hehehe, maafkan aku, Cantikku. Tapi aku tidak bohong, semua kata cintamu membuatku terus menginginkanmu." Daffa mulai lagi dengan memberikan sentuhan-sentuhan kecil di setiap titik sensitif Andhira.


"Aaaahh, aku masih lelah, Mas," keluh Andhira.


"Hihihi, aku tidak perduli," kata Daffa. Dia pun kembali berpacu dalam tubuh Andhira. Sampai Wanita yang dicintainya itu memohon ampun.


Kamar itu terdengar sangat gaduh oleh suara-suara rintih kenikmatan yang keluar dari mulut kedunya.


***


Farid kembali pulang dalam keadaan yang sudah kusut tidak karuan. Dia merasa kacau hingga tidak perduli lagi pada penampilannya kala itu. Pikirannya dipenuhi kemelut usai Daffa melontarkan kata-kata yang membuatnya kalah telak.


"Farid, kamu sudah pulang, Nak. Bagaimana keadaan Mas mu?" tanya Abah.


"Dia baik-baik saja, Bah," jawabnya datar.


"Alhamdulillah, Nak. Lalu, bagaimana dengan istrinya?" tanya Abah lagi.


"Shittt! Pertanyaan tidak penting macam apa yang diajukan Orang Tua ini," umpat Farid dalam hati.


"Huuuft, tentu saja mereka berdua baik, Bah. Kalau begitu Farid masuk kamar dulu, Bah." Pemuda itu lantas berdiri, bermaksud pergi dan menghindari percakapan lebih lanjut dengan Abah sebelum emosinya tersulut.


"Farid!" Tiba-tiba saja Ummi berteriak dengan nada Marah. Langkah kaki Farid menjadi terhenti karenanya.


"Ada apa, Ummi?"


PLAAAKKK!


Tamparan keras mendarat di pipi Farid oleh Ummi. "Apa semua ini, Farid? Lipstik siapa yang menempel di bajumu ini? Bau parfum ini? Kamu telah berzina, huh?" Wanita paruh baya itu meradang melihat anak yang dibanggakannya hadir dengan keadaan yang demikian.


"Aarrggghhh, siaaal! Kenapa aku begitu ceroboh?" batinnya memaki sambil mengingat Shella yang telah bergumul dengannya, dan dia memegangi pipinya yang terasa panas dan nyeri akibat tamparan Ummi.


"Kenapa diam? Jawab Ummi, Farid! Apa yang sudah kamu lakukan di luar sana?" imbuh Ummi dengan nada tinggi dan penuh penekanan.


"Ummi ... sudah, Mi. Pelan-pelan saja bicaranya. Mungkin Farid punya penjelasan untuk ini." Abah mencoba melerai kemarahan Ummi pada Farid.


"Tidak, Bah. Anak ini benar-benar .... Aarrggghh! Fariiid .... Ummi tidak tahu lagi harus berkata apa!"


Farid mengepalkan kedua tangnya di bawah. Dia merasa sangat geram pada keadaan ini. "Farid lelah, Mi. Permisi." Dia berlalu begitu saja tanpa menjelaskan apapun pada Ummi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2