
Tiga pasang mata sudah menatapi Andhira sambil berkaca-kaca. Ya, mereka adalah ketiga sahabatnya yakni Rere, Fahri, dan juga Maya. Andhira yang sudah lama tidak bertemu dengan mereka pun langsung menghambur memeluk mereka satu persatu, kecuali Fahri karena dia laki-laki.
"Rere, Maya, Fahri, ini seperti mimpi bagiku. Aku sangat merindukan kalian. Siapa yang memberitahu kalian untuk datang ke sini?" tanya Andhira sambil tersenyum dalam tangis harunya.
"Mbak Nindi, Dhira," jawab mereka serempak.
"Suamimu yang membagikan ide ini pada Mbak, Dhira." Tiba-tiba Nindi ikut menyahuti.
"Mas Daffa ...," lirih Andhira sambil menoleh pada Lelaki yang sejak tadi hanya berdiri menyimak itu.
Daffa tersenyum sembari menunduk seperti malu-malu. Mungkin, karena selama ini Daffa sudah melarang Andhira pergi berkumpul bersama teman-temannya. Tapi percayalah, semua itu Daffa lakukan semata-mata karena besarnya cinta dan rasa cemburunya pada Istrinya tersebut.
"Terima kasih, Mas," ucap Andhira sembari memeluk Daffa.
Sontak saja Daffa membalas pelukan Andhira dengan penuh kelembutan. "Sama-sama, Sayang," jawab Daffa, lantas mengecup pucuk kepala Andhira.
"Duuuh, jadi ingin cepat menikah," cetus Rere yang disambut gelak tawa oleh semua orang.
Tidak lama setelah itu, ternyata masih ada yang datang. Mereka memberi salam sebelum masuk dan bergabung bersama Andhira, juga semua orang. Benar, itu adalah Ummi dan Abah, mertua Andhira.
__ADS_1
"Andhira, bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Abah ketika Andhira menyalami tangannya.
"Dhira sangat baik, Bah." Andhira tersenyum, lalu berganti memeluk Ummi.
"Semoga kamu senantiasa bahagia, Nak," ucap Ummi.
"Terima kasih, Mi. Semoga Ummi juga begitu," balas Andhira.
Salamah hanya bisa menitikkan air mata haru menyaksikn semua itu. Dia bahagia melihat kesungguhan Daffa dalam upaya menebus kesalahannya. Hati Salamah telah lega menerima semua ini.
"Mari silakan langsung ke meja makan saja. Kami sudah menyiapkan jamuan alakadarnya," lontar Nindi mempersilakan semua orang. Mereka pun bergegas menuju meja makan.
Namun, sebelum lanjut menyantap hidangan yang tersedia, Daffa meminta waktu dan perhatian dari mereka. "Di sini, kami ingin menyampaikan berita yang menjadi kabar baik sekaligus membahagiakan bagi kami. Karena baru Mbak Nindi saja yang diberitahu, dan semoga belum bocor," ujar Daffa dengan sedikit gurauan. Dia bicara sambil terus memegangi tangan Andhira.
Daffa tersenyum dan menjeda kalimatnya sejenak. Hal itu membuat mereka semakin penasaran. Ada kabar apa sebenarnya? Begitu kira-kira yang mereka pikirkan.
"Andhira istriku tengah mengandung buah cinta kami yang petama. Dan kami ingin membagi kabar membahagiakan ini pada kalian," lanjut Daffa. Disambut senyum dan ucapan syukur, serta air mata haru dari semua orang.
"Ibu Salamah, jadi sebentar lagi kita akan menjadi Nenek," ujar Ummi sumringah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Ummi," timpal Salamah sambil menyeka lelehan air mata yang terlanjur keluar membsahi pipinya.
Ucapan selamat pun berdatangan tak terkecuali dari ketiga sahabatnya. Selepas itu, mereka lanjut menyantap hidangan yang sudah tersedia. Kalian bisa mebayangkan bagaimana bahagianya Andhira pada saat itu. Di mana dia duduk bersama di satu meja dengan semua orang yang disayanginya. Ya, walau belum lengkap karena Adi, suaminya Nindi, dan juga Farid tidak bisa hadir di sana.
Kehangatan terus mengalir selama kebersamaan mereka. Hingga acara makan bersama pun usai dan kini mereka mengobrol suka-suka kesana kemari. Lalu, Daffa mendekat pada Abah dan Ummi yang tampak asyik menyimak obrolan para muda-mudi.
"Bah, Mi, kenapa Farid tidak datang? Apa dia masih marah dan benci pada Daffa?" tanya Daffa lirih.
"Tidak, Nak. Jangan berpikir begitu. Dia sudah mendapatkan ilham dan sekarang ... adikmu itu memutuskan untuk mondok di sebuah pesantren," jawab Abah.
"Iya, Nak Daffa. Farid sudah menyesali perbuatannya. Dia juga sempat bilang pada Ummi ingin mengunjungi kalian untuk meminta maaf, tapi dia malu," timbrung Ummi.
Mata Daffa tampak mengembun mendengar semua itu. Tak disangka niat baiknya untuk berdamai dan memaafkan Farid, bersambut kabar indah yang memberi kesejukan pada kalbu yang sempat usang terpapar api dendam. Kini, Daffa semakin mantap memilih untuk berhenti membenci dan mulai mencintai lagi. Seperti apa yang dilakukan Andhira padanya. Ternyata, Istrinya itu telah memberi banyak pelajaran berharga bagi Daffa.
***
Daffa dan Andhira sampai di rumah mereka. Usai pertemuan dan kebersamaan dengan orang-orang terkasihnya itu berakhir, keduanya memang memutuskan untuk langsung pulang. Sama halnya dengan yang lain, hingga menyisakan Salamah seorang saja di rumah itu.
Namun, ada yang menahan langkah kaki mereka saat hendak memasuki rumah, yaitu kehadiran seseorang. Seorang wanita yang tak lain adalah Shella. Andhira dan Daffa saling bertatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian," lontar Shella tanpa basa basi.
Bersambung ....