IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 36 Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Aku tidak tahu, apakah tali pernikahan ini akan memberi kekuatan untukku? Atau justru menjadi sesuatu yang akan membuatku terbunuh secara perlahan. Pahit, getir, dan kesakitan yang aku sesap ini membuat hidupku terasa tidak beguna. Kesadaranku seperti bayang-bayang yang perlahan mulai meninggalkanku ketika gelap datang. Yang tersisa hanyalah raga yang kosong. Sebab, rasaku telah dipaksa mati sebelum sempat terlahir." Andhira tenggelam di dalam pelukan Daffa dan hanyut oleh alunan suara hatinya sendiri.


"Dhira, aku mencintaimu," ucap Daffa tiba-tiba saja. Kalimat yang sederhana pengucapannya, tetapi begitu dalam maknanya itu terdengar begitu ringan terurai dari mulutnya.


Andhira melepaskan pelukan Daffa dan berganti menatapnya. "Jangan membungkus rasa kasihanmu dengan kata cinta, Mas," lontar Andhira dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa, Dhira? Apa kamu tidak percaya pada cintaku? Apa aku tidak pantas mengutarakannya? Ya, aku tahu aku telah banyak menyakitimu. Itu kesalahan terbesarku, dan aku menerima hukumannya sekarang," tutur Daffa putus asa.


"Mas, pernahkah kamu mendengar peribahasa bahwa perempuan itu laksana cermin? Itu sangatlah benar, Mas. Saat kamu memperlakukannya dengan hati-hati cermin itu akan memantulkan bayangan yang sempurna. Akan tetapi, saat kamu memperlakukannya dengan buruk, maka bersiaplah untuk melihatnya retak, pecah, bahkan mungkin hancur berkeping-keping. Kamu mungkin bisa menyusun serpihan cermin itu kembali. Namun, pantulannya tidak akan pernah bisa utuh lagi. Begitu juga aku, Mas."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku, Dhira?"


"Aku tidak tahu pasti, Mas. Hanya waktu saja yang bisa menjawabnya. Berjuanglah jika Mas mampu. Semoga di akhir perjuanganmu, aku masih bisa menyambutmu. Kalau tidak ...."


"Kalau tidak apa, Dhira?"


"Kalau tidak, maka ikhlaskan aku pergi, Suamiku."


"Tidak, itu tidak boleh terjadi. Bukankah setiap orang berhak atas kesempatan kedua? Benar 'kan?"


"Sayangnya, tidak semua orang masih ada saat kesempatan itu datang lagi. Asal Mas tahu, sebenarnya kesempatan selalu datang, kitanya saja yang lalai. Hingga saat kesempatan terakhir datang, kebanyakan orang mengatakan bahwa itu adalah kesempatan kedua."


"Apa maksudmu, Dhira? Aku semakin tidak paham. Apa kamu sedang mengatakan bahwa aku telah mengabaikan banyak kesempatan, begitu?"


"Apa kamu tersinggung dengan perkataanku tadi, Mas? Bersyukurlah untuk itu."


"Kenapa begitu, Dhira? Jelaskan padaku!"

__ADS_1


"Karena itu adalah bukti bahwa hatimu tidak mati. Jangan sampai hal yang aku alami terjadi kepadamu, Mas."


"Apa lagi itu, Dhira? Mengapa bicaramu penuh teka-teki?"


"Kamu ingin tahu apa yang terjadi pada hatiku saat ini?"


"Katakan saja karena aku harus tahu!" tandas Daffa.


"Hatiku telah mati, Mas. Tidak bisa lagi merasakan apa-apa kecuali luka dan kesakitan saja."


Daffa mulai merasa kalah telak atas semua kata-kata Andhira. Sekarang, dia hanya bisa diam termenung sembari memikirkan semua ucapan Istrinya itu. "Aku telah salah meremehkannya selama ini," bisik hati Daffa.


***


Di bilik rumah Salamah. Dia sedang gelisah menunggu kedatangan seseorang yang sempat dia hubungi di telepon sebelumnya. Raut wajahnya itu tampak penuh kecemasan.


"Maaf, Bu, Nindi agak terlambat," ucap Orang itu.


Ya, namanya Nindi. Dia merupakan Kakak pertama Andhira. Nindi sudah berkeluarga dan tinggal terpisah dengan ibunya, Salamah. Sebagai anak pertama Nindi banyak berperan dalam segala urusan mengenai keluarganya. Termasuk, perannya yang turut andil dalam menjodohkan Andhira dengan Daffa.


"Duduk dulu, Nak," titah Salamah mempersilakan Anak sulungnya tersebut.


"Sebenarnya apa yang ingin Ibu bicarakan? Sepertinya ini sangat serius ya, Bu?"


"Ini perihal adikmu, Andhira. Ibu baru saja berkunjung dari rumahnya," beber Salamah.


"Lantas, apa yang terjadi dengan Dhira, Bu?"

__ADS_1


"Ibu lihat keadaannya sangat mengkhawatirkan, Nak. Wajahnya pucat dengan tatapan yang kosong. Bahkan, dia hanya diam saja saat Ibu ada di sana," imbuh Salamah menjelaskan.


"Memangnya tidak Ibu tanyakan pada suaminya, Bu?"


"Sudah, Nak, tapi dia saja bingung."


"Apa mungkin sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada Andhira, Bu?"


"Ibu juga sudah menanyakan hal yang sama pada Daffa."


"Lalu, apa katanya, Bu?"


"Dia hanya diam saja," jawab Salamah sembari menunjukkan wajah lesu.


"Begini saja, Bu. Nanti Nindi akan mencoba bicara dengan Daffa untuk mencari tahu. Ibu tidak usah khawatir, ya," bujuk Nindi menenangkan Salamah.


"Terima kasih ya, Nak," ucap Salamah dengan perasaan lega.


"Sama-sama, Bu," balas Nindi.


Obrolan pun terus berlanjut. Hingga tiba saatnya Nindi berpamitan untuk pulang kepada Salamah. Nindi juga berpesan sekali lagi pada Salamah, agar ibunya tersebut tidak terlalu berpikir berat.


Kembali kepada Daffa dan juga Andhira. Di ruangan kamar itu, mereka masih setia pada kegundahannya. Sampai Daffa melakukan sebuah usaha agar Andhira bersedia menerima perasaan cintanya. Dia benar-benar telah dibuat tidak berdaya oleh pikirannya sendiri.


"Aku tidak akan pernah mengikhlaskan kepergianmu, walau itu hanya sekedar niat, Dhira!" tandas Daffa seraya mengungkungi tubuh Andhira.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2