IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 49 Sedingin Salju


__ADS_3

Langit pagi melukiskan cerahnya suasana berhias gumpalan awan putih nan indah. Daffa tengah bersiap untuk pergi bekerja. "Sayang, mau tetap di rumah atau aku antar ke rempat Ibu?" tanyanya pada Andhira.


"Aku di rumah saja, Mas," jawab Andhira datar.


"Oke, jaga dirimu baik-baik, hum! Aku sudah siapkan sarapan untukmu di meja makan." Lantas, Daffa mengecup kening Andhira dan berlalu pergi ke tempat kerjanya.


Andhira melamun bersama sejuta kecamuk dalam pikirannya. "Aku tidak tahu, apakah Mas Daffa sedang berpura-pura baik atau tulus berubah untukku. Yang tidak bisa aku tepis dari benakku adalah ... ketakutan bahwa dia akan kembali menjadi Daffa yang dulu, yang kejam dan tega terhadapku," gumam Andhira.


Lalu, tiba-tiba saja Andhira merasa sangat bersemangat. Dia merapikan rumah dan mengerjakan apa saja sampai tidak memikirkan rasa lelah. Energinya seperti diporsir habis tanpa merasa perlu beristirahat.


Hingga siang menjelang ketika mata hari mulai meninggi dan condong ke sebelah barat, Andhira masih berjibaku dengan segudang aktifitasnya. "Ahh, aku harus mengganti seprai dan semua keset di rumah ini," ujarnya, kemudian langsung mengerjakan apa yang terlintas di dalam pikirannya.


Hingga waktu makan siang tiba. Daffa pulang karena mencemaskan Andhira, sekaligus ingin menjemputnya untuk makan di luar. "Dhira ...," serunya sembari membuka sepatu.


"Aku di sini, Mas," jawab Andhira sambil mengelap meja kaca yang ada di ruang tamu.


Daffa tersenyum seraya menghampiri Andhira. Tapi, selekas itu Daffa dibuat mengerutkan dahi oleh apa yang dilihatnya. "Dhira, apa yan sedang kamu lakukan?" tanya Daffa penuh selidik.


"Merapikan rumah, Mas," jawabnya singkat.


"Dhira sayang, sudah cukup! Lihat, tubuhmu sudah penuh keringat begitu. Kenapa tidak istirahat saja? Kamu merapikan rumah ini sejak tadi, ya?"


"Aku tidak apa-apa, Mas. Lagi pula aku sudah terlalu banyak beristirahat," jawab Andhira.


"Baiklah, sekarang berhenti. Kamu pasti lelah."


Andhira memang sedang ada di fase mania (naik). Hal itulah yamg menjadiknnya sangat enerjik dan melakukan banyak perkrjaan sekaligus. Itu haruslah dikendalikan, karena kalau tidak, tubuhya bisa sangat kelelahan, walau dia tidak langsung merasakannya saat itu juga.


Daffa memeluk Andhira dan membelai pucuk kepalanya. "Istirahat dulu, ya. Setelah itu kamu mandi, oke!"


"Baik, Mas."


"Aku tidak mau kamu kelelahan, mengerti?"


"Iya, aku mengerti, Mas."


"Pintar," puji Daffa seraya mencium pipi Andhira.


Daffa membimbing Andhira untuk duduk di sofa. Pandangannya pun tak pernah lepas dari Andhira. Daffa tampak telah jatuh hati sejatuh-jatuhnya terhadap Istrinya itu.


"Emm, Mas ... Kamu tidak kembali ke tempat kerja?" tanya Andhira gugup.


"Dia pasti mau aku pergi, huuh. Padahal, aku sedang sangat ingin," batin Daffa.


"Mas," ulang Andhira menunggu jawaban.

__ADS_1


"Ahh, tidak. Aku sudah mendapatkan izin dari atasan," jawab Daffa.


Andhira seketika terdiam setelah mendengar jawaban Daffa. "Kalau begitu, aku mandi dulu, Mas. Badanku lengket semua," ujar Andhira seraya bergegas.


Daffa hanya diam tak bergeming. Lalu, tersenyum membersamai pikiran nakalnya yang liar. Selekas itu, Daffa pergi menyusul Andhira dan menanggalkan semua pakaian formal yang dikenakannya.


"Dhira, buka pintunya," seru Daffa sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Dari dalam kamar mandi, Andhira mengernyitkan dahinya. "Ada apa, Mas?" teriaknya saat itu.


"Kamu melupakan sesutu," kata Daffa berbohong.


"Apa yang kulupakan? Rasanya tidak ada," gerundal Andhira sambil berusaha mengingat-ingat.


"Maaf, tapi aku tidak melupakan apapun, Mas," balasnya lagi.


"Lalu, ini apa? Cepat buka saja dulu pintunya!" sambung Daffa masih berteriak dari luar kamar mandi.


"Ahh, ada-ada saja!" cicit Andhira merasa terganggu.


"Apa sih, Ma ...."


Belum juga sempat Andhira menyelesaikan kalimatnya, Daffa sudah mendorong tubuh Andhira masuk ke dalam. Lelaki itu juga melepaskan handuk yang melilit di tubuh Andhira hingga kini Istrinya itu tampak polos bagai bayi yang baru lahir. Andhira berusaha melepaskan diri, tapi apa daya tenaganya kalah kuat oleh Daffa.


"Suutttt, diamlah, Sayang!" tandas Daffa seraya menatap buas pada Andhira.


"Iihh, menyebalkan! Mau apa sih, Mas?"


"Aku mau kamu, Sayang," jawab Daffa dengan senyuman nakal. Sementara itu, tubuh Andhira sudah terpepet ke dinding kamar mandi dan dikunci oleh tubuh Daffa yang tinggi dan kekar.


Lalu, Andhira yang terus protes dan memberi penolakan terhadap Daffa, seketika menjadi diam saat merasakan lembah surgawinya disusuri oleh sapuan lembut dari lidah Daffa. Setelah itu, Daffa kembali bangkit dan menyetel shower yang memayungi di atas kepala mereka.


Gemericik air itu menambah syahdu suasana. Segala penat jiwa Daffa meluruh sudah setelah mencumbui Andhira. Tidak tahu mengapa? Daffa semakin tidak bisa menahan diri saat berada di dekat istrinya. Hingga satu jam kemudian, mereka pun sampai di garis finish permainan.


"Aku sangat mencintaimu, Dhira," lontar Daffa denga tatapan berbinar terbakar api asmara.


Andhira hanya menatap datar sembari mengulang kembali mandinya. "Kamu membuat waktu mandiku menjadi panjang, Mas!" tegasnya.


"Apa kamu marah padaku, hum?"


"Tidak! Tapi, aku jadi melewatkan sesuatu," ujar Andhira.


"Benarkah? Apa itu?"


"Aku belum masak untuk makan siang," terang Andhira.

__ADS_1


CUP!


Sebuah kecupan menjadi balasan dari Daffa atas kata-kata Andhira. "Jangan risau, Sayang. Nanti kita pesan delivery order saja," hibur Daffa.


"Bisa tolong bantu aku menggosok punggungku?" ujar Daffa dengan maksud meminta.


Andhira mengambil spons mandi dan mulai menggosok lembut punggung Suaminya tersebut. "Apa yang terjadi pada hidupku ini, Tuhan? Mengapa semuanya begitu sulit untuk aku mengerti?" bisik Andhira di dalam hati.


Beberapa menit berlalu, mereka pun telah selesai dengan aktifitas mandi plus-plusnya. Dan sekarang, keduanya sedang berganti pakaian bersama. Daffa selalu mencuri pandang pada Andhira, tapi justru Wanita itu bersikap biasa saja. Sangat dingin, sedingin salju.


"Oughh! Kenapa sangat sulit sekali dibuka?" gerundal Andhira sembari berusaha untuk membuka tutup botol lotion yang baru.


"Kenapa, Sayang?"


"Ini ... aku kesulitan membukanya, Mas," dumal Andhira.


"Sini, biar aku membantumu untuk membukanya," tutur Daffa dan langsung mengambil botol lotion tersebut.


"Ini tidak perlu dibuka sebenarnya," terang Daffa.


"Lalu?"


"Kamu hanya perlu sedikit memutar, lalu menekan tutupnya. Seperti ini," tunjuk Daffa seraya memberitahu caranya pada Andhira.


"Ooh, begitu ... kenapa aku begitu bodoh?" lontar Andhira.


"Tidak, Sayang! Jangan berkata seperti itu. Kamu tidak bodoh, hanya belum tahu saja."


Andhira tertegun menatap Daffa. "Tolong jangan tunjukkan pehatianmu dan kebaikanmu, Mas. Jika hal itu hanya akan menjadikan awal dari perlakuan burukmu lagi," batin Andhira.


"Entah sampai kapan aku harus berjuang untuk mendapatkan lagi rasa percayamu, Dhira. Setiap kali aku mengutarakan perasaan cintaku padamu lewat ucap maupun sikap, yang kudapat hanyalah keraguan yang terpancar dengan jelas di sorot matamu. Mungkin inilah cara Tuhan, membuatku menebus semua dosa yang telah aku lakukan padamu sebelum ini. Aku harap, suatu saat kamu akan tersenyum dan menjawab kata cintaku dengan 'aku juga mencintaimu, Mas'." Daffa bergelut dengan pikirannya.


Bersambung ....


Andhira kembali melukiskan perasaannya lewat sketsa gambar nih, guys. Tepatnya, itu ungkapan rasa sedihnya saat ditinggal ayahnya pulang menghadap Ilahi.👇



Mampir juga ke karya keren punya temen othor, ya.


Judul : Drama Wife


Author : Rima Junaina


__ADS_1


__ADS_2