IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 43 Senang Bisa Memelukmu Lagi


__ADS_3

Kejadian dini itu dapat ditangani dengan baik. Hingga Andhira pun kembali ke periode normalnya. Dia bahkan terlihat antusias menikmati sarapan di pagi harinya tanpa drama.


"Dhira, setelah makan siap-siap, ya. Kita akan bertemu dengan dr. Chatra. Mbak sudah membuat janji dengan beliau pukul 09.00." Nindi bertutur dengan sangat lembut.


"Baik, Mbak," jawab Andhira singkat.


Beberapa saat setelah menyelesaikan sarapannya, Andhira pun bersiap-siap. Lantas, Nindi mengajaknya pergi bersama untuk menemui dr. Chatra, seorang dokter spesialis jiwa atau lebih sering disebut psikiater. Kebetulan, dr. Chatra sendiri adalah teman dari Nindi dan suaminya, Adi.


"Nin, benar kalian tidak apa-apa hanya pergi berdua saja? Ibu tidak boleh ikut?"


"Tidak apa-apa, Bu. Nindi sudah kenal lama 'kok dengan dr. Chatra, jadi semuanya akan lebih mudah. Lagi pula, Ibu pasti lelah. Ibu istirahat saja di rumah dan doakan Dhira ya, Bu," tutur Nindi santun.


"Baiklah, Nak. Kalian hati-hati, ya," pesan Salamah.


"Dhira sayang Ibu," ungkap Andhira seraya menghambur ke dalam pelukan Salamah.


"Ibu lebih sayang padamu, Nak," balas Salamah.


"Ayo kita berangkat," ajak Nindi pada Andhira.


Mereka pun pergi menemui dr. Chatra menggunakan jasa taksi.


***


Dari kejauhan, Daffa menatapi rumah Salamah. Ada keinginan untuk menemui Andhira yang mendorong dirinya datang ke sana. Rasa rindu yang bergejolak terus saja merajam batin Daffa.


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang. Entah aku akan diterima atau terusir nantinya, aku sudah tidak perduli. Yang aku mau sekarang adalah melihat wajah istriku," gumam Daffa dari dalam mobilnya.


Setelah mengumpulkan segenap kebernian, Daffa melajukan mobilnya lebih dekat dan maju sampai ke rumah Salamah. Dia turun dan mengetuk pintu setelah sampai di sana. Kala itu, terlihat Salamah yang membukakakan pintu untuk Daffa.

__ADS_1


"Daffa ... silakan masuk," sambut Salamah tanpa senyuman.


"Terima kasih, Bu," ucap Daffa.


Mereka pun duduk di ruang tamu. Mata Daffa terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Sepertinya, dia sedang mencari keberadaan seseorang.


"Ada apa, Nak?" lontar Salamah yang seketika membuat Daffa berhenti memindai ruangan itu.


"Ee, istri Daffa kemana, Bu?" gagapnya.


"Apa Mbakmu tidak mengabari? Hari ini mereka menemui psikiater," kata Salamah yang tampak tidak seperti biasanya.


Daffa tertegun seakan sukmanya melayang. "Dhira ...," lirihnya.


"Iya, Nak Daffa. Andhira memerlukan psikiater untuk mengatasi depresinya!" tandas Salamah dengan nada penekanan.


"Apa Daffa masih boleh bertemu Andhira, Bu?" tanya Daffa dengan sangat hati-hati.


"Itu semua tergantung Andhira, Nak Daffa. Kalau dia berkenan untuk bertemu dengan kamu, kenapa tidak? Kalian juga masih sah sebagai suami istri 'kan!" papar Salamah.


"Aku malu pada diriku sendiri, Bu," batin Daffa sambil menunduk dalam-dalam.


"Daffa boleh menunggu Andhira, Bu? Atau bisakah Ibu memberikan alamat dokter yang Dhira kunjungi agar Daffa bisa menjemputnya?" mohon Daffa.


"Tidak perlu menyusul, Nak Daffa. Tunggulah saja di sini," usul Salamah.


"Baik, Bu, terima kasih."


Daffa menerima saja diperlakukan tidak biasanya oleh Salamah. Karena Daffa sadar akan perbuatannya pada Andhira. Daffa memaklumi sikap Ibu Mertuanya itu. Meski rasa sakit menjalar menampar perasaannya.

__ADS_1


"Kalau begitu silakan menunggu ya, Nak. Ibu akan membuatkan kamu minum dulu," ujar Salamah seraya bergegas. Daffa mengangguk dan membiaskan senyuman di bibirnya.


Setelah menyuguhkan satu cangkir teh dan satu piring berisi irisan kue bolu, Salamah berpamitan pada Daffa untuk memasak. Kini, di ruang tamu itu hanya ada Daffa seorang. Menanti Andhira dengan harap-harap cemas.


Dua jam kemudian, Andhira pun datang bersama Nindi. Daffa langsung berdiri menyambut Istri yang sudah sangat dia rindukan itu. "Dhira ...," lirihnya.


Nindi menatap Daffa dan Andhira secara bergantian. Sebagai orang dewasa, Nindi mengerti gelagat Daffa yang sepertinya ingin mengekpresikan perasaannya pada Andhira. Walaupun mimik wajah Andhira tampak datar dan biasa saja.


"Daffa, tolong antarkan Andhira ke kamarnya. Aku akan menemui Ibu. Kamu tahu Ibu di mana?" ujar Nindi.


"I-iya, Mbak. Ibu ada di dapur." Betapa bahagianya hati Daffa mendapat kesempatan itu.


"Ayo, Sayang," ajak Daffa seraya menautkan tangannya pada Andhira dan berjalan menuju ke kamar.


Setelah berada di ruangan kamar, Hati Daffa berdebar kencang seperti ada perasaan yang ingin dia salurkan terhadap Andhira. Tanpa menunggu lagi, Daffa langsung memeluk dan menciumi seluruh permukaan wajah Andhira dengan penuh perasaan.


"Aku merindukanmu, Dhira," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.


Daffa tidak perduli jika kerinduannya itu tidak bersambut indah. Karena sedari tadi Andhira hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun. Yang jelas, Daffa sudah cukup senang bisa memeluk dan menatap Andhira secara nyata, bukan sekedar angan-angan semata.


Daffa menggendong tubuh Andhira dan membawanya ke atas kasur. "Sayang, aku senang bisa melihatmu dan memelukmu lagi," ucap Daffa sambil membelai pucuk kepala Andhira dengan lembut.


Andhira menatap Daffa dalam diamnya. Dia memindai wajah Lelaki itu begitu lekat. Tiba-tiba saja, ada yang membuat matanya memejam dan terbuka secara bergantian.


Daffa menyentuh setiap bagian sensitif di tubuh Andhira penuh rayu. Dia melahap bibir Istrinya tersebut dengan sangat buas. Kejadian itu begitu cepat. Keduanya pun sudah tampak polos tanpa sehelai benang.


Andhira yang semula hanya diam saja. Sekarang mulai merespon dan membalas cumbuan Daffa terhadapnya. Desau erotis dan gerak tubuh yang sensual mewarnai permainan ranjang mereka.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2