
"Apa aku membuatmu terkejut, huh?" tanya Daffa seraya mengitari Andhira yang tengah berdiri.
Andhira tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya memejamkan matanya dan pasrah pada kemungkinan, bahwa Daffa akan menyiksanya lagi. Namun, ternyata saat itu Daffa tidak memukul atau menyakiti fisik Andhira. Lelaki itu membawa Andhira ke meja makan.
"Makanlah sebelum dingin," seloroh Daffa menunjuk pada seporsi makanan yang sepertinya dia beli dari luar.
Sontak saja, Andhira merasa heran. Dia mengerutkan dahinya sembari menatap Daffa penuh tanya. Sekali lagi, Andhira merasa tidak percaya dengan perhatian yang tiba-tiba Daffa beikan.
"Kenapa ragu? Apa kamu takut aku meracunimu?" tanya Daffa dengan suara beratnya yang khas.
"T-tidak, Ma ...," lidah Andhira tercekat melihat Daffa yang mencicipi makanan itu terlebih dahulu.
"Kamu lihat? Aku tidak meracunimu. Makanan ini aman," tandas Daffa.
Andhira mengangguk sembari meneguk kasar salivanya. Dia pun duduk di kursi yang telah ditarikkan oleh Daffa untuknya. "Kamu tidak makan, Mas?" tanya Andhira denga sangat hati-hati.
"Aku sudah makan lebih dulu saat menunggumu pulang," jawab Daffa sambil tak melepas pandangannya dari Andhira.
__ADS_1
"Apa dia benar-benar sudah berubah baik sekarang? Ahh, masa bodoh ... aku tidak ingin merusak suasana ini dengan pikiran yang macam-macam," gerutu Andhira di dalam hati.
"Apa kamu menyukai makanannya?" sela Daffa di tengah asyiknya Andhira menikmati makanan itu.
"Iya, Mas, ini sangat enak," komentar Andhira seraya mengulum senyum di bibir indahnya.
Daffa membalas senyumnya sambil mengangguk pelan. "Bagus," batin Daffa.
Setelah selesai makan, Andhira pun meminum segelas air yang juga telah disediakan oleh Daffa. Lalu, dia minta izin pada Daffa untuk membersihkan badannya yang terasa lengket setelah bepergian tadi. Wanita yang sebenarnya tengah was-was pada sikap Daffa itu berbicara dengan nada yang sangat rendah dan penuh kehati-hatian.
"Hmmm, kamu boleh melakukannya," jawab Daffa memberikan izinnya.
Jujur saja, mendapat perlakuan baik seprti itu Andhira tidak bisa menampik bahwa dirinya merasa senang. Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, Andhira pun berggegas untuk mandi agar tubuhnya segar. Rasa sedih yang sebelumnya melanda Andhira, kini mulai mereda.
Beberapa saat berlalu, dan kini Andhira pun sudah tampak segar. Dia tengah sibuk mngoleskan lotion pada kaki dan tangannya, sambil sesekali menghirup aroma lotion yang harum menyeruak indera penciumanya. Di tengah asyiknya memberikan perawatan sederhana pada kulitnya tersebut, tiba-tiba saja Daffa muncul menyusul Andhira ke kamar. Andhira langsung menurunkan kaki yang semula dia naikkan ke atas kursi yang ada di depan meja riasnya.
Daffa tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun, dia sibuk berbicara melalui sorot matanya yang menggambarkan kekaguman pada molek tubuh Andhira. "Ayolah, aku sudah tidak sabar menunggunya," batin Daffa yang menatap lurus ke arah Andhira dari tepi ranjang.
__ADS_1
Andhira bisa melihat bayangan Daffa dari pantulan cermin. "Apa yang sedang dipikirkannya?" bisik hati Andhira bertanya-tanya.
Sekian menit berlalu, Andhira merasakan ada yang aneh pada dirinya. Itu benar-benar sangat aneh dan belum pernah Andhira alami sebelumnya. Wanita berambut lurus tergerai itu merasakan sekujur tubuhnya seperti panas dan menuntut untuk dijamah. Hal itu membuatnya begitu risih dan tidak nyaman.
Dari tepi ranjang, Daffa menyeringai melihat reaksi Andhira yang mulai menunjukkan gelagat yang tidak biasa itu. "Ini yang aku tunggu-tunggu," gumam Daffa seraya tersenyum licik.
Kemudian, Daffa menghampiri Andhira yang masih duduk di depan meja riasnya. Dia mulai menyentuh Andhira dengan cara yang sarat rayuan. Anehnya, Andhira tidak menolaknya sama skali. Padahal, biasanya dia akan teringat pada sikap kasar Daffa, setiap kali Daffa menyentuhnya. Namun, saat ini hal itu tidak berlaku.
"Layani aku dengan benar malam ini," bisik Daffa, lantas membimbing Andhira untuk berpindah ke tempat tidur.
Malam itu, menjadi saksi terjadinya pergulatan sengit di antara sepasang suami istri tersebut. Andhira tidak lagi memikirkan hal lain kecuali ingin Daffa menyentuhnya lagi dan lagi. Tentu saja, Lelaki pemilik rahang tegas itu merasa telah mendapatkan apa yang diinginkannya.
Apa itu sesuatu yang salah? Tentu saja tidak. Mengingat, mereka berdua memang sudah resmi dan sah menjadi sepasang suami istri. Mereka bebas melakukannya tanpa perlu merasa takut. Namun, kejanggalan memang begitu terasa di sini. Ingin tahu kenapa? Jawabannya, karena ternyata Daffa telah memasukkan obat peraangsang ke dalam minuman Andhira. Semua itu dia lakukan untuk mendapatkan kepuasan dari Andhira. Dan alasannya pergi untuk beberapa hari seperti yang telah dia katakan sebelunnya, itu hanyalah alibi saja. Daffa memang sudah merencanakan jebakan tersebut untuk Andhira agar dia menemukan waktu lengang saat melancarkan tipuan yang dia siapkan. Bahkan, Daffa sengaja menitipkan mobil di rumah teman kerjanya, agar kehadirannya saat itu tidak diketahui Andhira.
Malam itu menjadi malam untuk sebuah keberhasilan bagi Daffa
Bersambung ...
__ADS_1