IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 22 Spesial Untukmu


__ADS_3

Andhira turut hanyut terbawa suasana. Dia memejamkan mata dan membiarkan saja Daffa melakukan apa yang diinginkan. Hingga lama kelamaan Andhira pun memberi respon dengan membalas ciuman Daffa. Walau, sebenarnya akal Andhira menolak. Namun, tubuhnya berbuat lain.


"Bolehkah?" tanya Daffa berbisik.


Andhira ingin menjawab tidak, tapi dia malah mengangguk. Sungguh malu rasa hatinya. Namun, sikapnya mengatakan 'abaikan saja jangan dipikirkan'.


Satu jam sudah mereka bertempur di atas kasur. Dari semua yang pernah Daffa lakukan sebelumnya, percintaan ini yang paling manusiawi. "Terima kasih," ucap Daffa seraya mengecup lembut pucuk kepala Andhira.


Kemudian, keduanya sama-sama berbaring saling berhadap-hadapan. Daffa membelai pipi Andhira dengan sangat lembut. Senyuman indah pun terukir di bibir Lelaki yang biasanya hanya pandai memaki itu.


Tanpa terasa, Andhira memejamkan mata dan terlelap tidur saat Daffa masih memandangi wajahnya. Sementara itu, Daffa memilih bangun dan mandi. Kemudian, dia memasak makanan seperti janjinya tadi, sebelum akhirnya tertunda karena pertempuran yang berlangsung di antara dirinya dan juga Andhira.


Beberapa saat berlalu, Daffa pun sudah menyelesaikan masakannya. Jika biasanya Andhira yang melakukan itu, kali ini dia yang bergantian mengerjakan tugas Andhira. Ditatanya dengan rapi makanan itu di atas meja. Kemudian, dia kembali ke kamar untuk membangunkan Andhira.


"Dhira," bisik Daffa dengan sangat lembut. Namun, Andhira tidak bergeming.


"Dia tampak begitu kelelahan," imbuh Daffa.


"Ya sudah, aku akan menunggunya bangun," lanjut Daffa bicara sendiri.


Lelaki beralis tebal itu lantas pergi ke ruang tamu dan duduk di sana. Sembari menopang dagu, dia kembali teringat akan kata-kata Andhira yang seolah menamparnya dengan keras. "Apakah upayaku mengujinya selama ini sudah berlebihan?" batin Daffa sambil berpikir.


"Aku melihat tatapan benci yang membias dari sorot matanya tadi. Mungkinkah dia akan menerimaku dengan hati yang ikhlas, setelah semua perbuatan burukku terhadapnya? Ahh, siaal! Kenapa aku jadi terus memikirkannya?" gerundal Daffa.


Sedang sibuknya berperang dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba saja, Andhira muncul secara mengejutkan. Membuyar lamunan dan memecah keheningan yang sebelumnya memenuhi ruang tamu tersebut.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?" tanyai Daffa memberi perhatian.


Mendapatkan semua pertanyaan semacam itu, Andhira menekuk wajah mengerutkan keningnya. "Jangan percaya pada perhatiannya, Dhira. Dia hanyalah penjahat yang menjelma menjadi suamimu," batin Andhira merasa was-was.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" lontar Daffa yang melihat Istrinya itu hanya diam dan menunduk.


"T-tidak ada," jawan Andhira gugup sembari menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, ayo kita makan. Aku sudah memasak untuk kita."


Andhira mengangguk patuh. Lalu, Daffa menggandeng Andhira sampai ke meja makan. Ada capcay udang, telur mata sapi dan sambal di sana. Andhira tampak terpana. Pasalnya, dia tidak menyangka bahwa Lelaki yang selama ini dia ketahui berwatak keras dan kasar itu, ternyata pandai memasak.


"Makanlah, kenapa hanya diam saja? Apa kamu tidak menyukai menu makanannya?" ucap Daffa menatap Andhira.


"T-tidak," jawab Andhira terbata.


"Tidak, bukan itu. Maksudnya, aku sangat ee ...."


Daffa tersenyum seakan mengerti kegugupan Andhira. "Kamu tidak percaya aku bisa memasak?" terka Daffa membaca gelagat Andhira.


"Itu awalanya saja, tapi sekarang aku percaya," jawab Andhira salah tingkah.


"Aku membuatnya spesial untukmu."


Andhira tersedak mendengar kata-kata Daffa. Daffa segera menyodorkan segelas air putih padanya. Andhira pun meraih dan meneguknya dengan segera.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja, tidak ada yang sedang mengejar kamu," peringati Daffa yang membuat Andhira semakin tampak malu.


"Aku akan menghabiskan makanannya," cetus Andhira mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


***


Malam harinya, Daffa pamit ke luar untuk membeli sesuatu. Tinggalah Andhira saja yang ada di rumah itu. Dia sedang duduk di sebuah kursi, dengan tatapan mata yang kosong. Wanita itu terngiang pada cerita Maya, yang mengatakan bahwa dia sudah pernah menikah. Namun, karena ceritanya terpenggal oleh kedatangan Rere dan Fahri kala itu, Andhira jadi tidak tahu. Dengan siapa sebenarnya Maya pernah menikah? Apa mungkin dengan Daffa? Rasanya itu tidak mungkin.


[Dering telepon.]


Andhira mengambil ponselnya dari atas nakas. Dia melihat siapa yang meneleponnya dan ternyata itu Maya. Hati Andhira tiba-tiba berdebar dengan sangat cepat.


[Hallo, May.]


[Dhira, soal yang tadi siang itu ....] Maya tidak melanjutkan kata-katanya.


[Katakan saja, May. Aku akan mendengarkan,] ucap Andhira di sambungan telepon tersebut. Dia sudah ingin tahu, ada rahasia apa sebenarnya di balik sikap Maya selama ini?


[Dhira, sebenarnya aku sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki. Sudah dua tahun, aku tidak bisa bertemu dengan anakku sendiri. Mantan suamiku mengambil hak asuh atas anakku secara paksa,] papar Maya.


[M-Maya .... Apakah semua itu benar? Maafkan aku, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa atau melakukan apa pun juga.]


[Ya, Dhira. Semua itu benar adanya. Aku pernah trauma atas pernikahanku. Karena itu, aku bersikap agak sensitif jika mendengar atau melihat orang lain, terutama jika itu adalah orang yang dekat denganku menikah.]


Andhira menarik napasnya lega. Setidaknya, sikap Maya selama ini tidak ada sangkut pautnya dengan Daffa, suaminya.

__ADS_1


Bersambung ....


DUKUNG OTHOR POKOKNYA!!! AWAS KALO NGGAK! 😒 LOPE-LOPE .... ❤❤❤❤❤❤


__ADS_2