
Seketika sukma Andhira melayang jauh menembus lapisan awan. Suara benturan itu memekik gendang telinganya hingga terasa bagai sebuah hantaman. Dia menutup kedua telinganya itu dengan tangan sembari memejamkan mata.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Daffa yang seketika itu juga menghentikan laju mobilnya.
Andhira diam tidak menjawab. Tampaknya dia sangat syok menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Ya, sebuah truk bertabrakan dengan satu kendaraan roda empat lain dan itu terjadi tepat di depan mobil Daffa yang jaraknya hanya berkisar sepuluh meter saja.
"Kemarilah, Dhira. Semuanya akan baik-baik saja." Daffa memeluk Andhira untuk menenangkannya.
Tidak lama setelah itu, suara sirine terdengar ramai di sana. Andhira semakin panik dibuatnya. Akhirnya, Daffa memutuskan untuk segera melajukan mobilnya kembali dan meninggalkan lokasi kejadian.
"Tenanglah, Sayang, sebentar lagi kita sampai," tutur Daffa sambil berusaha fokus menyetir mobilnya.
Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh itu menjadikan terasa lama bagi Andhira, karena adanya insiden kecelakaan tersebut. Hingga saat mereka tiba di rumah, dia masih saja menutup mata dan telinganya. Tidak ingin membuat Andhira semakin panik, Daffa pun langsung menggendong tubuh Istrinya itu dan masuk ke dalam.
"Dhira, buka matamu. Tak apa, kita sudah sampai di rumah," terang Daffa.
"Aku takut ...," lirih Andhira.
"Semuanya sudah aman, Sayang."
Andhira pun membuka matanya dengan perlahan. "Ouugh ... jantungku nyaris terlepas," lontar Andhira dengan napas tersengal.
"Tunggu di sini! Aku akan mengambilkan air minum untukmu," titah Daffa, lantas bergegas.
Andhira duduk di sebuah sofa menunggu Daffa yang mengambilkan air minum untuknya. Tiba-tiba saja, ada yang mencuri perhatiannya. Dia pun bangkit dan berjalan mendekati dinding.
"Aku memajang semua foto pernikahan kita. Apa kamu menyukainya?" ucap Daffa yang sudah berdiri di belakang Andhira, dengan segelas air putih di tangannya.
Andhira menoleh kepada Daffa, lalu mengulas senyuman. "Apa semua ini sudah tidak mengganggu pemandangan lagi bagimu?" cetus Andhira masih tidak percaya.
"Minumlah dulu," seloroh Daffa seraya membimbing tangan Andhira menuju sofa.
"Duduk dan minum ini," ujarnya sembari memberikan air minum itu kepada Andhira. Andhira pun meneguknya hingga habis.
"Dhira, aku tahu mungkin ini sulit dipercaya."
"Apa yang sulit dipercaya, Mas?" tanya Andhira dengan tatapan menyelidik.
"Perubahan yang ada padaku. Lelaki yang ada di hadapanmu sekarang ini, bukanlah Daffa yang dulu. Tuhan telah memberiku pelajaran dengan menjadikan aku jatuh hati padamu. Aku menerima akibat itu. Akibat dari perbuatanku yang semena-mena terhadapmu."
"Sudahlah, jangan ingatkan aku lagi, Mas. Bisakah kita membahasnya lain kali saja?"
"Baiklah, ayo ke kamar dan istirahatlah!" kata Daffa yang langsung membopong Andhira.
"Turunkan aku, Mas. Aku bisa berjalan sendiri," ronta Andhira.
__ADS_1
Daffa tidak mengindahkan ucapan Wanita pemilik hidung mancung tersebut. Sampai akhirnya, mereka pun masuk ke dalam kamar. Dan lagi-lagi, Andhira melihat sebuah bingkai foto pernikahan mereka di atas meja nakas yang terletak di kamar itu. Dia menghela napasnya panjang.
"Aku tidak perduli akan sesulit apa kamu menerima perubahanku, Dhira. Aku tidak akan menyerah dan akan terus berjuang hingga luka di hatimu sembuh seutuhnya," batin Daffa.
"Istirahat dulu, ya. Aku akan memasak sesuatu. Kita belum makan siang juga 'kan!" tandas Daffa."
"Mas, aku tidak lelah. Apa aku boleh membantumu memasak?" ujar Andhira.
Daffa duduk di bibir ranjang dan membelai lembut pucuk kepala Andhira. "Apa kamu yakin?" tanyanya.
"Apa Mas keberatan?"
"Ahh, tidak sama sekali. Aku hanya khawatir kamu akan kelelahan," ungkap Daffa. Andhira terdiam.
"Taoi, kalau itu mau kamu, ayo kita masak bersama," ajak Daffa dengan rekah senyum yang mengembang.
"Tuhan, aku tidak tahu apakah Istriku sedang ada di fase normalnya atau tidak! Tapi, tolong jangan biarkan aku lengah dalam menjaganya. Aku akan berusaha sekuat yang aku bisa," bisik hati Daffa.
Daffa menggandeng tangan Andhira dan mereka melangkah beriringan ke arah dapur. Sesampainya di sana, Andhira terpukau melihat dapur yang sangat bersih dan rapi. Dia menatap Daffa dengan sorot mata penuh tanya.
"Aku membereskan semuanya saat kamu di rumah ibu," jelas Daffa seolah tahu isi hati Andhira.
Andhira mengangguk dan menghargai hal itu. Dia bergerak membuka lemari es, dan kembali dibuat senang dengan apa yang dilihatnya. "Apa Mas juga belanja untuk memenuhi stok makanan?"
Daffa mengisi lemari es itu dengan lengkap, mulai dari sayuran, buah-buahan, dan bahan makanan lainnya. Itu adalah hal yang wajar dan sederhana. Akan tetapi, menjadi sangat istimewa saat dilakukan oleh Daffa yang sebelumnya selalu bersikap buruk pada Andhira.
"Kamu ingin masak apa hari ini?" tanya Daffa.
"Tidak tahu, aku bingung. Bagaimana kalau soto ayam?" balas Andhira kembali bertanya.
"Prosesnya terlalu lama untuk aku yang sudah lapar, Sayang, tapi kalau itu membuat kamu senang ... tidak apa-apa. Aku akan sabar."
"Kalau begitu masak air saja biar cepat, Mas!"
"Hahaha ... Dhira, kamu membuatku tergelitik. Baiklah, masak apa saja terserah kamu," urai Daffa.
"Bukankah aku harus berkorban? Oke! Aku rasa ini tidak sulit," batin Daffa mengingatkan dirinya sendiri untuk bersabar.
"Tidak jadi, Mas. Kita masak yang bisa matang dengan cepat saja." Putus Andhira.
"Syukurlah, ternyata dia sangat pengertian," gumam Daffa pelan.
"Kanapa, Mas?"
"T-tidak ... ayo kita lanjut memasak.
__ADS_1
Lalu, sajian sederhana pun menjadi menu makan mereka kala itu.
***
"Bagaimana perasaanmu? Apa lebih baik?" tanya Daffa sembari memiringkan posisi tidurnya menghadap Andhira.
"Mungkin iya," jawab Andhira pelan.
"Mungkin?"
"Aku tidak bisa memastikannya," imbuh Andhira lagi.
"Oke, tak apa, Sayang," sambung Daffa, lantas menyinggingkan senyuman.
"Mas ...," lirih Andhira.
"Hmmm, ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?"
"Tidak, bukan itu, Mas!"
"Lalu apa? Katakan saja aku akan mendengarkan."
"Apa aku tidak menjadi noda dalam hidupmu?" lontar Andhira dengan mata berkaca-kaca.
"Hey, tentu saja tidak. Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Daffa seraya mengusap lembut pipi Andhira.
"Tapi, aku mengidap penyakit mental, Mas. Apa kamu tidak malu kalau orang-orang tahu tentangku?"
Daffa terdiam sembari menelan perih yang terasa mengiris di dalam dadanya. "Aku malu, Dhira," jawab Daffa dengan napas yang seakan tertahan.
"Lantas, kenapa tidak kamu lepaskan saja aku, Mas? Ketimbang menjadi noda yang mengotori hidupmu dan juga membuat kamu merasa malu."
"Aku malu bukan karena kamu mengidap penyakit itu, tapi karena akulah penyebab dari terjadinya gangguan emosi yang kamu alami. Kamu tahu rasanya seperti apa saat aku mengingat semua dosaku itu, Dhira?"
Andhira menggelengkan kepala sembari menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha menahan agar suara tangisannya tidak terdengar sampai keluar. Meski begitu, lelehan air mata terus saja membanjiri pipinya.
"Rasanya seperti menggenggam sebilah mata pisau yang sangat tajam. Semakin erat aku menggenggamnya, semakin dalam pisau itu melukai tanganku. Semakin teringat aku pada kesalahanku, semakin perih luka yang aku rasakan," urai Daffa dengan mata yang mulai mengembun.
"Terkadang aku merasa hidupku tidak berguna sama sekali, Mas. Seringkali beban pikiran menekanku hingga jauh ke titik terendah. Dan itu membuatku tidak percaya diri," papar Andhira.
"Tidak, Sayang ... kamu berarti lebih dari segalanya. Kamu telah mengalami banyak kesulitan karenaku. Sekarang, izinkan aku menyusun kembali serpihan hati yang tinggal kepingan itu. Bukankah tidak ada yang mustahil selama kita percaya," tutur Daffa.
Daffa meraih tangan Andhira dan menciumnya dalam-dalam. Suasana di kamar itu ramai dipenuhi macam-macam perasaan. Tangis dan senyum, semangat dan kelemahan, bahkan sakit dan sesal pun turut hadir mewarnai malam mereka.
Bersambung ....
__ADS_1